Kenapa Facebook Beli WhatsApp ? Apa Karena Data Pelanggan ?
Mungkin kita akan berpikir bahwa facebook cukup tergesa-gesa dalam membeli WhatsApp - sebuah aplikasi chating - seharga Rp. 252 triliun. Namun dengan jumlah pengguna yang mencapai 1 milyar pengguna yang di charge $1 per tahun, sangat beralasan bahwa Facebook membeli "Next Generation Facebook". Facebook beli WhatsApp bukanlah suatu kegilaan, tapi suatu strategi, karena jumlah pengguna facebook diperkirakan dapat terlampaui oleh WhatsApp.
Perusahaan WhatsApp dikenal sangat efisien, mereka hanya mempekerjakan sekitar 55 karyawan. Hal ini dan prospek pendapatan kedepannya menjadikan facebook tergiur untuk beli WhatsApp.
Dampak Perubahan Pada Kebijakan WhatsApp
Perubahan kebijakan privasi WhatsApp mungkin membuat cemas beberapa pengguna. Dari sudut pandang bisnis, hal ini memberikan sinyal bahwa aplikasi mobile messaging paling populer tersebut mulai menyurut.
Berita pekan ini dipenuhi dengan berita mengenai aplikasi social chat WhatsApp akan mulai berbagi data pengguna dengan Facebook sebagai induk perusahaan mereka yang menimbulkan badai kecamaan dari para penggunanya.
Setelah layanan mobile chat tersebut dibeli Facebook pada tahun 2014, WhatsApp co-founder dan CEO Jan Koum mengatakan pada para pengguna WhatsApp - bahwa kesepakatan $ 19 milyar tersebut tidak akan berpengaruh pada kebijakan privasi untuk menjaga layanan WhatsApp benar-benar terjaga data pribadi pengguna dan bebas iklan.
Setelah Facebook Beli WhatsApp, Kebijakan Berubah ?
Keputusan WhatsApp sekarang ini untuk mengumpulkan data akun pengguna, termasuk nomor telepon pelanggan, telah menimbulkan pertanyaan serius tentang bagaimana sebenarnya kebijakan baru tersebut terhadap keamanan data pengguna. Dengan jumlah pelanggan 1 miliar pengguna, kebijakan resmi tersebut memancing reaksi keras dari banyak pihak selain para pengguna.
Sebetulnya dari hal tersebut kita dapat memahami masalah kedaulatan data. Jika ada delik hukum yang dilanggar, maka tentunya masing-masing pemerintah di tiap negara dapat mengajukan keberatan secara hukum untuk melindungi warganya.
Berita paling menarik di dunia CIO dan rekan-rekan bisnis mereka ini memberikan sebuah benang merah mengenai kebijakan privasi WhatsApp yang merupakan tonggak penting bagi para pelaku bisnis untuk berpikir tentang bagaimana caranya berkomunikasi dengan pelanggan di tahun-tahun mendatang. Sementara pengguna WhatsApp mungkin cenderung untuk melihat pergeseran kebijakan ini sebagai flip-flop, tidak konsisten atau ingkar janji, penyesuaian privasi baru mencerminkan landasan model bisnis Facebook.
Namun, menurut pengamatan kami, dari sisi teknologi ada hal teknis yang di lirik facebook. Seperti kita lihat sekarang ini di facebook, jika ada yang membalas pos status di FB kita akan dapat melihat orang lain sedang mengetik. Ini sangat khas WhatsApp. Sehingga dari deal pembelian ini bukan hanya faktor bisnis saja, akan tetapi ada faktor teknis yang dilirik facebook.
1 Milyar Data Pengguna WhatsApp Apa Gunanya Untuk Facebook ?
Seperti kita ketahui, dalam era big data dimana semua bisnis berlomba mengolah data untuk Business Intelligent yang dapat mendukung pengambilan keputusan, semua data adalah aset yang sangat berharga. WhatsApp mengarsipkan hal-hal yang kita bicarakan, berikut nomor ponsel dan e-mail kita.
Facebook dikenal memiliki banyak pengguna palsu, atau istilahnya "akun jadi-jadian". Dan facebook sempat beberapa kali mengalami kasus dengan para pemakai iklan nya (FB Ads). Dimana pemakai iklan mengeluhkan ketidak efektifan dalam ber-iklan di Facebook.
Dari hal tersebut dapat kita ambil kesimpulan sementara, dimana WhatsApp userya valid dan Facebook usernya banyak tidak valid. Sehingga dengan "pernikahan" whatsapp denga facebook yang berupa pertukaran data, tentunya facebook dapat :
memvalidasi setiap usernya, dalam hal ini meningkatkan validitas user.
mengolah data, data yang ada di whatsapp dapat di olah dan di "presentasikan" ke pelanggan iklan mereka.
Oleh karena itu, kami juga melihat banyak bisnis startup yang merugi seperti Uber dan Gojek, namun tetap investor berduyun-duyun untuk menumpuk saham. Kami pelajari syarat dan kondisi pada salah satu start-up jasa transportasi online tersebut, ada dikatakan "tidak bertanggung jawab terhadap keamanan data pelanggan". Ini jelas bertentangan dengan UU ITE, dan secara tidak langsung orang dapat menyimpulkan bahwa data pelanggan mereka siap di jual.
Era Big Data v.s Kedaulatan Data
Ekonomi Indonesia terus diserang, semakin tertekan terutama sejak 2015 kemarin hingga kini. Dimana birokrasi eksport dipersulit sedangkan import di permudah. Hal ini di perparah dengan pernyataan menteri kominfo yang menyatakan "tidak semua harus menempatkan server di Indonesia".
Ekonomi pada era digital ini telah merubah cara peneliti dalam mempelajari pasar. Sehingga, barang siapa yang memiliki data maka dia yang menang. Semakin efisien dalam memperluas pasar dan semakin mengecilkan risiko kegagalan terhadap penetrasi pasar.
Jika data-data dan prilaku pasar di Indonesia dapat dengan mudah diketahui para pelaku ekonomi di luar negeri, maka Indonesia akan terus menjadi bangsa yang sangat tergantung negara lain. Dan ini dapat berdampak pada hutang pemerintah ke pihak asing dan bahkan dapat berpengaruh pada politik. Akhirnya sumber daya alam di kuasai oleh bukan bangsa Indonesia sendiri.
Hal ini karena mental feodalisme itu masih meresap, sangat miris memang disaat gembar-gembor revolusi mental, pada saat yang sama kita berhutang lagi ke pihak asing dan kedaulatan negara dipertaruhkan dengan tidak amanahnya pejabat yang berwenang. Dengan mengundang investor dari luar negeri tanpa memajukan pengusaha di Indonesia terlebih dahulu, bukan merupakan suatu bentuk kepemimpinan yang tulus ke rakyat. Dulu dijaman penjajahan belanda, ada istilah "ayam kepala hitam", dan inilah yang sedang terjadi di Indonesia. Dimana banyak petinggi negara yang lebih pro dengan pihak asing ketimbang dengan bangsanya sendiri.
Tentu sebagai anak bangsa, kita tidak dapat mengandalkan pemerintahaan saat ini yang gembar-gembor sesuatu tapi di saat yang sama kenyataannya bertolak belakang. Sudah saatnya kita mulai menawarkan jasa atau produk ke luar negeri dengan kreatifitas masing-masing. Jika tidak, bisa berkemungkinan generasi selanjutnya hanya akan tersisa pekerjaan sebagai pesuruh saja.