Pulau Buru Tanah Air Beta; -- Tidak ada yg perlu ditakuti, ini hanya sebuah film dokumenter tentang -+850 tahanan politik yg pernah dibuang kesana tahun , menampilkan rekam jejak sejarah tanpa mempromosikan kekerasan, tanpa memicu kebencian, dan tak bermakna fitnah. Ya, hanya secuil tragedi kemanusiaan di negeri ini. Dibui tanpa dijeruji, dihukum tanpa diproses pengadilan. Puluhan tahun lamanya menanti keadilan. Sebagian mati, sebagian gila, dan sebagian pulang... Namun tetap menjadi tahanan rumah. -- Sebuah pulau dgn predikat serpihan surga di timur Indonesia, Maluku. Ketika nama itu disebut, sekilas terjadi reka ulang di benak saya membayangkan apa yg telah terjadi puluhan tahun lalu. Nama keluarga yg saya kenakan, Lesnussa, pun berasal dari Pulau Buru. Lalu apa yg saya kritisi sekarang? Kampung halaman saya pernah dijadikan tempat pembuangan orang-orang cerdas namun tak berdaya. Mungkin semakin kedepan, orang-orang hanya tahu bahwa Pulau Buru adalah tambang emas yg terus dikeruk dan penghasil minyak kayu putih terbaik di dunia, sisanya? Mana peduli. -+850 tapol (yg tercatat, belum yg tdk tercatat) yg pernah dibuang pun berjasa di tanah itu, mereka membabat ratusan hektar hutan tanpa alat berat untuk tempat tinggal, membuat sistem irigasi, membangun jembatan, membangun sekolah, menjadi guru, dll. Rasa-rasanya lebih berjasa dibanding pemerintah tempo itu. Salah satu karya literatur terbaik di dunia dari Pramoedya Ananta Toer pun lahir disini, dirangkum dalam satu paket; Tetralogi Pulau Buru. -- Lalu mengapa pemutarannya dilarang dimana-mana? Sudah terbuka kah pemikiran kita? Sudah siap kah kita menerima fakta yg diungkap? Sudah adil dan beradab kah kemanusiaan di negeri ini? #MenolakLupa #SadarSejarah #PulauBuru #Humanisme - Vander Lesnussa