Life After Married
Now playing : Daydream by Wendy (Ost. Can This Love Be Translated?)
Hari ini, resmi masuk klub umur 27. Wkwkwk. Sebenernya pertambahan usia sudah bukan hal yang perlu dipermasalahkan lagi. Namanya hidup, usia akan terus bertambah. Pertambahan usia begini juga menjadi momentum untuk refleksi diri.
Tidak menyangka, pada akhirnya akan sampai di fase ini : menulis tema "life after married". Tetapi ada banyak layer selain itu : resign, moving to another citiy, living in the countryside.
Tinggal di ibukota dengan segala akses pengembangan dirinya, berikut pula rasa kesepian yang mengikuti, dibandingkan dengan hidup di pedesaan yang serba terbatas, namun juga serba hangat karena dikelilingi keluarga, adalah 2 hal yang tidak bisa diperbandingkan. Masing-masingnya memiliki lebih dan kurang. Tapi, saat ini diriku tak lagi berfokus pada 'mana yang lebih baik'. Jika memang sudah Allah pilihkan, tetapkan, maka itu pula pilihan yang terbaik.
Mungkin ini termasuk salah satu pendewasaan diri, ya? Untuk tidak menilai kondisi dengan penilaian akal manusia yang serba terbatas. Berbeda dengan umur-umur sebelumnya yang serba menggebu-gebu, berapi-api. Kali ini terasa lebih damai, lebih tenang. Let it flow. Apa yang menjadi ketetapanmu tak akan melewatkanmu. Tak ada daun yang jatuh tanpa seizin Allah.
Tapi, perbedaan yang begitu dirasakan saat ini adalah kelekatan dengan keluarga. Sebagai anak rantau dari orangtua yang juga perantau, keluarga yang dekat denganku hanya sebatas keluarga inti : ayah, ibu, dan kakak. Sepupu, paman, tante, tidak begitu dekat, karena sangat jarang bertemu.
Tapi saat ini aku tinggal di desa dengan penuh keluarga yang tinggal berdekatan. Yang sebelumnya serba sendiri, saat ini perlu berkompromi dengan banyak orang. Yang sebelumnya dapat menyusun rencana sesuka hati, maka saat ini perlu melibatkan orang lain.
Awalnya memang agak ribet. Tapi, kurasa aku akan mampu terbiasa dengan hal ini. Rasanya senang melihat pelataran rumah yang sepi diisi bocil-bocil bermain tanah. Atau kedatangan Ratih dan Buk Ning tiap pagi untuk memasak di dapur. Sebagai introvert dengan baterai sosial cupu, terkadang ini memang melelahkan. Tapi kurasa ini hanya soalan pandai-pandai membagi porsi tenaga.
Jika ada pertanyaan 'maukah kembali ke ibukota jika ada kesempatan berkarir yang bagus?', sepertinya akan kukembalikan pada prinsip sebelumnya : jika Allah tetapkan aku di sini, maka akan kujalani kehidupan di sini.
Memang akan sulit menemukan kemudahan yang sebelumnya didapat. Akan sulit untuk berjumpa dengan teman-teman yang mayoritas bekerja di ibukota. Tapi insyaAllah, peran terbaikku telah ditetapkan untuk berada di sini, untuk dekat dengan keluarga.
Lagipula, aku mendapat orangtua mertua yang baik, keponakan yang lucu-lucu, dan sanak saudara yang ramah. Juga suami yang, insyaAllah, berupaya sebaik mungkin menjalankan amanahnya dan membahagiakan istrinya.
Dalam lebih dan kurangnya kehidupan rumah tangga ini, kebahagiaan itu senantiasa datang. Bukan jenis kebahagiaan yang menggebu-gebu, tetapi jenis kebahagiaan yang menenangkan. Mungkinkah ini yang dinamakan mawaddah?
Semoga Allah jaga kami. Semoga Allah juga jaga orangtua kami, keluarga kami, sahabat-sahabat kami nun jauh di sana, juga semua orang hangat nan baik yang pernah mewarnai hari-hari kami. Semoga Allah senantiasa tautkan hati-hati ini dalam kebaikan, dan kelak dikumpulkan kembali dalam surga, tempat tak ada lagi perpisahan di dalamnya.
Nganjuk, 17 Februari 2026.
















