Mbah Uti
Kata orang dia perfeksionis dan suka ngomel. Penuh aturan dan tak suka pembangkangan.
Menurutku? Memang iya.
Itulah sekelumit pribadi mbah utiku
Sosok wanita yang selalu membuatku geleng-geleng kepala
Ada-ada saja aturannya yang membuat seluruh anggota keluarga naik darah
Saat aku kecil, Mbah Uti sering mengomeliku, “Jangan begitu”. “Gak boleh begini” dsb
Kalau Mbah Uti mulai mengomeliku, hanya satu jurus andalanku untuk mengatasinya yakni KABUR DARI RUMAH. hehehe
Namanya juga instruktur rumah tangga, pastilah pekerjaan yang diemban tak sedikit
Dia sangat-sangat multitasking dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga
Aku ingat pesannya dulu padaku, “Nak. Wanita itu harus mandiri dan bisa mengerjakan tugas rumah tangga dengan baik. Setinggi apapun pendidikannya.” Baik mbah. InsyaAllah aku pasti bisa melakukan pesan mbah.
Beberapa pekerjaan bisa dilakukan sekaligus tanpa lelah
Pantas saja jika ada yang membuat suasana hatinya tak nyaman, ia langsung naik pitam
Mbah uti memang bukan sosok wanita yang ada dalam kerajaan-kerajaan dengan gemerlap harta yang melimpah ruah
Tapi beliau selalu bisa memantaskan dirinya pada semua kalangan
Tak peduli mereka pada akhirnya akan mengoceh apa padanya
Yang beliau pedulikan hanya martabat dan kehormatan keluarga adalah hal paling utama. Hal yang sangat krusial baginya.
Dibalik sosok cerewetnya, mbah uti adalah pioner pengendali kebahagiaan keluarga
Bagiku, omelannya adalah bentuk kasih sayang yang kerap disalah artikan keluarga lainnya
Aku tahu ia kerap kesepian semenjak Mbah Kung wafat. Namun, mbah tetap saja kuat menjalani kehidupannya hingga titik nadir
Aku sangat bersyukur memiliki nenek sepertinya
Aku bangga padanya, sangat-sangat bangga.
Dan aku ingin bertemu dengannya lagi, meski dalam mimpi.
*in memorian 2018 mbah Mardiyah









