Beberapa hari yang lalu, seorang teman meminjamkan buku dengan judul Quantum Ikhlas yang ditulis Erbe Sentanu. Teman tersebut rupanya sempat membaca post-ku di Path. Post-ku kurang lebih berbunyi tentang keinginanku untuk keluar sejenak dari rutinitas. Temanku menangkap postingan itu sebagai ‘teriakan’ minta tolong karena stress.
Tidak, aku tidak dalam fase stress. Itu bukan denial. Aku berpikir bahwa hidup ini terlalu pendek jika aku menghabiskannya dalam pola rutinitas yang sama. Aku akan seperti hamster yang terus berlari pada roda yang sama dan itu...membosankan. Aku ingin sejenak dua jenak, menikmati hijau yang berbeda dari pohon yang aku lewati, membaui bunga yang bergantian mekar di taman, bahkan tersenyum dan mendengar celotehan seorang kakek yang sering murotal di pinggir pasar.
Pagi ini, aku menyempatkan diri untuk membaca sambil mendengarkan CD dari buku Quantum Iklhas itu. Basically, i do not buy all of those transformation crap! Aku beranggapan itu hanya sekumpulan kata-kata yang dikemas baik oleh orang yang suka sekali berbicara. Aku sendiri mengasosiasikan kegiatan untuk mengaktivasi kekuatan hati dengan kegiatan outdoor seperti hiking dan diving. Dua kegiatan tersebut membawaku kedalam pemahaman yang lebih tentang diriku dan keberadaan Tuhan. Buku ini memberikan efek yang hampir sama, dengan menyadari bahwa kita adalah makhluk ciptaan (teknologi) yang sempurna maka kita diajak membersihkan hati dengan berpikir positif. The law of attraction, berpikir positif maka hal-hal positif akan menghampiri diri. Banyak sekali buku yang telah mengupas hal tersebut tetapi buku ini memberikan arti lebih pada perubahan mood dan pemahaman baru tentang diri kita sebagai makhluk Tuhan.