Pria dan Wanita
Dari awal pria dan wanita itu diciptakan dengan fitrahnya masing-masing. Gak ada istilah salah 1 gender lebih baik mengungguli gender lainnya.
Memang, perbedaan jenis kelamin adalah sebuah kenyataan sekaligus keniscayaan yang gak bisa disangkal. Ini yang sering menjadi perdebatan sekelompok manusia lain yang merasa diciptakan dan ditempatkan di raga yang salah, sehingga muncullah gender ketiga yang disebut non biner karena bukan pria dan bukan wanita. Naudzubillahi min dzalik.
Dalam penciptaannya sendiri, kita diminta lamat-lamat merenung mengapa fitrah wanita dan pria ini berbeda. Seperti wanita memiliki rahim, sedangkan pria tidak. Pria sendiri punya power 2x wanita, that's why ASI untuk bayi laki-laki memiliki kadar nutrisi 2x lipat bayi perempuan.
Ada juga yang berpendapat, “eksistensi pria bertumpu pada akal dan eksistensi wanita bertumpu pada rasa”. Akhirnya bisa kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari, pria merupakan makhluk berpower besar yang menyukai aktivitas fisik yang menantang.
Berbeda dengan wanita yang lebih banyak mengandalkan rasa dan emosi saat berpikir maupun beraktivitas. Wanita lebih peka dengan sekitar dan cenderung mendapat label “tulisan bagus dan hidup rapi”
Banyak stigma di masyarakat yang berkembang bahwa pria harus gercep dan agresif, makin bad boy makin laki katanya. Atau wanita itu gak boleh terlalu kritis, nanti berpotensi durhaka ke suami. Stigma-stigma ini yang kerap kali jadi bahasan saya dengan beberapa kawan.
Seringkali kita mudah melabeli mereka "keluar dari fitrah" tanpa pernah memahami koridor fitrah mana yang kita jadikan acuan. Fitrah versi value yang berkembang di masyarakat atau menurut manusia yang berTuhan.
Padahal definisi fitrah itu bukan berarti menempatkan pria 1 tingkat lebih tinggi dari wanita atau sebaliknya. Justru membagi tugas mereka di bumi agar bisa saling bekerja sama. Bukan untuk saling mengkerdilkan.
At the end, kadar kualitas otak kita bisa dilihat dari sini. Yang masih aja sibuk komen dan banding²in pencapaian berdasarkan gender, ketauan mainnya kurang jauh. Coba renungkan, selama ini sudah sejauh mana kita melakukan gender shaming terhadap orang sekitar!

















