Melepaskan Pekerjaan “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” untuk Menjadi “Pahlawan Keluarga”
Sewaktu saya kecil, ada beberapa pekerjaan yang menjadi cita-cita saya karena pengaruh buku-buku yang saya baca. Saat itu, tiga pekerjaan utama yang ingin saya kejar adalah “menjadi penemu, menjadi penari balet, dan menjadi guru.” Saya ingin menjadi penemu, karena terkagum-kagum dengan kisah Thomas Alva Edison dan Isaac Newton yang temuan praktis maupun teoritisnya berjasa untuk banyak hal di dunia. Saya ingin menjadi penari balet karena dulu sering membaca komik Mari-Chan dan biografi Isadora Duncan. Sementara itu, saya ingin menjadi guru karena kagum pada sosok Anne Sullivan yang sabar mendidik Helen Keller hingga menjadi seseorang yang bahkan lebih sukses daripada dirinya.
Namun, seiring berjalannya waktu, satu demi satu impian masa kecil saya itu saya lepas. Yang pertama, saya melepaskan impian menjadi penari balet dan berhenti les balet karena ingin menutup aurat sesuai ajaran Islam. Yang kedua, saya melepaskan impian menjadi penemu karena saat SMA saya sadar nilai-nilai mata pelajaran IPS saya lebih bagus daripada mata pelajaran IPA saya. Sulit untuk menjadi penemu saat kita sudah mulai kehilangan minat pada fisika dan kimia, bukan? Akan tetapi, saya sempat mempertahankan cita-cita saya menjadi seorang guru, bahkan hingga saya lulus kuliah S2.
Ya, cita-cita untuk mengajar masih terus saya pertahankan karena sejak kecil saya merasa guru adalah pekerjaan yang mulia. Walaupun guru-guru dan dosen-dosen yang pernah mengajar saya pun kadang ada kekurangannya juga, tapi kelebihan mereka di mata saya jauh lebih banyak. Saya ingin dapat memberikan ilmu yang bermanfaat seperti yang guru-guru dan dosen-dosen saya telah berikan kepada saya. Saya ingin menjadi “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” karena saya pikir itu adalah salah satu cara terbaik untuk menjadi orang yang dapat memberikan manfaat kepada orang banyak.
Linguistik: Bidang Ilmu yang Saya Ajarkan ke Mahasiswa Selama 4 Tahun Terakhir
Kesempatan untuk menjadi “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” itu pun terwujud pada tahun 2012, ketika saya diterima menjadi dosen tidak tetap di sebuah universitas negeri dan sebuah universitas swasta. Alhamdulillaah, meskipun banyak tantangan menghadang dalam proses pengajaran yang saya lakukan, saya dapat memberikan sedikit ilmu yang saya pelajari ketika S1 dan S2 kepada mahasiswa-mahasiswa saya melalui pengajaran langsung di kelas maupun melalui bimbingan skripsi. Namun, menjadi seorang “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” di Indonesia ini dapat dikatakan bermakna literal, khususnya untuk pengajar-pengajar pemula yang belum mendapatkan status pengajar tetap. Balas jasa yang saya peroleh dari profesi mengajar memang sangat sedikit, baik dari segi finansial maupun dari segi pengembangan diri karena kesempatan yang diberikan tentu lebih diberikan kepada pengajar-pengajar yang lebih senior. Awalnya, saya bersabar saja menghadapi balas jasa yang minim ini, karena toh tujuan utama saya bukan mendapatkan balas jasa dalam mengajar. Saya hanya ingin ilmu saya bermanfaat bagi masyarakat, walaupun itu hanya mahasiswa-mahasiswa yang saya ajar. Untuk masalah finansial, toh waktu itu saya masih hidup dibiayai orang tua. Jadi, gaji yang minim saat itu bukan masalah besar bagi saya.
Akan tetapi, tantangan yang lebih besar dalam menjalankan profesi “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” mulai terasa ketika saya menikah pada tahun 2015. Menjadi seorang istri ternyata menuntut saya untuk dapat mengendalikan keuangan keluarga dengan baik. Saya harus mampu menyesuaikan pemasukan dan pengeluaran saya dan suami, karena kami sekarang sudah membangun rumah tangga sendiri. Tentu saja kadang orang tua kami membantu, tapi tentunya kami berdua masih memiliki rasa malu bila harus terus menerus dibantu oleh orang tua. Maka, terjadilah suatu titik di mana saya merasa penghasilan saya sebagai seorang dosen malah memberatkan perekonomian keluarga saya. Gaji yang saya terima tidak seberapa dan kadang pembayarannya pun tidak tepat waktu. Sementara itu, uang transpor yang saya keluarkan untuk pergi ke kampus tetap tidak dapat ditekan.
Keluarga Baru yang Saya Dapatkan Pada Tahun 2015: Suami Tercinta
Awalnya, saya memang masih berusaha berhemat dengan menekan pengeluaran. Namun, berbagai kejadian membuat saya tidak dapat menekan kebutuhan-kebutuhan hidup saya. Pertama, saya hamil muda pada akhir tahun 2015. Saat awal hamil, kondisi kesehatan saya kurang stabil, sehingga dokter menyarankan untuk tidak berpergian menggunakan motor untuk tiga bulan pertama kehamilan. Ketika jarak antara kampus dan rumah kontrakan saya dan suami masih dekat, saya dapat dengan mudah pergi ke kampus menggunakan angkutan umum. Akan tetapi, selanjutnya kami pindah ke rumah yang lokasinya lebih jauh dari kedua kampus tempat saya mengajar. Ini membuat pengeluaran untuk transportasi saya ke kampus pun meningkat.
Selanjutnya, ternyata suami saya pun pindah kantor ke lokasi yang lebih jauh lagi dari rumah kami. Keadaan ini membuat saya dan suami harus melakukan penghematan ekstra dalam pengeluaran kami. Saat itu, saya mulai “melepaskan” pekerjaan saya di kampus swasta yang letaknya memang lebih jauh daripada kampus negeri tempat saya mengajar. Namun, keadaan juga tidak kunjung membaik setelah itu.
Seiring dengan bertambah besarnya kandungan saya, saya jadi mulai menyadari betapa banyaknya biaya yang harus dipersiapkan untuk persalinan dan pengurusan bayi saya kelak. Semakin saya menghitung, semakin saya merasa tidak sanggup mempertahankan pekerjaan sebagai “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” yang saya idam-idamkan semasa kecil itu. Saya sadar bahwa mempertahankan idealisme saya untuk mengajar dengan balas jasa yang begitu minim justru akan membebani suami saya sebagai kepala rumah tangga. Impian masa kecil saya sekarang terbentur oleh realita hidup: bahwa saya saat ini butuh pekerjaan untuk membantu keluarga saya, bukan hanya untuk menerapkan idealisme saya untuk dapat bermanfaat bagi orang lain.
Setelah banyak menimbang dan menghitung, ternyata pekerjaan saya menjadi penerjemah dan penyunting lepas lebih menguntungkan secara finansial daripada pekerjaan saya menjadi pengajar di universitas. Terlebih lagi, dengan pekerjaan seperti itu, saya akan punya waktu luang untuk mengurus rumah tangga dan anak-anak saya kelak. Selain itu, menjadi ibu rumah tangga ternyata tidak menghentikan kesempatan saya untuk dapat memberikan ilmu yang bermanfaat bagi masyarakat. Setelah saya berhenti mengajar di kedua kampus tersebut, saya langsung mencari berbagai kesempatan untuk menerbitkan buku ajar yang ditawarkan berbagai penerbit. Selain buku ajar, saya pun berencana untuk dapat menerbitkan novel, cerpen-cerpen, dan puisi-puisi saya yang pernah saya tulis semasa kuliah ketika mengisi waktu luang. Semua hal ini dapat saya lakukan sambil menjadi ibu rumah tangga, dan memungkinkan saya untuk tetap dapat mencari rizqi dan melakukan penghematan untuk keluarga kecil saya.
Dalam waktu luang yang saya miliki dengan bekerja di rumah, saya juga melakukan ikhtiar lain untuk membantu keluarga saya. Ikhtiar tersebut adalah berjualan online. Salah satu ikhtiar jualan online yang saya lakukan adalah dengan bergabung menjadi agen “Kudo (Kios untuk Dagang Online).” Saya memilih Kudo, sebagai platform ikhtiar saya untuk jual beli online, karena mekanisme jual beli di Kudo lebih aman, menenangkan, dan tidak bertentangan dengan tata cara jual beli yang diperbolehkan dalam ajaran agama saya. Walaupun komisi yang saya dapatkan saat ini masih sedikit, tapi saya tetap bersemangat untuk berdagang bersama Kudo untuk mencari penghasilan tambahan.
Begitulah, saya baru saja menghentikan jejak karier saya sebagai “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” dan ingin berusaha menjadi “Pahlawan Keluarga.” Saya berusaha membuang ego saya untuk mencari jalan tengah agar tetap dapat berkarya untuk masyarakat tapi tetap memerankan peran utama saya sebagai istri dan ibu rumah tangga. Mungkin saya masih jauh dari kata “pahlawan.” Bahkan, selama empat tahun saya mengajar pun, saya masih merasa belum pantas disebut pahlawan, mengingat masih banyak ilmu yang belum saya berikan pada mahasiswa-mahasiswa saya. Akan tetapi, saya tetap berusaha yang terbaik untuk menjadi “Pahlawan Keluarga” yang tetap dapat memberikan ilmu yang bermanfaat bagi masyarakat.
Sekian dulu sharing atas pengalaman hidup saya. Saya mau isi saldo dulu untuk dapat kembali berdagang di Kudo sebagai salah satu ikhtiar saya untuk menjadi “Pahlawan Keluarga.” Walaupun pengalaman hidup kita berbeda-beda, semoga, para pembaca blog ini di luar sana juga terus berikhtiar bersama untuk dapat menjadi pahlawan bagi keluarga masing-masing, dengan cara yang baik dan halal tentunya. Bila ada yang mau share pengalaman ikhtiar dalam menjadi pahlawan keluarga, bisa kirim pesan ke saya atau reblog dan beri komentar dari blog ini. I would love to hear from you!