Sejauh kaki melangkah, hingga ke the Clove di Maros, atau Jourdan't di Barru, toh kembalinya selalu ke macet juga. Banyak orang menuduh mikrolet adalah penyebab macet. Suka berhenti seenaknya, berbelok semaunya. Padahal, perilaku supir mikrolet seperti itu dibentuk oleh para penumpang, yang membiarkan dirinya dibodohi supir mikrolet. Penumpang bertampang cantik, penampilan necis, dan kelihatan intelek itu selalu saja takluk dan tidak berdaya pada supir mikrolet: mau saja diambil atau diturunkan pada tempat-tempat terlarang atau tempat yang tidak seharusnya. Itu terjadi berulang-ulang. Tindakan berulang-ulang akan menjadi kebiasaan. Kebiasaan yang berulang-ulang akan menjadi karakter. Karakter berulang-ulang akan menjadi budaya. Sekarang kita lihat, budaya tidak disiplin dalam soal naik dan turun mikrolet itu akarnya ada pada ketidakmauan untuk melawan keinginan supir mikrolet. Alih-alih, kebanyakan kita malah takluk. Mari habiskan kopinya, pak... #kopi #macet #mikrolet #instagrahman (at Ardan Masogi Coffee Shop)