Kapan Lulus?
Sebagian orang akan berkelit ketika ditanya soal kapan selesai kuliah, udah kerja belum, kapan nikah dan bla bla blaa... Apalagi berada pada umur yang memang sudah sepantasnya. Kita mulai berpikir bagaimana hidup di masa depan, apa yang bisa kita berikan bagi orang lain.
Bagi saya, itulah yang mungkin sekarang saya alami. haha. Tapi saya berusaha biasa saja menanggapinya, tidak perlu berlebih-lebihan. Tentu saja sikap yang ditunjukkan ialah ukuran sejauh mana kedewasaan kita berkembang. Ceileh udah sok-sokan dewasa gitu.
Well, sejak awal semester tujuh saya memang memutuskan untuk menunda melaksanakan penelitian skripsi, saat itu tawaran untuk mengerjakan proyek penelitian datang. Saya sampaikan kepada pebimbing. Beliau mengiyakan dengan berat, dan sangat berharap saya bisa menjalankan tugas sebagai mahasiswa tingkat akhir dan organisasi secara beriringan. Tapi entah kenapa, saat itu, melihat kondisi yang ada, saya merasa tidak akan bisa totalitas. Jika harus pagi-siang atau mungkin sore berada di laboratorium kemudian sore hari stay di tempat saya mengembangkan potensi softskill. Tidak bisa jika hanya sore hari sampai maksimal pukul 8 malam membersamai mereka. Dengan sepengetahuan, project yang harus dituntaskan cukup menguras tenaga dan pikiran. Meski di akhir, saya sendiri merasa belum optimal, belum memberikan yang terbaik dan masih banyak sekali kekurangan. Dengan banyak meminta pertimbangan dan persetujuan dari banyak orang. Terutama orang tua. Keduanya memberi lampu hijau, tapi dengan satu syarat harus tetap progress dalam hal akademik. Oke deal. Firasat pun berkata, apa waktu untuk mereka akan tersita? Pulang kalau belum di telpon dan di sms berkali-kali belum berangkat beli tiket kereta. Ini yang sampai sekarang membuat saya merasa sangat bersalah. Mungkin di luar terlihat biasa saja, karena sejak SMP memang saya, kakak dan adik sudah dibiasakan hidup mandiri. Saya rasa disini letak kepercayaan mereka kepada kami. Kembali, cerita tentang memilih fokus kepada amanah, tetap kuliah mengambil make up untuk beberapa mata kuliah, dan janji progress tugas akhir. Tahun 2014 kami rasa (karena ga cuma saya yang merasakan) adalah tahun puncak dimana manajemen diri diuji. Mungkin masih mending, karena kampus adalah tempat paling nyaman, belum ada apa-apanya dibanding ketika nanti terjun di masyarakat. The real life.
Singkat cerita, saat pada akhirnya helaan nafas bisa begitu saja dilepaskan. Pasca lembaga selesai. Sebenarnya berat dan masih suka pada baper sama anak-anak, hehe. Awal tahun 2015 saya kebut untuk menyelesaikan bab satu sampai tiga, pertengahan Februari acc dan akhir Februari terlaksana seminar proposal. Timeline akademik berbicara, ini sangat penting bagi siapa saja yang ingin jelas realisasi perencanaan dan evaluasi akademiknya, paling tidak perencanaan hidupnya lebih teratur. Ya, saya juga lakukan itu. Selesai seminar proposal, berlanjut pada mekanisme izin nge-lab, tidak begitu rumit. Karena penelitian ini proyek dari Kementan Yogyakarta, mau tidak mau saya harus memboyong berbagai alat yang dibutuhkan. Salah satunya adalah botol kultur. Membeli bahan, pra penelitian, membuat jadwal yang lebih rinci dan detail dan memperhitungkan kemungkinan yang tidak diinginkan, seperti kontaminasi misalnya (dan ini pasti terjadi). Dengan kombinasi perlakuan yang sebegitu banyaknya, saya juga harus membuat cadangannya, agar saat ada kontaminasi bisa ter-back up dari cadangan tersebut. Dari Februari sampai Mei akhir, terus saja di laboratorium, kadang sampai malam. Pernah sampai jam sebelas malam, agak krik-krik juga karena tidak pasti ada yang bisa menemani. Terus berdoa kepada Allaah agar diberikan kemudahan sampai proses akhirnya.
Kabar baiknya, penelitian yang saya lakukan tergolong cukup cepat. Karena kontaminasi yang terjadi tidak merenggut bayi-bayi kultur terlalu banyak. Alhamdulillaah ‘alaa kulli haal. Then, data sudah didapat. Ternyata muncul permasalahan selanjutnya, dimana penguasaan SPSS saya yang sangat minim. Bersyukur ada sahabat yang bersedia mengajarkan sekaligus mengawasi progress pengolahan data. Tapi, Juni-Juli adalah waktu yang kembali membuat perhatian tersita. Banyak yang harus dikerjakan, semoga ini bukan alibi yaa. Dan tahukah, lebaran adalah momen yang sangat menguji kesabaran, ketika pertanyaan-pertanyaan di atas berhamburan, dari setiap yang datang. Saat kembali ke Solo, Bapak begitu mewanti agar tugas akhir ini segera selesai. Ya, saya setuju. Namun berita mengejutkan dan sempat membuat saya bingung ga karuan adalah, pembimbing satu pensiun ditambah saya ga dipamiti. Kyaaa, sakit banget. Hal pertama yang harus dilakukan adalah meminta kepastian siapa pengganti beliau. Dapatlah, dosbing baru. Oke, berarti harus adaptasi lagi. Hikmahnya, dosbing baru ini beliau cukup cermat baik dalam hal penulisan maupun substansi isi skripsi. Target awal Oktober sidang menjadi kandas. Sementara saya harus mengikuti apa mau beliau, tidak lagi terlalu menuntut. Karena jika kita terlalu menuntut dan idealis, bisa-bisa tambah diperlama. Mungkin Allaah ingin saya lebih mendalami apa yang menjadi subyek penelitian dan pembahasan pada tugas akhir. Doakan yaa :”
Beliau selalu berpesan, “Fah, meskipun penelitianmu banyak melibatkan komponen pertanian, tapi kamu tidak boleh menghilangkan ilmu dasar biologi yang menopang penelitian kamu. Tidak bisa kita menerima tumbuhan itu tumbuh begitu saja, tanpa ada sebabnya. Faktor kimia dan biologi apa yang menyebabkan semua itu bisa terjadi.” Maa syaa Allaah, saya rasa inilah kuncinya, celah bagaimana saya sendiri belajar penciptaan dan segala keajaiban di alam semesta ini, atas izin Allaah.
Tentang mengapa belum juga mendapat persetujuan, kembali saya diminta untuk bekerja dan berpikir lebih keras. Berhubung referensi, terutama jurnal yang mendukung penelitian ini belum mencukupi, jadilah timpang, semoga kelak hasil tugas akhir ini memberikan pengetahuan dan referensi yang bisa menambah wawasan keilmuan.
Saya agaknya kurang memperhatikan, bahwa dalam ilmu eksak segala sesuatunya harus diperhitungkan secermat mungkin, direncanakan sebaik mungkin, dikomunikasikan se-intensif mungkin apalagi bagi kita yang aktif tidak hanya sekedar kuliah saja, dan pendalaman ilmu yang membuat kita layaknya semakin merunduk, merendahkan diri di hadapan-Nya. Begitu hakikat ilmu, semakin banyak ilmu yang kita dapatkan, semakin kita merasa bodoh, bukan untuk berbangga diri apalagi di hadapan manusia.
Misi menuntaskan amanah dari orang tua, kepada Ibu dan Bapak tercinta, sungguh tidak ada niatan sedikitpun dalam hati untuk menunda apalagi tidak menyelesaikan amanah ini. Maka izinkan ananda untuk menyelesaikannya berbekal doa Ibu dan Bapak. Everything that i do is to make you proud. Selalu terngiang pesan Ibu, “jadilah anak yang bisa mikul dhuwur mendem jero.” Jadilah anak yang bisa dibanggakan.
Untuk semua pertanyaan dan mention yang selalu tertuju kepada diri, terimakasih selalu mengingatkan dan menjadi alasan untuk terus melecut diri. Saya bersyukur atas segala fase hidup sampai hari ini yang sungguh luar biasa dan memohon ampun kepada Allaah atas segala khilaf dan dosa. Semoga keberkahan dari-Nya selalu menyertai di setiap langkah.
Untuk adik-adikku, ambil sisi baiknya saja yaaa :) Ambil pelajaran dan hikmahnya. Kalau mau lulus, lulus aja gpp, hehee. Tapi kita juga bertanggungjawab untuk membentuk generasi penerus kita. Tidak mematikan perlahan benih yang sudah kita tanam. Inilah seninya, seni membentuk manusia. Mari berproses bersama. Terus memperbaiki diri. Memperbaiki amalan, sholat, hafalan, interaksi, lebih melapangkan waktu untuk-Nya. Saya sepakat lebih mendekatkan diri kepada Allaah adalah solusi dari segala hal. Pantang berputus asa, karena Allaah bersama kita, in syaa Allaah :)
I’m proud to be biologist!









