Instead of feel blue, he prefer to feel Blues!
Sosok Inspiratif: Kiagus Tri Anggarakusuma (Kibul)
Penggelora Musik Blues
Penghianatan tidak menjadikan Kibul, sosok kreatif dan tak kenal lelah berkarya, menjadi sosok pendendam. Karya adalah caranya membalikan ludah orang lain yang sudah terlanjur jatuh ke tanah. Baginya selalu ada hal positif dalam setiap hal yang menimpa manusia, disadari secara langsung atau tidak.
G String Down adalah sebuah band, tentunya ber-genre Blues, yang Ia bentuk bersama 2 orang teman dekatnya Gofur (sebagai drummer) dan Bueng (sebagai Basist) sejak awal masa kuliah di tahun 2010 di Unpad. Sedikitnya 24 lagu sudah dia buat dengan sentuhan yang tidak kalah dengan apa yang dibuat Mick Jagger, Buddy Guy dan musisi Blues lainnya. Gaya busana panggung dan kesehariannya yang nyentrik (cukup seram bagi yang belum mengenal jauh), percaya dirinya yang tinggi di bawah maupun di atas panggung, kecerdasannya mengolah musik, dan cara santai sekaligus positif nya memandang kehidupan membuat Kibul disenangi banyak orang. Tak jarang basecamp mereka seringkali dijadikan posko keluhan junior-junior kampusnya dan alumni yang sudah memiliki anak pun menyambangi mereka sebagai sebuah bentuk kehormatan karena masih peduli dengan kampus.
Blues baginya sudah menyentuh setiap inchi perjalanan dan setiap detak dari jantung yang ia punya. Tanpa tedeng aling-aling, disebarkannya Blues bagai aroma yang mengudara, semua orang yang ia kenal dan umumnya menjadi teman “tongkrongan” menyukai musik-musik Blues di kemudian hari. Keinginannya cukup kuat, ingin Blues tetap hidup. Semasa kuliah Kibul menagendakan minimal 1 hari dalam seminggu coaching gitar a’la bluesman di ruang public manapun di kampus, tanpa pandang fakultas Kibul membagi ilmu Blues yang ia dapat dari rekan lainnya di komunitas Bandung Blues Society berisikan musisi-musisi yang sudah lebih dulu berkecimpung di dunia Blues dan jauh lebih senior dari segi usia darinya kepada rekan-rekan di Unpad. Ampli dan gitar ia bawa ke tengah-tengah, pemula buta nada sekalipun boleh bergabung tanpa harus merasa canggung.
‘Tidak bisa mulai karena tidak memiliki gitar’? Saya rasa itu alasan dari orang yang hendak belajar dan yang paling tidak bisa diterima oleh Kibul. Pada akhirnya Kibul membuka bengkel gitar dan menjual belikan gitar dari pengrajin-pengrajin gitar di daerah sekitaran kampus yang ia percaya kualitasnya bisa diadu dengan gitar pabrikan namun dengan harga yang cukup miring. Bengkel gitar yang dimaksud pun sangat membantu, dengan mahasiswa Unpad sebagai pasarnya, Kibul tidak mematok harga tinggi untuk jasa, terkadang cukup dengan kopi dan rokok, dia bahkan segan untuk menerima imbalan berupa uang. Dengan link nya yang tidak bisa dianggap remeh, Kibul justru senang untuk membantu orang-orang yang membutuhkan, bukan hanya di bidang musik, tapi bagi saya dia cenderung merupakan motivator yang secara fisik tidak di sepuh atau dengan kata lain dengan kondisi yang tidak di buat-buat. Tetap membumi dengan karya yang meroket juga frasa yang cocok untuk menggambarkan sosok Kibul. Ditolak berkali-kali oleh sponsor untuk membuat coaching clinic dan event Blues dalam kampus (karena genre Jazz, EDM, Rock, dinilai lebih komersil oleh pihak sponsor) tidak membuat idealismenya akan musik Blues luntur.
Tinggal di tatar Sunda membuat Kibul berhutang bagi kesenian daerahnya dan melunasi dengan caranya. Sebagai musisi, Kibul beserta GSD menjaga kelestarian instrument musik daerah dengan membuat lagu-lagu Blues yang ia ciptakan selalu menyediakan tempat untuk instrument Kacapi Suling khas Sunda. Daelan, seniornya dengan kemampuan bermain musik bamboo dan kecapi yang tidak diragukan lagi, ia gaet dan menghasilkan susunan apik fussion music yang akrab di telinga masyarakat. Musik ini yang kemudian membuat Jatinangor “terkesan”. Hari jadi kecamatan Jatinangor, Saung Budaya Sumedang menghargai musik garapan Kibul dan GSD, mereka pun tak pernah absen menjadi pengisi acara di lingkungan masyarakat asli Jatinangor tersebut ditambah dengan sosok mereka yang secara personal sangat “merakyat”.
Supporting system yang cukup kuat bagi sebuah event kampus juga ada padanya. Saya sebagai bagian dari organisasi intra kampus dengan kegiatan yang memiliki budget tidak besar sangat merasa terbantu oleh kehadiran Kibul dan teman-teman G String Down. Sebut saja hari Reformasi di bulan Mei 2016 lalu (dengan pembicara Mukti-Mukti, Juwandi Rewang, dan tokoh pemuda kampus era reformasi lainnya), musikalisasi puisi Bandung Lautan api, peringatan Hari HAM dan Hari mengenang Wiji Thukul, juga berbagai Festival kampus di jabani sebagai bentuk support kepada teman-teman sekampus dan perwujudan semangat menyebarkan Blues di Kalangan pemuda. Agar gejolaknya tidak mereda begitu saja.
Jiwa sosial yang ia miliki terpancar liar dari musik yang ia mainkan. Karena Blues, akar dari semua musik, berangkat dari kaum Slave Afrika. Dari sebuah cerita sederhana, menjadi 12 bar yang diisi dengan melodi penuh di tiap barnya, Kibul dan GSD mampu menghipnotis penonton, ditambah lagi dengan aksen harmonica yang ia mainkan di beberapa part lagu. Blues is the roots. Others is fruits, katanya. lagu yang mereka garap bertemakan kehidupan, pemuda, semangat dan rasa cinta juga tak lupa mengangkat sejarah bahkan dari anak Nabi Nuh yang berjudul Sun Sad.
Tidak produktif menjadi penyakit yang paling ia jauhi. Membantu orang lain adalah salah satu bentuk rasa syukur atas apa yang telah Tuhan berikan padanya. Menjadi pendengar dan penggali jalan keluar dari berbagai masalah yang dikeluhkan orang-orang kepadanya adalah salah satu jalannya. Pemikiran yang terbuka, banyak diskusi dengan yang lebih dulu menyelami pahitnya dunia dan masalah yang tak biasa, membuat manajemen konflik yang Kibul miliki terbilang baik.
Dengan kemampuan bermusiknya, boleh dikatakan Kibul layak dan sangat bisa bergabung dengan personil band ber-genre sama yang berkali-kali lipat lebih piawai dan lebih ‘Blues’ dibandingkan dengan personil yang ada saat ini, tapi satu yang selalu saya ingat dari Kibul adalah: “Band bukan urusan musikalitas semata. Tapi urusan persahabatan, duduluran” Duduluran dalam Bahasa Indonesia artinya Persaudaraan.
















