Sudah yang terakhir aja berbicara tentang fase ini.
Pernah merasa berbeda saat memandang sesuatu? Maksudku bukan memandang dalam artian melihat dengan ain, tapi memandang sesuatu dari sudutmu.
Iya, itu terjadi padaku. Dulu aku memandang sesuatu hanya dari apa yang bisa membuatku bahagia dari hal tersebut, tanpa memandang apa esensi darinya. Saat itu kami membuat perlombaan yang bertemakan pendidikan. Untuk bisa melaksanakan acara itu, kami membutuhkan persetujuan guru. Disana kami membuat list jenis perlombaan yang nntinya akan dilombakan. Salah satunya disana tertulis lomba "fotografi pendidikan". Seru bukan kalau dibayangkan? Pikir kami saat itu, sepertinya lombanya akan menarik kalau kita bawa ranah pendidikan ke hal-hal yang disenangi para peserta, contohnya fotografi.
Akhirnya kami meminta persetujuan guru yang menjadi penanggungjawab. Beliau memberikan komentar tentang lomba yang kami anggap itu cukup menarik, yang aku sebutkan diatas. "Kenapa ada lomba ini? Ngga relevan dong sama tema pendidikan yang kalian usulkan". Kemudian lomba itu dihapus, dan kami cukup kaget, karena lomba itu memang menarik untuk diadakan. Menarik untuk diadakan, sesuai dengan apa yang membuat kami bahagia.
Seiiring berjalannya waktu, kejadian itu mulai aku sadari. Bahwa untuk melakukan sesuatu, kita harus bersandar pada apa value yang ingin diangkat dari hal tersebut. Beberapa tahun kemudian setelah kejadian itu, aku mengalami apa yang guruku alami. Ada sesuatu yang tidak sesuai dengan value yang ingin dicapai.
Disaat kuliah aku ikut kepanitiaan selama 1 tahun, cukup kecil sih acaranya. Acaranya ada 3 kali selama setahun. Disana aku kebetulan sekali menjadi wakil ketua di acara yang pertama, dan diacara kedua, aku ditugaskan menjadi ketua. Hal yang aku pandang sebagai sesuatu yang dilakukan tidak bersandar pada nilainya adalah waktu untuk bermusyawah. Temanku, yang menjadi ketua saat acara yg pertama bilang "kita ngumpulnya minimal 1 jam ya. kalau udah abis pembahasan sebelum 1 jam, kita ulang aja supaya mereka ngga lupa". Iya, inti dari perkumpulan itu sebenarnya ada di 20 menit awal saja. Sisanya? Ya kalian paham lah.. Aku sangat tidak setuju dengan itu, karena menurutku, setiap orang yg hadir diperkumpulan itu menunda urusan pribadinya masing-masing hanya untuk hadir. Betapa dzolimnya memaksa orang-orang mengikuti ke egoan kita bukan?. Sampai saat ini pun, aku tidak tahu apa alasan temanku untuk mengadakan perkumpulan minimal 1 jam.
Saat acara kedua, aku memiliki tekad untuk mengadakan perkumpulan seperlunya, sesuai dengan pembahasan inti saja. Karena aku sebagai ketuanya saat itu, akhirnya perkumpulan hanya berjalan 20 menit, dan setelah itu semua anggita dipersilahkan melakukan kegiatannya masing-masing. Singkat sajalah yaa.. Wkwkw
Ketika kita melakukan sesuatu dan ada value yang ingin dicapai. Kenapa harus tetap disana saat kita sudah mendapatkan value itu. Masih banyak hal baik lain yang bisa kita lakukan, daripada berdiam pada satu hal yang sama.
Semoga kita tetap baik baik saja. Kalau sedang tidak baik-baik saja, semoga lekas pulih.
@mathmythic @fadhila-trifani @adhit21 @henniarum @sekotenggg