Switch off
Bagaimana bisa begini?, qadarullah pun bisa dimanipulasi untuk melegalkan kebohongan.
Sesuatu yang dipilih dengan penuh kesadaran itu bukan qadarullah.
Menikahi seorang perempuan lain dibelakang isteri bukan qadarullah...
"Sudah terjadi. Kamu terima saja, jangàn permasalahkan lagi dia yang mengaku mencintaimu itu bohong dan tak bohong, karena jika tak berbohong pun belum tentu kamu mau memberinya ijin." Begitukah cara berpikirnya?
Hey, hallo... is there misleading here?
Berjuang tak mesti sendirian. Yang satu diminta teruskan perjuangan yang lainnya menikmati hidup tanpa menaruh respek.
Perkara wudhu pun kita diajarkan runut sesuai aturan. Ada bagian anggota badanpun yang tak tersapu air wudhu itu bisa jadi masalah. Kita tak akan berkata "sudah qadarullah, lanjutkan saja sholat, tak usah pedulikan kesalahan wudhunya"
Think twice. Siapa yang mesti berjuang?















