–(Hidup adalah Sendiri)– . Sebagaimana orang yang tak menghamba pada hawa nafsu. Saat orang-orang berebut minuman manis dan segar, ia akan memilih minuman pahit dan berbau. . Mengapa? Yang manis adalah racun dan yang pahit adalah jamu. Maka kemanisan hidup adalah kegetiran yang tersamar. . Sendiri? tidaklah masalah. Yang masalah adalah ketika kita sendiri lalu kita mempermasalahkannya. Karena barangkali keselamatan terletak dalam kesendirian itu. . Dalam kesendirian kita terbebas dari segala hiruk pikuk hati yang semakin menjadi. Kecuali dengan Dia yang selalu bergelayut dalam denyut nadi. . Saat sendiri. Kita bebas dan berlalu dalam sunyi tanpa ada sesak yang bertahta dalam relug hati. Dalam sunyi kita sedang berdiskusi dengan diri kita yang lain. Yang boleh jadi diri kita yang lain itulah yang harus kita waspadai. . Dalam sunyi kita juga sedang mendeklarasikan diri kita untuk menjadi lebih karang dari gempuran ombak kedigdayaan zaman yang semakin memekakkan. . Dalam sunyi pula seluruh kita berpacu untuk bermetamorfosa dengan proses yang tak selalu mudah tapi hasilnya akan selalu indah. . Dalam sunyi kau juga akan menjumpai sosokmu yang lain. Sosok yang selama ini tersaput debu-debu keramaian yang meninabobokan akal sehat dan potensi sesungguhnya dari makhluk yang bernama “Aku” dalam diri kita masing-masing. . Mereka yang terlihat bersama juga hakikatnya sendiri. Masing-masing dari mereka memiliki kesibukan hati sendiri yang ingin dimengerti demi keegoisan makhluk agung bernama “Aku” yang selalu bersemayam pada diri kita. Maka lahirlah manusia yang sok. Arogan. Sombong. Dan egois. . Kembali lagi … hakikat dari kita adalah se-onggok kesendirian. Namun untuk memenuhi segala kebutuhan mahkluk yang bernama “Aku” kita juga memerlukan kesendirian yang lain. . Oleh karenanya kesendirian ada bukan untuk kita ratapi. Bukan untuk kita kutuki atau caci maki. Tapi kesendirian ada untuk kita nikmati. Untuk kita manfaatkan menggali segala potensi yang tersembunyi. Untuk kita syukuri dalam rangka menjaga hati demi sosok yang tepat nanti. . Jadi siapa yang masih mengutuki kesendirian? Sini mendekat padaku, biar kesendirianmu aku deru jadi abu. . . Kaum Kusam Wonosobo, 21 Mei 2K17










