Abdullah bin Mas'ud berkata, “Sesungguhnya kami mengalami kesulitan dalam menghafalkan Alquran tetapi mudah bagi kami mengamalkannya. Dan kelak akan datang kaum setelah kami, yang begitu mudah menghafalkan Alquran tetapi sulit bagi mereka mengamalkannya.”
Abdullah bin Mas’ud adalah generasi sahabat, sedang kita bahkan tidak berbahasa Arab. Tamparan sangat telak bukan?
Hari ini, kita semua menuju berlomba-lomba menuju kesana. Digegas mulai dari TK-SD-SMP-SMA tahfidz dari yang biasa hingga kelas elit, program dauroh Quran bukan lagi dalam hitungan tahun-tapi bahkan hitungan hari, tak turut ketinggalan masuk top list kriteria calon pasangan : dia yang hafidz dan hafidzah.
Apakah salah? Sama sekali tidak. Justru HARUS!
Jelas yang pertama Allah mention di Q.S. Jumuah : 2, sebagai jawaban dari doa bapak kita; Ibrahiim, “rasuulan minhum yatluu ‘alaihim ayatihi”. Target pertama dari Quran memang “dibacakan”, meski kalo mau tau lebih dalam makna kata “tilawah”, sangat-sangat deep.
Dan para shahabat, kalo “baca” Quran ngga segampang kita hari ini yang akses mushaf dimana-mana. Sedang jaman khalifah Utsman aja, mushaf cuma ada 5 di seluruh penjuru negara! Jadi ngga ada pilihan, bagi mereka, membaca Quran adalah di hafalannya. Tapi coba cek di sirah, berapa banyak para shahabat yang selesai dengan hafalan Quran-nya? Apa iya itu tujuan utama yang dikejarnya? Ingat apa kata Abdullah bin Mas’ud sebelumnya?
Jadi, mari kita naik level. Akan kemanakah kamu bersama Quran-mu setelah ini? Setelah sekian banyak hafalan Quran-mu? Setelah berulang kali kamu mengkhatamkan tilawah Quran-mu?
Apa iya Quran ini hanya sebatas trophy layaknya target pencapaian dunyaa kita lainnya?