Garchu
seen from China

seen from Mexico

seen from United States
seen from Germany

seen from Switzerland

seen from United States
seen from Ireland
seen from Ireland

seen from France
seen from China
seen from China
seen from Syria

seen from Philippines
seen from Türkiye
seen from Germany
seen from Syria

seen from United States
seen from United States

seen from Netherlands
seen from Syria
Garchu
Love this chapter!!!!
Post-Truth Era in A Country With No Truth Era
Seminar Media Matters x Journalight Pekan Komunikasi 2018 membuka mata saya pada kenyataan bahwa Indonesia tidak pernah merasakan era kebenaran. Dalam seminar bertajuk Understanding Society in Post-Truth Era ini, salah seorang pembicara yang juga dosen Departemen Ilmu Komunikasi, Inaya Rakhmani, menyatakan bahwa bistilah post-truth kurang relevan untuk diaplikasikan di Indonesia. Tidak seperti negara-negara dunia pertama Indonesia tidak pernah merasakan era truth, karena era post-truth sudah berkembang ketika Indonesia baru terlepas dari opresi rezim otoriter. Indonesia belum benar-benar menmgembangkan sistem, demokrasinya saat post-truth menyerang. Hal ini pula yang akhirnya membuat Inaya mengganti istilah post-truth dengan kata ‘nuances’.
Implikasi dari serangan post-truth pada negara dengan demokrasi yang prematur adalah para kapital yang kemudian ikut berperan dalam menyuburkan fake-truth. Pasar industri media di Indonesia merupakan pasar yang sangat empuk bagi distribusi berita yang tidak akurat. Pasalnya, masyarakat secara umum tidak pernah mengenal media yang benar-benar ideal. Selama 32 tahun, media dikuasai negara dan hingga kini negara malah dikuasai oleh aktor-aktor besar.
Belum lagi ada fenomena unik lainnya di industri media Indonesia, di mana pemilik media biasanya merupakan ketua umum atau petinggi partai. Hal ini menyebabkan pondasi akurasi yang dijunjung tinggi kalah dengan ambisi propagandis partai.
Salah satu hal menarik lain yang saya bisa garis bawahi adalah penjelasan tentang bagaimana industri media sekarang memproduksi kecemasan. Para kapital pemilik media yang merupakan kalangan menengah ke atas secara tidak langsung menciptakan kecemasan bagi kalangan menengah ke bawah, sehingga muncul ketakutan tentang terancamnya masa depan mereka yang akan selalu terjebak di tempat mereka sekarang. Fenomena ini pula yang diduga mendasari munculnya rasisme yang didorong oleh perasaan iri karena golongan tertentu lebih mudah mendapatkan pekerjaan. Kejadian ini juga menyebabkan beragam implikasi lain yang mungkin belum atau tidak terlihat.
Post-truth is not a nice and easy era, so handling it with bare hands will be much more dangerous. Indonesia membutuhkan lebih banyak persiapan dalam menghadapi era ini.
-Agnes Alvionita/1606825644
Wait so if Zoan-Types have a 3 form transformation, what does Marco's other form look like? What about Pekom? Do artificial users get the same amount of forms, or more? I need to know.
Processing of Akreditation #Uhamka #Instagram #Finishing #الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. #Sukses #Amin #Pekom (Taken with Instagram)
Still Respect?
Client: AdWar Pekan Komunikasi UI 2012
Copy: Manggala
Art: Jaza
Editing: Jaza / Addin
Sutradara: Fikar
Talent: Dedi, Reynaldo
Perkap: Deni, Jable, Manggala