Hanya Tuhan yang mengetahui, bahkan sudah menentukan siapa pendamping hidup kita dimasa depan. Aku hanya memiliki keinginan dan perencanaan, meskipun perencanaan-Nya lebih baik dan akurat daripadaku. Mutlak. Aku hanya sadar, firtahku sebagai manusia dituntut harus berjuang dan memperjuangkan. Berproses dan melihat hasil apa yang dikerjakan. Berdo'a lalu iringi dengan tekad. Dan yang lebih penting sandarkan semuanya pada Sang Maha Cinta.
Namun selalu saja ada keinginan yang tak pernah tidak terucap sekalipun. Kamu. Kala berdo'a aku selalu bersikukuh kepada Tuhan untuk meng-iyakannya. Mengabulkan jika kamulah yang aku inginkan. Merestui bahwa pintaku ini bukanlah permainan. Tuhan, apa ini berlebihan? Mungkin iya.
Dalam percakapan jiwa antara mulut, hati, dan do'a. Dan ucapan bodoh ini tiba-tiba terucapkan "aku berharap apa yang aku inginkan sama dengan yang Tuhan tuliskan. Kamu yang aku inginkan sesuai pula dengan yang telah Tuhan pilihkan. Telah Tuhan gariskan" untuk saat inilah yang terpirkirkan.
Jika pintaku ini dapat menuntunku ke jalan kebenaran. Ke jalan yang lebih mendekatkanku pada-Mu. Bukankah itu lebih baik. Namun sekali lagi, aku akan selalu menerima keputusan dari-Mu wahai Tuhan-ku.