TRIGUN MAXIMUM CHAPT. 37 | TRIGUN EPISODE 12
knives & vash’s response to death.
seen from United States
seen from China
seen from Indonesia

seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from Malaysia
seen from United States
seen from Maldives
seen from Vietnam
seen from United States

seen from Malaysia
seen from Germany
seen from China
seen from Canada

seen from Montenegro

seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from France

seen from Kyrgyzstan

seen from United States
TRIGUN MAXIMUM CHAPT. 37 | TRIGUN EPISODE 12
knives & vash’s response to death.
Monev the Gale is based off the character Venom...
Venom huh....
Venom backwards is-
Monev: Oh, please. You wouldn't hurt a fly.
Vash: You're right. Because a fly is an innocent creature that never knowingly did anything to anybody. You, however, I would maim.
Dari Seorang Junior Evaluator Beralih menjadi Pelaksana Monitoring dan Evaluasi Beasiswa
Teman-teman, saya izin share sedikit mengenai pengalaman bekerja saya di LPDP saat menjadi junior evaluator dan beralih monitoring evaluasi. Semoga sedikit cerita ini dapat diterima dengan baik.
Ini adalah foto setahun lalu saat saya dan Jiwo Damar Anarkie menjadi koordinator program Menyapa Indonesia LPDP yang merupakan program pemberdayaan masyarakat dari penerima beasiswa LPDP di desa-desa yang masih belum berdaya, saat itu sudah lebih dari 20 desa kami bina.
Ini foto saya bersama para PIC Menyapa Indonesia. Ketika menggarap ini posisi saya di LPDP masih sebagai junior evaluator yang tugasnya benar2 turun langsung ke penerima beasiswa untuk memberikan program pembekalan kepemimpinan dan nasionalisme. Ketika itu selama 1,5 tahun saya belajar banyak bagaimana bekerja yang berhubungan dengan banyak orang, hampir setiap minggu saya mengenal sekitar 120 orang baru. Pada kondisi itu saya merindukan moment2 menjadi analis.
Saat ini sudah hampir mendekati 1,5 tahun posisi saya sebagai tim monitoring evaluasi LPDP. Keseharian saya adalah menganalisa tiap pengajuan dan permasalahan yang masuk. Pada moment seleksi, keseharian saya di kantor rutin membaca riset doktoral. Pada kondisi ini hampir setiap hari saya berhadapan dengan data dan selalu menganalisa. Saya sudah jarang sekali berinteraksi dengan banyak orang. Ketika diposisi ini saya merasakan kebalikannya, merindukan moment2 bertemu banyak orang.
Yah begitulah bekerja, kalau dilihat kurangnya pasti selalu ada kurangnya, kita selalu ingin lebih dan lebih maka penting terus mencari sisi lain untuk bersyukur. Bagi saya sebaik-baik tempat kerja adalah posisi kerja yang kita passion, kantor dan tim memiliki tujuan dan value yang luhur, dan bisa memberikan penghasilan yang lebih dari cukup. Alhamdulillah saya mendapatkan ketiga hal tersebut di LPDP. Bagi yang belum mendapatkan ketiga hal tersebut, menurut saya selama tempat kerjamu halal dan kamu telah mendapatkan tempat kerja maka bersyukurlah karena mencari kerja itu sulit dikondisi seperti sekarang ini. Apresiasi luar biasa juga untuk mereka2 yang punya usaha sendiri. Ya, kuncinya adalah terus berjuang dan bersyukur.
Kebon Jeruk, 19 Maret 2017
Dian Setyawati
Kapan tiba saatnya Undip Juara PIMNAS?
Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional atau biasa disingkat menjadi PIMNAS. Sebuah ajang perlombaan ilmiah yang dilaksanakan oleh Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (sebelumnya oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan) bagi para mahasiswa. Pimnas bisa dianggap sebagai ajang utama perlombaan di perguruan tinggi. Jika di kalangan sekolah dasar dan menengah ada ajang bergengsi bernama Olimpiade Sains Nasional (OSN), maka di tingkat perguruan tinggi ajang yang paling bergengsi adalah PIMNAS.
PIMNAS terakhir dilaksanakan tahun 2016 lalu di Institut Pertanian Bogor (IPB). Tahun ini PIMNAS akan memasuki pelaksanaan ke 30 dengan tuan rumah Universitas Muslim Indonesia (UMI). Ada 2 perguruan tinggi yang mendominasi ajang ini yaitu Universitas Brawijaya (UB) dan Universitas Gadjah Mada (UGM). Keduanya masing-masing telah menjadi juara umum PIMNAS sebanyak 5 kali. Piala PIMNAS yang bernama Adhikarta Kertawidya saat ini dipegang oleh UB sebagai Juara Umum PIMNAS 29 Tahun 2016.
Di kampus saya sendiri, Universitas Diponegoro, PIMNAS menjadi perhatian penting. Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang menjadi mata lomba di PIMNAS sudah dikenalkan sejak semester pertama, bahkan berbagai metode dan konsep ditelah disusun untuk membantu produktivitas pengajuan PKM setiap tahunnya serta menunjang kualitas keberjalanan PKM setelah didanai. Hingga akhirnya mengirim sebanyak-banyaknya tim ke PIMNAS setiap tahunnya.
Saya pribadi pernah beberapa kali mengajukan PKM. Namun hanya 1 proposal yang pernah didanai pada tahun 2014. Itupun tidak sampai lolos menuju ke PIMNAS. Tapi terkait PIMNAS, saya bisa merasakannya walaupun bukan sebagai peserta. Tahun 2014 Undip mendapatkan amanah sebagai tuan rumah PIMNAS 27 dan saat itus saya masih aktif di BEM Undip jadi beberapa kesempatan saya bisa turut hadir termasuk penutupan PIMNAS.
Disuruh Mas Taufik (Presiden BEM Undip 2014) pegangin bendera Undip sama mbak Sarah (Menteri Mikat BEM Undip 2014) buat difoto dan diposting di twitter.
Ya, Undip sudah pernah jadi tuan rumah PIMNAS, yang menjadi pertanyaan tentunya mungkin di benak sebagian besar mahasiswa Undip yang care terhadap PKM adalah kapan tiba saatnya Undip Juara PIMNAS? Undip pernah menjadi perguruan tinggi dengan peserta terbanyak di PIMNAS, namun gelar juara itu belum juga datang kepada Undip. Saya mencoba melihat kembali bagaimana kiprah Undip dalam Pengajuan PKM dan PIMNAS dalam 5 tahun terakhir.
Seperti yang saya bilang sebelumnya bahwa Undip sejak semester pertama sudah mengenalkan kepada mahasiswa tentang PKM. Tentu hal ini memberikan efek pada jumlah proposal yang diajukan serta jumlah proposal yang didanai. Undip dalam 5 tahun terakhir (2013-2017) selalu berada dalam peringkat 10 besar proposal PKM yang didanai oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi atau sekarang oleh Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan.
Jumlah proposal Undip yang didanai dalam 5 tahun terakhir selalu di atas 150 dan secara peringkat cenderung naik setiap tahunnya.
Namun banyaknya proposal yang didanai belum tentu menentukan banyaknya PKM yang lolos ke PIMNAS. Kenyataannya di lapangan, pelaksanaan PKM setelah disetujui untuk didanai selalu menemui masalah klasik, yaitu terlambatnya dana PKM dicairkan dari Kementeria. Sehingga waktu terus berjalan namun dana untuk melaksanakan PKM tidak ada. Beberapa kali baik dosen pembimbing maupun pengelola perguruan tinggi mengakali hal ini dengan memberikan dana talangan kepada mahasiswa sehingga PKM tetap bisa berjalan. Di Undip sendiri strategi terkait pelaksanaan PKM belum berjalan maksimal awalnya namun sudah mulai menunjukkan hasil dalam hal mengirim banyak tim ke PIMNAS akhir-akhir ini.
Di tahun 2015 Undip bahkan memimpin jumlah tim terbanyak di PIMNAS bersama ITS dengan jumlah 36 tim.
Namun hal berbeda akan terlihat ketika kita memasuki fase perlombaan di PIMNAS. Undip memang selalu menjaga tradisi memperoleh medali di PIMNAS dalam 5 tahun terakhir. Namun secara peringkat perguruan tinggi yang menentukan siapa yang menjadi juara umum PIMNAS, Undip cenderung turun peringkat walaupun pada PIMNAS terakhir tahun 2016 peringkat Undip mengalami kenaikan dibandingkan tahun 2015.
Hal yang sangat aneh adalah ketika Undip menjadi perguruan tinggi dengan jumlah tim terbanyak di PIMNAS, namun peringkatnya justru terlempar dari 10 besar peringkat PIMNAS pada tahun 2015
Dimana letak permasalahannya? Sehingga Undip bahkan belum pernah menyentuh 3 besar pada PIMNAS? Dengan melihat data-data di atas. Saya rasa masalah kita bukan pada kesadaran mahasiswa terhadap PKM. Karena kita lihat sendiri bahwa berdasarkan jumlah proposal yang didanai (dan juga proposal yang diajukan) setiap tahunnya, Undip selalu bersaing dengan para langganan juara PIMNAS dan tidak pernah keluar 10 besar.
Terkait dengan pelaksanaan PKM, masalah keterlambatan cairnya dana dari Kementerian masih akan menjadi masalah klasik karena struktur birokrasi kita yang masih belum ada perubahan. Strategi dana talangan yang dijalankan memang perlu dilihat kembali efektivitasnya dalam mendorong kualitas pelaksanaan PKM. Terkait dengan strategi teknis pelaksanaan PKM tentu teman-teman yang berfokus pada bidang riset dan penalaran yang lebih paham. tak lupa kualitas persiapan Monitoring dan Evaluasi (Monev) yang menentukan penilaian tim mana yang layak untuk menjadi peserta PIMNAS
Dahulu ketika tahun 2013, saya masih aktif di Departemen Ristek BEM FT Undip. Tim PKM Undip hanya menjalani 2 kali Monev Internal (Monev Fakultas dan Monev Universitas) sebelum menghadapi Monev resmi dari Kementerian. Tetapi salah satu langganan juara PIMNAS yaitu ITS berdasarkan informasi yang saya terima dari Mas Fajri (Presiden BEM ITS 2015), ITS melaksanakan 4 kali Monev Internal yang bahkan sudah dimulai sejak pengumuman proposal PKM yang didanai oleh Kementerian. Dan tidak lupa bagaimana setiap komponen penilaian yang telah dicantumkan pada Pedoman PKM setiap tahunnya mendapat perhatian dan tidak terlewatkan.
Memasuki fase PIMNAS, saya ingat kembali pertanyaan yang saya ajukan tadi. Kapan tiba saatnya Undip Juara PIMNAS? Nah kita mesti mengetahui bahwa di PIMNAS ada 2 mata lomba untuk setiap kategori PKM yaitu presentasi kelas dan poster. Nah setiap mata lomba akan memberikan medali emas, perak dan perunggu yang menentukan peringkat akhir PIMNAS berdasarkan aturan yang tercantum pada Pedoman PKM Tahun 2016 halaman 46.
Dengan aturan ini, sebuah medali perunggu presentas kelas menjadi lebih beharga dibandingkan sebuah medali emas poster dalam hal persaingan juara umum PIMNAS
Lalu mari kita lihat bagaimana perolehan medali Undip. Seperti yang saya sampaikan sebelumnya bahwa Undip selalu konsisten memperoleh medali pada PIMNAS, baik medali emas, perak, maupun perunggu. Tetapi Undip selama 4 PIMNAS terakhir cukup kesulitan memperoleh medali emas presentasi kelas yang justru menjadi faktor kunci menuju juara umum PIMNAS.
3 PIMNAS terakhir Undip selalu gagal membawa pulang medali emas presentasi kelas. Tahun 2015 peringkat Undip berada di luar 10 besar.
Maka permasalahan utama ketika berlaga di PIMNAS adalah sesi presentasi kelas. Para juara umum PIMNAS rata-rata bisa membawa medali emas presentasi di atas 5 buah sehingga mengangkat posisi mereka pada persaingan juara umum PIMNAS. Jika Undip ingin segera menjadi juara PIMNAS maka sisi perbaikan dalam penilaian presentasi harus ditingkatkan. Parameter penilaian pada presentasi PIMNAS dapat dilihat pada pedoman PKM Tahun 2016 halaman 46 dan pada bagian lampiran.
Hari Kamis kemarin telah diumumkan proposal PKM yang didanai oleh Kemenristekdikti pada tahun 2017. Dan kali ini Undip menempati peringkat kedua dalam hal jumlah proposal terbanyak yang didanai. Maka dari itu momen ini mari kita gunakan untuk memperbaiki segala strategi dan upaya kita dalam pelaksanaan PKM, persiapan monev maupun pada PIMNAS. Semoga segera tiba saatnya Undip menjadi juara PIMNAS.
Semarang, 10 Maret 2017 YAPW
Monev: What’s that smell?
Legato: Fresh air.
Monev: I don't like it.
Monev - City Of Sins
Wanikiya Record/Promotion è orgogliosa di annunciare l’ingresso ufficiale nel proprio roster della band MONEV, realtà emergente dal forte impatto rock/metal, pronta a iniziare una nuova e ambiziosa avventura artistica con l’album “City Of Sins”. Un ingresso che non rappresenta solo una collaborazione, ma l’inizio di un percorso condiviso basato su identità, visione e determinazione. 🎸 “City Of…
Monev Kecamatan Wanareja Nilai Penyelenggaraan Pemerintahan Desa Tambaksari Berjalan Baik
Cilacap, Detik Nasional – Pemerintah Kecamatan Wanareja melaksanakan kegiatan pembinaan dan pengawasan (monitoring dan evaluasi/Monev) terhadap penyelenggaraan pemerintahan Desa Tambaksari. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Balai Desa Tambaksari, Kecamatan Wanareja, Kabupaten Cilacap, pada Kamis, 5 Februari 2025. Kegiatan Monev ini dihadiri oleh Camat Wanareja, Sekretaris Camat Wanareja, tim…