Jangan pernah mengatakan bahwa menunggu itu membosankan. Ingatlah kata-kata berikut.
Menunggu bukan berarti tidak berbuat apa-apa.
#hotd#helaena targaryen#daeron targaryen#daemon targaryen#aemond targaryen


seen from China

seen from Australia
seen from Türkiye
seen from China

seen from Morocco

seen from Germany

seen from Türkiye

seen from Russia

seen from United States

seen from United Kingdom

seen from Türkiye
seen from China
seen from United States
seen from Malaysia
seen from Türkiye
seen from Germany
seen from Tanzania
seen from United States

seen from China
seen from United Kingdom
Jangan pernah mengatakan bahwa menunggu itu membosankan. Ingatlah kata-kata berikut.
Menunggu bukan berarti tidak berbuat apa-apa.
tepi
izinkan aku menunggu di tepi.
karena aku masih yakin rasa akan kembali meski jaraknya kini jauh dari tepian.
izinkan aku menunggu di tepi.
karena aku masih berharap dalam posisi ini, meski sekedar siluet, ada yang selalu terlihat.
izinkan aku menunggu di tepi.
karena aku masih menanti waktu dimana aku menjadi orang yang pertama bersorak saat kepulanganmu.
sejauh itukah jarakmu dari tepi?
Aku menunggu bukan karena tidak ada pilihan lain, tapi karena diantara banyaknya pilihan, kamu tetap tidak tergantikan..
Jeda Yang Sering Terlewat
Di sela antrian pertamina, aku buka linimasa Berharap jeda jadi pengalih, bukan cermin luka Padahal di depanku, ada ibu kebingungan buka tangki Ada bapak menghitung rupiah, berharap cukup untuk hari ini
Aku scroll dunia yang jauh Padahal dunia nyata sedang menunduk, minta disapa Mataku sibuk mengejar kabar yang tak kenal nama Padahal ada doa berserakan, nyaris tanpa suara
Mungkin aku terlalu takut untuk diam Karena saat diam, pikirku jadi terlalu dalam Aku lupa, jeda bukan jeda kalau tak diisi makna dan sibuk bukan alasan untuk tak jadi manusia
Setiap detik yang kulewatkan demi layar Adalah detik yang tak pernah kembali Padahal bisa saja hari itu, aku jadi sebab ringan bagi sesama Tapi aku sibuk.. dengan dunia yang bahkan tak tahu aku ada
Pertanyaanku hanya satu, bagaimana caraku membawamu dalam cerita yang baru jika satu tanganmu masih menggenggam erat hati yang lain?
Hanya bisa menahan banyak hal dan rencana yang tak mungkin dapat dilakukan dalam dua nama di sudut hatimu yang berbeda. Hanya bisa menunggu, menunggu dan terus menunggu dengan batasan sikap yang aku jaga, agar tiada lagi yang kan terluka.
Dan jika itu dianggap peng-abaian terhadap semua yang telah kau lakukan, aku bisa apa selain diam dan menyimpan kecewaku sendirian..
Aku telah memilihmu, walau mungkin aku bukan menjadi pilihanmu.
Terima kasih untuk segala upaya yang telah diusahakan, untuk semua pengorbanan yang telah dilakukan, maafkan jika bagimu aku pernah mengabaikannya..
Katamu yang berat itu beban hidup, kataku yang berat itu melawan rasa semangat yang kian meredup.
Katamu yang berat itu rasa rindu, yang tak pernah peduli tempat dan waktu. Kataku yang berat itu menunggu, centang dua abu-abu yang tak kunjung membiru.
Padahal baru saja kau bikin status dua menit yang lalu.
Jika memang yang terbaik itu datangnya belakangan, aku tidak masalah untuk menunggu lebih lama sembari memperbaiki dan mendewasakan diri.
Juni: Bersabar Menunggu atau Bersabar Mengakhiri
Bulan Juni dimulai dengan 10 hari terbaik di siang hari Bulan Dzulhijjah dan dilengkapi dengan 3 hari tasyrik. Entah mengapa Idul Adha 1446 H kali ini terasa berbeda karena Allah izinkan dan mudahkan untuk lebih sadar dalam memaksimalkan waktu yang ada. Termasuk kemudahan untuk mendapatkan pengingat dan ilmu tambahan tentang betapa berharganya momentum awal Bulan Dzulhijjah ini. Alhamdulillahirabbil'alamiin.
Kisah dengan Aksar Amad juga masih berjalan dengan segenap dinamikanya. Aku dibuat kagum dengan proses taaruf yang satu ini karena usianya sudah satu kuartal. Sebuah pencapaian baru bagiku yang serba cepat mengambil keputusan. Kami memilih bertahan, mengisi hari-hari dengan tugas masing-masing. Belajar dan bertumbuh.
Hingga hari ini, hanya ada satu hal yang menjadi kendala kami yaitu jarak.
Demi mendekatkan jarak, kami perlu memilih. Di tengah ketidakpastian yang abstrak itu, muncul dua pilihan: menunggu hingga tahun depan atau menyudahi sementara proses yang saat ini berjalan?
Lantas, kami memutuskan untuk memilih yang kedua yaitu menyudahinya sementara jika dan hanya jika Allah belum berkata 'ya' hingga akhir September mendatang.
Kami hanya bisa mengusahakan yang terbaik, berdoa tanpa putus, terus berprasangka baik pada Allah, dan menerima dengan lapang dada apapun takdir yang Allah berikan. Kami belajar untuk ikhlas dan senantiasa memperbarui niat bahwa setiap kata dan kenal, seluruh detik waktu yang dilalui bersama, hingga segenap aksi dan reaksi yang ada dalam interaksi hanya untuk menjemput rezeki yang halal. Rezeki halal bernama jodoh. Sisanya, kami akan bersyukur dengan nikmat kesendirian yang Allah beri saat ini.
Entah sendiri maupun berdua, jika Allah yang bersamai maka semuanya akan cukup. Bahkan lebih dari cukup. Sangat lebih dari cukup.
I will put my effort, Allah will give to me whatever I ask to Him, for sure.
Begitu katanya di penghujung obrolan kami kemarin.
Yeah, I also believe it.
Begitu jawabku.
Depok, 3 Muharram 1447 H pukul 19.13 WIB