Imagine that,,
Satu hal yang gak pernah bisa siapapun pisahin ini sama kehidupan anak kecil, imajinasi.
Tau film-film animasi kayak Alice in Wonderland? Charlie and The Chocolate Factory? atau yang lebih membumi lagi deh, Doraemon? Dora? Hacci? Marukochan? oh ada satu lagi, ChalkZone! Ngebayangin isi kepala dari pembuat ceritanya aja udah seru banget kayaknya. Punya imajinasi seluas samudera, tapi dinamis dengan ombak bahkan badai. Satu hal yang mungkin bisa kita setuju, "Imajinasi itu Gak Boleh Dibunuh".
Saat itu usiaku menginjak umur 7 atau 8 tahun. PR Matematika masih jadi masalah yang paling besar dalam kehidupan. Sejak TK memang orang tuaku sering sekali membelikan kaset kepingan berisi lagu anak-anak seperti Gundul-Gundul Pacul, Naik-Naik ke Puncak Gunung, Burung Kakaktua, Di Malioboro, Pok Ame-Ame dan sejenisnya (Kalau kamu benar lahiran 97, harusnya kenal lagu-lagu itu). Jadi aku sangat terbiasa untuk bernyanyi dan berjoget sendiri, remot di tanganku di sulap layaknya microfon dan kursi sofa menjadi panggungnya. Tepat di umur 7 atau 8 tahun itu sedang booming sekali artis-artis cilik sepantarku seperti Sherina dan Tasya Kamila. Ku paksa bapak untuk mau membelikanku sebuah kaset radio lagu-lagu terbaru Tasya kala itu. Alhasil jadilah sebuah mini konser yang hanya ada satu penonton setia, umi. Lagu-lagu Libur Telah Tiba, Kemarin Paman Datang, hingga Ambilkan Bulan Bu, jadi lagu-lagu hits yang banyak direquest oleh para fansku (masih ingat judul cerita ini? I M A J I N A S I. Termasuk fans-fans berat ku saat itu).
Tak berhenti di sana, sebuah cerita drama kehidupan ku rancang dengan apik di kepala. Cerita tentang gadis cantik nan hits berkarir tinggi, yang bisa naik motor, punya laptop, punya HP keren (yang tutup-buka itu loh, please dulu itu hits banget tauuu), punya baju gaun lengkap dengan heelsnya. Ku coba-coba sedikit merapihkan rambut dan pura-pura berdandan di depan kaca, lalu mengambil kunci motor untuk segera pergi ke kampus atau tempat perkumpulan seperti taman kota dan sebagainya (tenang kawan, motorku saat itu masih honda smash yang hanya terparkir dengan standar dua di tengah-tengah rumah), laptopku berupa satu kotak crayon merek Titi berisi 24 (yang suka gambar pasti tau bentuknya, kayak laptop kan? Pliss bilang iya), HP ku? Terbuat dari tempat bekas bedak umi merek viva queen warna putih (atau kalau bosan ku buat saja sendiri dengan kertas yang ku gambar dan lipat-lipat, sungguh kreativitas tanpa batas), gaun ku? Satu kain bali warna biru muda yang ku linting-linting di sekujur badan (aku tetep pake baju koq, jadi pliss jangan ketakutan), dan ya heelsnya benar-benar sendal heels punya umi (kebayang ribetnya gimana? Namanya juga imajinasi).
Masih belum cukup disana, aku juga berperan sebagai seorang enterpreneur. Papan congklak (mainan tradisional, gak tau? Gak seru sekali hidup anda) berserta biji nya ku sulap menjadi wajan penggorengan 14 lubang dan bijinya sebagai makanannya, di sempurnakan dengan kertas putis berbentuk panjang-panjang yang biasa ada di kaleng biskut Khong Guan sebagai mie nya. Ya, saya berperan sebagai penjual nasi dan mie goreng.
Oia satu hal lagi yang sayang bila dilewatkan, dulu juga aku sempat berperan sebagai seorang arsitek, bagi rumah sendiri. Ku tarik empat kursi meja makan untuk setiap kakinya diikatkan tali kain satu sisi ke sisi lainnya. Intinya agar dia jadi atap dan seakan-akan jadi bentuk rumah (lebih seperti goa sebenarnya). Lalu tiba-tiba ada seekor naga jahat yang datang ke desa, lantas BUUUMMMM semua desa terbakar oleh api. Teriak-teriak lah dengan histerisnya aku ini. Mungkin umi di dapur sudah bosan sekali geleng-geleng kepala melihat tingkah anaknya yang super cerdas, layaknya pemeran utama film Megamind.
Gimana kawan? Sudah bisa mengimajinasikan? Jika sudah, berarti selamat! Anda tidak pernah melupakan satu seni terbaik yang diperlukan dalam kehidupan. So, if you feel sad, worry, gloomy, etc, try to make your own imagination, the best imagination you ever had!
Dengan imajinasi, kamu bisa jadi apapun, kecuali jadi Tuhan ya :) Imajinasi jadi salah satu bukti kuatnya ilmu pikir, jadi bukti hebatnya pencipta menciptakan ciptaanNya, jadi jalan emas menuju tempat yang penuh kebahagiaan.
Terakhir, ku kira imajinasi hanya milik anak-anak. Ternyata dia diselamatkan dalam lingkup "Fiksi" agar orang dewasa tidak malu untuk terus bersamanya. Seorang penulis favoritku Andrea Hirata pernah berkata "Fiksi bukan sekedar mengadakan yang tidak ada, fiksi adalah cara berpikir". Karena tanpa sadar, karya-karya hebat seperti Harry Potter, The Lord of The Ring, dan karya-karya hebat lainnya (termasuk yang ku sebutkan di awal cerita) adalah bukti bahwa manusia akan selalu bersama dengan imajinasinya, impiannya. Sampai kapanpun.
Satu lagi bonus informasi stok imajinasiku dulu, aku adalah seorang pianis terkenal yang mendunia dengan notasi-notasi cicak-cicak di dinding juga topi saya bundar. You can't believe it!
Sekian dulu beberapa alasan kenapa di umur yang menuju 23 ini novel dan app piano tiles masih jadi dua hal yang paling menyenangkan untuk bantu mengusir kejenuhan.
So, can you imagine?
@fadhila-trifani @gugunm @sekotenggg @mathmythic @adhit21



















