Baru kali ini saya merasa lucu, ketika melihat seorang calon pemimpin dan tidak terpilih namun banyak sekali orang yang sedih hatinya. Mungkin ada berbagai alasan kenapa hal atau perasaan seperti itu terjadi. Pertama, mungkin karena saya sudah 24 tahun dan lebih melek politik ketimbang beberapa tahun yang lalu. Kedua, akses dunia maya sebagai global village atau public sphere yang semakin mudah, membuat kita lebih berani untuk mengungkapkan perasaan baik implisit ataupun eksplisit dalam ranah demokrasi bermedia. Ketiga, mungkin karena sosok itu memang sebenarnya mempunyai kans yang kuat dan persona bagus nan sesuai untuk jabatan yang diembannya. Keempat, mungkin hegemoni media yang menerpa sangat kuat atas ketidaksukaan dengan sosok tersebut, jadi sangat mungkin terpaan berbagai fungsi media yang harusnya to inform, to educate, to persuade menjadi melenceng menjadi to manipulate and to provocate. Cuma para elit media yang tau, ini hanya asumsi dan berdasar apa yang sedikit saya pelajari soal bagaimana teori jarum suntik, uses and gratification, spiral of silence, media literacy, framing analysis, dan juga agenda setting. Rumit memang, apalagi ini indonesia. Untuk negara demokrasi seumur jagung dan harus mengikuti globalisasi terutama teknologi dan media, Indonesia nampaknya masih sulit melakukan infiltrasi dan menyaring mana yang esensial, mana yang harus di recycle. TV misalnya, sepengalaman saya saat melakukan internship di kementrian saja. Pemerintah rasanya sedikit kewalahan memberikan "jalur" atau akses yang sesuai dengan undang-undang, karena kita tau bahwa undang-undang dibentuk karena adanya invensi atau discovery dalam pembaharuan dalam ranah media. Anda akan merinding saat tau, bagaimana sih sejatinya media yang kita liat setiap hari melalui mata kita yang sebenarnya memiliki gatekeeper (penjaga gawang) untuk mempublikasi baik hiburan atau informasi kepada masyarakat, namun secara implisit ternyata kita sebagai masyarakat pun dituntut untuk menjadi gatekeeper sekaligus gatewatcher juga. Repot tidak? Tidak kalo kita peduli dengan bangsa ini. Jangan hanya menjadi penikmat dan penerima informasi sebagai output saja, karena tidak ada saat ini informasi dalam kemasan berita yang tanpa tendensial. Karena berita berhasil naik atau tayang, karena ada politik di dalamnya. Eits, politik? Politik itu luas, dan memiliki stratifikasi yang sangat kompleks. Misal politik buat masyarakat bawah juga politiknya ringan, buat yang menengah juga pasti intermediate, buat yang masyarakat kelas atas pasti lebih complicated lagi. Itu masih TV, yang memiliki lembaga sensor dan Komisi penyiaran. LSI dan KPI kalo di indonesia, dan siapa bilang pengusaha TV swasta, KPI, dan Pemerintah rukun-rukun saja? Semuanya ada konglomerasu di dalam, baik konglomerasi material ataupun jabatan politik. Ga cukup singkat kalo dijelasin, kalian bisa buka google kalo tertarik perihal konglomerasi. Belum lagi undang-undang ITE yang masih baru lahir untuk media sosial dan audiovisual seperti Youtube. Namun, mau seberapa keras kerja manusia mengakses tanpa menunggu report dari netizen soal sesuatu yang dianggap salah? Susah dan menurut saya tidak obyektif saja. Video bagus bisa hilang kalo di report secara masif, video jelek bisa tersebar luas karena ada kepentingan. Sangat susah handling hukum dalam ranah ini. Yap, Basuki Tjahaya Purnama. Halo pak Basuki, saya yakin anda sangat legowo karena saya yakin anda pun tau semua hal dibalik ini, dan anda sangat legowo menerima kekalahan plus rela menjadi dummy pencemaran nama baik dalam ranah SARA, karena minor di Indonesia ternyata masih menjadi hal yang sensitif untuk sekedar menyatakan fakta dan pengalaman bapak. FYI, saya skripsi mengambil arah opini tentang Ahok oleh netizen (warga net) dalam berita online, dan secara tidak langsung saya mengamati media melalui baik ponsel atau laptop saya setiap hari selama beberapa bulan. Flashing back sebentar... Saya dulu tidak sebegitu tau siapa atau bagaimana sih Pak Ahok secara karakter atau personanya, yang saya tau waktu PilGub 2012 hanyalah Pak Jokowi yang personanya begitu kuat dan digadang sebagai "Media Darling", media darling adalah ketika seorang persona sangat susah dijelekkan di media karena memiliki persona positif yang begitu kuat dalam media. Pencitraan lewat blusukan? Pasti kalo kita tau, itu sama sekali bukan pencitraan. Itu Adalah kebiasaan yang membentuk sikap, dan sikap membentuk citra atau karakter. Itulah yang saya pelajari waktu saya masih duduk di semester 5 waktu itu. Pak Ahok waktu itu sangat ga keliatan, bahkan saya mengira kalau beliau adalah sosok yang lebih lemah lembut daripada pak jokowi. Then, pak Jokowi jadi presiden, pak Ahok mulai membuat karakternya terlihat. Uniknya, karakternya kontras sama pak Jokowi. Das! Des! Das! Des! Begitu kira-kira kalo dibunyiin. Sayangnya saya di Jakarta pas pak Ahok belom menjabat, jadi belum tau bagaimana kondisi Jakarta setelah Pak Ahok memimpin. Hanya cerita, dan bukti lapangan lewat media saja yang saya dapat. Cuma saya inget, pas MNC tower lagi ada pembangunan itu crowded banget pas jam pulang kerja sehingga saya nyari bajaj yang mau nganterin ke stasiun pun susah. Jakarta masih kejam waktu itu dalam segi akses. Busway masih pake tiket kertas, pokonya masih berantakan banget. Sekarang, mungkin saya tidak langsung tapi pelayanan yang berhasil ditingkatkan baik ditingkat kecamatan atau kota pasti lebih bagus lagi. Sampai jelang PilGub 2017 pun mulai. Saya mengikuti sepak terjang dan terpaan kasus yang diterima dan banyak sekali yang gagal untuk menjatuhkan, mulai dari kasus KTP, reklamasi, dan yang paling "boom" adalah penistaan agama. Salah memang, untuk pribadi yang menjadi sorotan dan dicari salahnya untuk sekedar kepleset lidah. Disitulah, pihak-pihak behind the scene yang sudah menyorot mulai bermaneuver. Ada apa dengan Ahok sebenarnya? Apa yang salah? Sampai banyak sekali yang mau menjatuhkan. Lebih dari seorang yang sering berkata kotor, keras, dan bekerja keras itu semua Input. Outputnya, bisa kalian liat bahwa semuanya on progress so well. Bukan bim salabim? Hey, he was still just 2.5 years on going to be a governor. Tapi outputnya?? For God sake you can't deny he is obviously succeed. Dan kemudian datanglah framing-an kelas teri berwujud video keluar di youtube. Youtube! Youtube! Youtube! Lebih dari tipi.. iya, lebih provokatif. So sorry, I'm moslem. Dan kalo kalian tau, sangat pedih baca bacotan netizen yang dia ngetik ALLAHUAKBAR di kolom komentar tapi ada (sorry, explicit) Anjing! Di tengah komentarnya. Dari bayi se marah apapun untuk mengucap itu di public sphere adalah menghinakan diri sendiri. Lebih pedih daripada experience pak Basuki ketika dia mengungkapkan experience, dengan menyebut Al Maidah 51. Think, logically. Aksi demo damai beberapa saat kemudian, sambil pak Ahok di sidang, itu fenomenal dan dramatis kalo kalian merasa. Kenapa? Karena media pun bingung akan efeknya. Efek boomerang, kepada media yang benci Ahok atau efek yang diharapkan untuk masyarakat agar tau bahwa kesalahan Ahok itu fatal. Sudut pandang saya, media enemy dari Ahok pun juga memilah sisi bagaimana kata bisa begitu persuasif ataupun justru self destruction buat media itu sendiri. Perang buzzer, perang framing, terjadi di youtube yang kemudian di share di segala sosmed dan berbagai strata. Efeknya beragam, ada yang benci menjadi prihatin, ada yang prihatin menjadi benci, ada yang pura2 benci, ada yang pura2 prihatin. Tapi jangan kaget, semuanya memang sudah ada klasifikasinya untuk penggiringan opini, ibarat menjaring ikan. Seberapa sih sebenernya animo orang2 yang awam hingga intelektual memikirkan dan menggelar pandangannya terhadap ahok ataupun media. Sebenernya lawan Ahok tuh bukan paslon lain kok. Tapi, media. Karena tanpa media dan provokasi, Ahok diatas angin. Bahkan survei pun menjatuhkan Ahok, Denny Ja? Sudah taulah. Sampai pada akhirnya "perang maya" itu berujung pada hari-H untuk para paslon berlaga. Masyarakat tau kok, orang jakarta juga pasti tau bagaimana Ahok bekerja, apa baik dan buruknya, gimana kemakluman yang seharusnya atau tidak seharusnya. And as we knew, AHY kalah. Yap, karena memang seperti itulah kekuatannya. Tidak ada yang bisa diharapkan dari seseorang yang tidak siap atas dirinya sendiri. Sandiaga Is a matter from the 1st starts, Bahkan H-7 pendaftaran. Saya masih melihat Pak Sandi saja yang diwawancarai, TV one waktu itu. Yow, TV one is one of paslon 3 exactly. Anies Baswedan masih disembunyiin, untuk menghindari keresahan dan self esteem dari Sandi. Makanya itu ketika "dash!" Anis Baswedan, masyarakat.. ohh, okay. Dengan citra yang off the recordnya masih cukup tertutup di mata awam, jadilah Anis Baswedan cagub. Kalo saya liat, pada awalnya pun Anis masih ada keraguan di mimik muka. Malah lebih percaya diri AHY daripada Anis, ini sudut pandang saya. Tapi karena suntikan para mentor dan konglomerasi media dan pengusaha yang saya kira luar biasa, percaya diri pun tumbuh. Apa urusannya sama media dan pengusaha? Eits, Hary Tanoe, ARB, Sandiaga pun luar biasa maneuvernya. Tapi mereka yang "gede2" itu dibelakang. Terus apa ngaruhnya media? Yeay, we know USA is the best country which has much strength in soft power. Wtf is soft power? Yeay, "propos" or propaganda. Sangat luar biasa lewat film segala macem, inget sinetron tukang sulam naik ninja? Eh, tukang bubur naik haji ya. Kan ada tuh kampanye di sinetron jaman pilkada dulu. Itu salah satu, trick yang sangat "kasar" di politik. Tapi.. invention dari US yang lainnya pun tentunya ga sekasar itu sekarang. Ya, media semakin banyak dan filtrasi lemah di Indonesia! Gampaaaang! Dari account to account, web to web, TV to TV bisa perang propaganda. And it's fuckin real tho. So then, kenapa Pak Basuki kalah. Asumsi saya dan beberapa hal yang saya baca, serta diskusi. Ya karena memang major minor yang begitu melekat dan tameng besar nan kuat berbalut agama mempunyai peran besar walaupun penuh resiko buat Indonesia untuk menjadi hal yang diperdebatkan. Ingat, semakin berdebat.. semakin tertawa yang bikin propaganda. Dan anehnya, kita bukannya tidak cukup pandai, tapi belum cukup pandai untuk sadar akan propaganda. Kita hanya ikut arus, dan mulai sadar ketika hancur. Itulah tujuan propaganda yang negatif. Siapapun pemimpinnya, kita harus tau siapa yang ada dibelakangnya. Siapa yang ikut mensukseskannya, dan apa efeknya dengan bangsa ini. Indonesia ini kepulauan dengan banyak sekali suku, bahkan agama kepercayaan. Itu kekuatan sekaligus kelemahan buat kita. Ketika mental di titik2 vital negara ini diserang, maka yang redup dan underestimate adalah penyokongnya. DKI Jakarta adalah jantung, untuk beraspirasi janganlah egois untuk menghakimi orang yang hanya ikhlas mempedulikan Jakarta. Jakarta bukan cuma milik orang Jakarta, orang yang ada di provinsi lain hanya miris karena ketika jantung dari Indonesia kita ini mengalami goncangan, yang lain pun ikut merasakan. Mulai dari diri sendiri, bahwa ego adalah bagian dari kebiasaan, dan membentuk kebiasaan menjadi sikap, akan menunjukkan siapa karaktermu. Karena kamu Indonesia, akupun Indonesia. Karena setelah ini, akan lebih banyak lagi ancaman, marilah sama-sama kita saling mengingatkan dan tidak saling menyalahkan, Jadi pribadi yang baik dimanapun berada, terlihat atau tidak pun itu bukan hambatan karena jika kita baik di kehidupan nyata, dan buruk di dunia maya, itu sama saja. Untuk demokrasi bermedia yang lebih baik, maka sama-sama kita jaga untuk menjadi pemicu positif, dan kurangi terpicu negatif. Taklukan media jahat, maka kamu menaklukan ego burukmu. Sekian. - @intromeleon