Sejak kapan aku mencintai percussion?
Flash back 7 tahun lalu membawaku pada momen ketika seleksi marching band di SMP. Pada saat itu setiap siswa yang mendaftar harus menjalani placement test 1 dan 2, opsi posisinya adalah Colour Guard (CG), Brass, Mayoret, dan Percussion. Ya ketika itu aku dengan iseng memilih perkusi, alasannya simpel karena di pilihan lain kayanya aku tidak cocok. CG adalah khusus untuk orang-orang yang luwes gerakan tubuhnya, melempar bendera-bendera, menari, dlsb. Brass hanya untuk siswa yang memiliki tubuh besar sehingga nafasnya kuat dan panjang (entah teori dari mana ini). Sedangkan mayoret? ya taulah hanya untuk siswa-siswi cakep dan aktif. Nah, melihat kemampuan dan mukaku yang pas-pas, sepertinya perkusi adalah pilihan satu-satunya.
Beberapa hari kemudian, ada pengumuman lolos tahap 1 (aku fikir semuanya diloloskan, karena memang kalo difikir apakah ada siswa yang mau panas-panas an latihan demi menyenangkan penonton), alhamdulillah lolos :D
Ternyata aku salah, pendaftarnya cukup banyak dan banyak juga yang tidak lolos.
Baiklah placement test kedua dilakukan untuk menentukan posisi spesifik alat musik nya. Kami dilatih selama dua hari untuk memainkan kayu (baca: stick) dan dipukul-pukulkan pada meja *sumpah ini bikin bosen*. Padahal ekspektasiku, saat keterima langsung boleh pegang alat. Pelatih mengajarkan dasar-dasar ketukan, mulai dari 1/4, 1/8, 1/16, dst. Kami diajarkan membaca not balok dan angka, sangat lama. Posisi spesifik yang terdapat dalam unit perkusi adalah quint, snare drum, bass drum, dan cymbal. Urutan alat-alat tersebut merupakan urutan dari yang paling favorit hingga yang paling dihindari. Quint diperebutkan oleh 2:15, snare drum 7:15, bass drum 4:15, dan cymbal 2:15. Kemungkinan terbesar aku masuk ke cymbal, karena snare drum mayoritas diperuntukkan untuk cewek, dan bass drum lagi-lagi hanya untuk siswa yang berbadan besar. Untuk opsi Quint? Itu hanya anak-anak yang skill nya bagus dan aktif :(
Tes sudah selesai dilaksanakan, dan tibalah pengumuman tahap 2. Namaku aku cari-cari di cymbal tidak ada, fyuh. Aku langsung loncat ke snare drum, tidak ada. Lantas dimana? Apa saking jeleknya sampai aku tidak mendapat posisi di unit perkusi? Dan setelah dilihat, alhamdulillah Quint bersama 1 peserta lain yang ternyata temen satu kelas juga.
(Quint, how lovely you’re)
Satu hal yang orang selalu bilang kepadaku saat aku memainkannya, “kok awakmu main quint mesti karo merem dim?”-kok kamu saat memainkan quint selalu merem, dim?- Aku bingung gimana jawabnya, “Spontan thok kuwi kek.”-Spontan saja itu, bro- Ketika aku mencoba untuk membuka mata dan memainkan semua notasi balok yang sudah ada, justru banyak terjadi kesalahan :(
Memang benar memainkan musik tidak semata-mata hanya difikirkan, FEEL IT! Karena musik yang indah adalah representasi dari perasaan yang damai.
Sejak saat itu, aku jatuh cinta pada perkusi :)