Suatu pagi di pertengahan bulan Juni 2025, selang beberapa hari setelah orang tua balik dari haji, nyokap masuk ke kamar waktu gw lagi siap-siap mau berangkat ke RS.
"Kalau duda, gimana (menurut kamu) Nin?" dia tiba-tiba nanya.
"Hah?" gw mengernyitkan dahi shick-shack-shock nggak ngerti sama arah pertanyaannya. "Maksudnya gimana? Duda apaan?"
"Kalau ada yang mau dikenalin, tapi duda anak satu," jelas ibuku. "Kamu jangan keras-keras dulu tapi respons-nya."
Maksud nyokap gw 'keras-keras' di sini adalah me being in total defensive mode, bukan soal suara keras.
"Yaa liat dulu lah orangnya kayak apa, nggak bisa ditentukan sekarang dong," jawabku setelah berpikir beberapa detik.
I mean, duda gitu lho. Udah se-desperate itu nyokap gw berarti dalam hal kepingin gw cepat menikah, sampai mau jodohin gw sama duda (not that being a widower is a bad thing loh yaa).
Gw ngerti sih kekhawatiran dia. At the very back of my mind, gw juga khawatir soalnya. Tahun ini umur udah 35, tapi love life masih gersang aja, jodoh belum kelihatan hilalnya. I really wish I had that kind of strong mental resilience about being single, financially independent, and happy - tapi jujur aja gw hanya cewek millennial biasa yang bisa insecure tiap ditanya anaknya berapa padahal suami aja nggak punya.
Anjir, udah tua ya gw ternyata.
Gw selalu menganggap gw masih muda, tapi once I hit thirties, everything feels different. I feel... older.
Dan jujur aja gw udah nggak banyak berusaha untuk 'memasarkan' diri gw ke luaran sana sih, terutama sejak lulus dari ppds. Waktu ppds, gw masih rajin ikut dating apps. Dari yang muslim-only punya seorang ustad ternama sampai yang internasional udah gw cobain semua. Meet up sama cowok-cowok online. Minta dikenalin dan dicomblangin sana-sini. Bahkan di tengah segala kegilaan ppds dan covid-19, gw masih punya energi buat ketemu orang-orang baru. Some of them completely random, some of them from my high school. Some of them were total creeps, some of them were awesome people that matches my wits, some of them were... cowards to say the least. Tapi menyaring cowok baik-baik di dating apps jaman sekarang itu sama aja kayak lagi mendulang emas. Susah banget woy! Sebetulnya gw lebih prefer dikenalin ya, koneksi dari teman atau saudara. Seenggaknya udah ada initial background check kan daripada kalau total strangers.
Setelah lulus dan balik ke kota asal gw untuk mulai mengembangkan karir, beredar di dating apps didn't feel right, at least for my personal branding yang lagi gw coba bangun. What would my patients - and the people I work with - think waktu mereka buka dating apps and found my profile there??
Kemudian hal lainnya adalah kesenjangan latar belakang. Agak sulit hari gini nemu laki-laki yang single, mapan, tampan tapi nggak ngondek, bukan gay, nggak selingkuh, nggak poligami, nggak mokondo, seiman. There's always a catch ketika nemu yang oke. Ticked all my check list, tapi kresten alias beda server. Dahlah. Ticked most of my check list, satu server, tapi penghasilannya jomplang banget sama gw, terus gw dighosting gitu aja. Ticked all my check list tapi nggak pernah solat.
Sombong amat lu Nin, pantes aja nggak dapet-dapet jodoh. Cantik kagak, banyak mau iya.
Mungkin itu yang lo semua pikirkan. But, No. Ganteng is a bonus. Tapi nyari yang se-kufu, later I found out, was very HARD if not almost impossible.
'Ya berdoa dong, pake jalur langit! Kurang banyak tahajud sih lo!'
Oh please. I lost count of how many times I bawled my eyes out at the end of my prayers. Ya Allah, tolong dong, dari semua laki-laki di dunia, pilihin satuuuuu aja punten pisan. Masa nggak ada yang oke buat gw sih?
Gw jadi teringat percakapan gw sama Mpi, temen SMA gw, waktu kita ketemu buat brunch di sebuah kafe di kawasan Sultanahmet, Istanbul, musim panas 2024. She told me about how she met her husband (through a dating app), and how she overcame the hurdle of marrying a widower with a child from his previous marriage. She also told me how she talked it out with her family, who were understandably opposing the idea at first.
"Your happiness comes first. What other thinks doesn't matter. And I hope you will find your happiness very soon," dia berbisik waktu kita pelukan sebelum berpisah.
Mpi was right. Kenapa opini orang tentang menikah dengan duda harus jadi sepenting itu buat gw? Toh mereka cuma penonton. Yang menjalani dan merasakan kan gw.
Failed at his first marriage bisa berarti 2 hal: dia udah belajar dari kesalahannya, selesai dengan masa lalunya, dan akan berusaha jadi lebih baik, atau yah... nggak berubah sama sekali alias tambeng aja gitu. Mudah-mudahan yang pertama sih ya.
Yang paling gw rasakan berbeda dari gw di umur 20an dan gw yang sekarang dalam hal per-datingan adalah gw udah lebih tenang dan lebih stabil secara mental. Everything is clearer when I'm much calmer than I used to. Hidup gw sudah jauh lebih settled dibandingkan gw di umur 20-an. Rencana hidup udah lebih jelas dan terarah. Gw jadi tahu apa yang gw mau dan gw harapkan dari calon pasangan gw. Value apa yang negotiable dan non-negotiable buat gw. Kemudian gw juga udah mikirin bagaimana gw akan menghadapi rejection, karena biar gimanapun akan selalu ada 2 sisi kan. Boleh jadi gw suka sama dia tapi dia yang gak suka sama gw, atau malah sebaliknya.
Long story short, jadi keluarga gw punya kerabat, sebutlah Bude M dan Pakde Y. Dulu bertahun-tahun yang lalu, keluarga kita tinggal bersebelahan alias tetanggaan, dan masih berhubungan baik sampai sekarang walaupun udah nggak tetanggaan lagi. Keluarganya Bude M cukup ikrib sama keluarga gw. Tiap bokap gw ulang tahun, pasti dikirimin kue ultah sama mereka. Bude M suka ngirim random gifts buat nyokap atau suka tiba-tiba kirim makanan ke rumah. Waktu gw mau daftar sekolah spesialis aja gw ke rumah mereka dulu buat ngobrol sama Pakde Y dan Kakak (anak pertama mereka yang SpBS) nanya-nanya gw harus gimana. Anaknya Kakak bahkan dimasukin namanya ke kartu keluarga kita supaya dia bisa daftar ke sebuah SMA negeri unggulan yang nggak masuk zonasi rumahnya tapi masuk ke zonasi rumah kita.
Adiknya Bude M, sebut aja Pakde I dan Bude I, kenal juga dengan orang tua gw. Suatu hari Bude I menawarkan untuk memperkenalkan gw dengan anak laki-laki temannya. Anak angkat sih lebih tepatnya. Jadi temannya Bude I dari Jakarta, namanya Bu K, itu punya apartemen di Green Pramuka yang disewakan ke cowok ini, namanya S, waktu dia ppdgs di UI salemba. Apparently he was so nice to them, mereka sudah menganggap dia seperti anak sendiri. He's a dentist, an oral medicine specialist. Eight years older than me. Divorced with one son that is currently raised by his mother (S's ex-wife). Saat ini berasal, tinggal, dan bekerja di sebuah kota kecil di Sulawesi Tenggara.
"Mereka mau main ke sini untuk ketemu kamu," kata nyokap gw. "Mama udah kasih foto kamu yang waktu di lagi Jepang."
HAH?! Gimana, gimana? Gw aja saat itu belom pernah liat mukanya, bahkan belom tau namanya siapa, nyokap gw udah maen kirim-kirim foto gw aja LOL gercep amat.
"Okelah, tapi satu hal yang pasti. Kalau kita jodoh, aku nggak mau ikut dia pindah ke kota asalnya dan mengorbankan semua yang udah aku bangun di sini. Pindah adalah hal yang non-negotiable buat aku."
Pokoknya nggak ada kontak langsung antara gw dan si S, semua melalui ibu-ibu ini, sampai akhirnya suatu malam si S datang ke rumah gw bersama Bu K dan suami, Bude M, Pakde Y, Bude I dan Pakde I. He came all the way dari tempatnya di SulTeng (1.5 jam nyebrang laut untuk ke Siwa, 6 jam perjalanan darat ke Makassar, 2.5 jam naik pesawat ke Jakarta - lengkap jalur laut, darat-udara) ke Jakarta dalam rangka ada workshop. Sekalian main-mainlah dia ke kota gw.
We had dinner at a seafood restaurant nearby, and I felt like being under a microscope since everyone watched our conversations with hawk eyes and they were intensely waiting for my response *facepalm. The night ended with him asking for my numbers right in front of my parents LOL berat banget sama ekspektasi semua orang bjirrr... I later strictly told my mother to manage her expectations.
Besok paginya mereka ke rumah lagi untuk pamitan balik ke Jakarta. After that, we texted each other. The first dan the second day of texting each other went smoothly. Menginjak hari ketiga, keempat dst, ni orang kok slow response banget. Gw punya banyak pertanyaan tentang dia, tapi dia nggak ngasih gw celah buat nanya. Dia juga pasti punya banyak pertanyaan tentang gw, tapi dia flat-flat aja. Apa dia gak tertarik sama gw? What should I do? Kok nggak lancar ya komunikasinya?
Seperti layaknya seorang ISFJ yang self-proclaimed jadi ISTJ, gw mulai overthinking. Tapi karena gw udah lebih wise sekarang, gw gak terlalu anxious dan lebih cenderung ke 'yaudah it's not my fault if i'm not his cup of tea. I know my value as a woman'. Gw pun memutuskan untuk mirroring his response. Kalau dia nggak bales, yaudah gw juga nggak akan nanya atau chat dia duluan. Two can play this game.
I was almost at the point of thinking maybe this wont work ketika dia nanya apakah boleh ke rumah lagi pada awal agustus.
I mean, dia nggak akan minta izin untuk ke rumah kalau dia nggak tertarik kan? Otherwise dia akan jadi too invested untuk suatu hubungan yang nggak akan berhasil. Terus gw juga mikir, ini tuh kayak doa yang gw minta selama ini, disajikan di atas silver plater, didatangkan langsung ke rumah gw bahkan nggak usah susah-susah lagi nyari kesana kemari, even if he's a stranger yang nggak ada irisan pertemanan apapun sama gw tapi background check udah otomatis dilakukan via ibu-ibu ini (my mom, Bude M, Bude I, dan Bu K). Tinggal gw-nya aja, mau berusaha untuk hubungan ini atau enggak.
So I gave him a second chance.
Kemudian datang lagi lah dia, bersama orang tua angkatnya (Bu K dan Pak A). Sebenarnya gw agak bingung, ini red flag bukan ya? Soalnya si S itu orang tua kandungnya sudah meninggal semua. Tapi kok orang tua angkatnya (si ibu dan bapak kos) sangat involve ya dalam perjodohan ini. Gw pikir datang yang kedua kalinya ini akan sendiri aja. Bahkan pas malamnya gw coba ngajak dia pergi berdua aja, ibu angkatnya pingin ngikut juga coba! Padahal itu kesempatan kami untuk akhirnya bisa punya proper conversation. Ya kali gw ngedate masih aja ditongkrongin mereka, kok kepo amat kesannya.
Kunjungan yang kedua ini berjalan mulus. Dia udah ketemu lagi sama orang tua gw. Everything went well walaupun kita nggak punya cukup waktu buat bicara banyak berdua aja. Bude M saat itu lagi umroh sama Bude I, tapi dapat laporan pandangan mata langsung dari Bu K wakakakak.. Bude M telpon mama dari arab, menanyakan if it's okay kalo aku dibawa mereka jalan-jalan ke Garut, karena habis dari kota gw, mereka mau lanjut jalan-jalan ke Garut.
I was like, what?? ke Garut? No shit! Ogahlah gw!
Bukan soal Garutnya, tapi lebih ke ngapain gw ngintilin a group of strangers keluar kota?
Well, in the end mereka nggak verbally melontarkan ajakan itu ke gw sih karena gw bilang walaupun weekend gw nggak praktek, tapi gw tetap harus visit pasien gw di RS. He implicitly got the idea and didn't push me further. Itu menjadi salah satu hal yg gw syukuri sampai sekarang gw ngetik ini. Bahwa up until now, S nggak pernah memaksa gw untuk melakukan hal yang gw nggak suka atau nggak mau lakukan (nanti akan gw ceritakan tentang tanggapan dia soal gw nggak mau pindah ke tempat dia kalau kita berjodoh). I can see that he's very mature (ya iyalah, 8 tahun lebih tua dari gw gitu loh).
Mereka pun melanjutkan perjalanan, ternyata nggak jadi ke Garut tapi jadinya ke Bandung.
I think it was one day before his departure to his home town, dia chat gw sesuatu yang membagongkan.
One of his niece is graduating and he asked me to come meet him and his family (the real family, his siblings to be exact. Dia anak ke-6 dari 8 bersaudara) in Makassar akhir bulan agustus ini.
I thought of his efforts of visiting me in my home town a few times, and was like - okay it's my turn to pay him a visit. I mean, isn't it a good thing that he wants me to meet his whole family? And it's in Makassar, not his home town, which means I don't have to travel that far. He's trying to make it easier for me.
He seemed to be very excited when I said yes. Mulai berani gombal (and yes, he's very bold - a typical ENTJ-A and a gemini), kita juga lebih sering bicara, through texts and phone calls. Gw berkesempatan untuk banyak nanya tentang dia, vice versa.
He offered to pay for my accommodation, tapi waktu dengar orang tua angkatnya bakal ikut juga, I immediately and politely refused him dengan alesan gak mau ngerepotin dia dan memilih untuk book pesawat dan hotel sendiri supaya nggak usah barengan sama orang tua angkatnya. Ternyata orang tua angkatnya book flight yang sama dengan gw, dia bilang supaya gw ada yg jagain. Di situlah gw mikir, oh mungkin bukan maksud mereka (orang tua angkatnya) pingin ikut campur sama kita, he was only trying to take care of me so that I feel less lonely traveling on my own.
I started to see him on a different light.
Barusan dia habis telpon gw. We talked alot, termasuk tentang masalah LDR yang konon katanya jadi salah satu faktor kenapa dulu dia bercerai. He agreed that LDR shouldn't be a root cause of a failed relationship, I told him my stand and my non-negotiable points. Dia dengan bijak mengerti bahwa I shouldn't sacrifice my hard-earned career and what I've been building here, dalam hal ini dialah yang punya keleluasaan lebih untuk pindah dibandingkan gw. Makanya dia lagi berusaha untuk bisa pindah kerja ke Makassar, selain kesempatan kerja lebih banyak, akan lebih mudah untuk kita bertemu juga ke depannya. Dan kalau dalam beberapa tahun ke depan rencana untuk pindah nggak berhasil, dia ada plan B untuk sekolah lagi ambil spesialisasi kedua di unpad, supaya bisa lebih dekat dengan gw (Awwww...). I also told him about the possibility of me taking fellowship course in the future, mungkin bisa 6 bulan sampai 1 tahun lamanya, and he agreed to that.
Beberapa waktu lalu adek gw nanya apakah gw suka sama dia, tapi saat itu gw belum bisa jawab karena terlalu prematur dan terlalu banyak unanswered questions. Now that I get to know him a little bit better, I kinda like his confidence and the way he allows me to maintain my space instead of trying to take control of it. It's a grown-up relationship. Beda banget dari hubungan-hubungan gw sebelumnya.
Gw hanya berharap Tuhan kasih gw petunjuk: take it or leave it. Kalau dia jodoh gw, please give me Your signs. Kalau bukan, please remove him from my life, as gently as possible, without hurting anyone.
I'm not an optimist, but for the first time in so many years, gw merasa happy dan giddy with excitement. I've been trying to manage my expectations. Mari kita lihat gimana chapter Makassar, yang akan ada pertemuan dengan keluarga dia, di episode berikutnya.