Nilai
Kita dewasa di keluarga yang berbeda. Beda watak kedua orang tua, beda latar belakang pendidikan, dan sosial budaya.
Tapi ketika kita sudah menikahi seseorang, maka kita akan perlahan untuk belajar mendamaikan suasana perbedaan - perbedaan itu, minimal dengan tindakan diam.
Diam merupakan bentuk lain dari sebuah tindakan untuk merespon suatu peristiwa. Bisa merepresentasikan persetujuan atau ketidaksetujuan. Banyak makna yang sedang diutarakan.
Memang tak selalu diam menjadi pilihan, tapi juga tak selalu mengutarakan menjadi solusi atas perdamaian.
Bisa jadi banyak nilai-nilai keluarga kita sebelumnya yang sepertinya menjadi tidak relevan kembali di keadaan rumah-tangga-muda kita.
Saya kira kita semua sama. Anak muda dengan minim pengalaman yang sedang ingin membangun rumah tangga dengan visi-misi tersendiri, yang kadang berbeda dengan orang tua kita. Baik pada aspek nilai-nilai dasar keagamaan, aspek nilai keluarga, ataupun kehidupan sosial budaya.
Berdasarkan hal tersebut, jika kita tak memulai belajar untuk menjadi orang yang lebih sabar dan moderat, maka sepertinya percikan bara api pertikaian akan sangat mudah untuk disulut.
Karena sudah kodrati, bahwa kita seringnya lebih fokus melihat titik hitam diatas kain putih, bukan malah mengagumi keindahan dan kesucian warna putih yang lebih banyak terhampar dari pada setitik warna hitam.
Kita lebih banyak fokus terhadap perbedaan, dan kemudian melupakan banyaknya persamaan yang harusnya lebih dapat untuk disyukuri dan dinikmati.
Bersikap moderat, menengahi dan berusaha menenangkan semua pihak adalah sebuah keharusan yang masih terus untuk diusahakan.
Tetap saling belajar sabar, dan memaafkan.
Fasbir sob'ron jamiila - maka bersabarlah dengan sabar yang baik
Tangerang Selatan, 11-November-2020












