Lampu
Aku pikir lampu itu sekedar candaan masa kecil dengan Bapak. Ingat sekali Bapak pernah memberikan pertanyaan padaku dan Sita "Apa seng gawene mung madang ngising turu?" Tanya Bapak. Aku tak bisa menjawab begitu pun Sita. Kami terdiam semesta tetap berputar, jam dinding berdetak tanpa henti. Hening sejenak lalu Bapak bilang "Iso ora? Tak jawab dewe ya" ucap Bapak puas karena bisa memberikan pertanyaan yang sulit untuk kami. "Jawabane LAMPU, kan madangi sing turu" Bapak tertawa puas, aku dan sita masih berpikir lalu ikut tertawa.
Lampu bagi Bapak adalah kemewahan. Saat Bapak masih kecil listrik belum terpasang di rumahnya, beliau bercerita kalau mau belajar harus menyalakan lampu minyak, yang redup dan tidak terang. Tapi Bapak anak yang pintar (seingat ku?) dia pantang menyerah menghadapi keadaan. Menurut cerita beliau kalau pagi datang hidung bulek- bulek dan om yang lupa matiin lampu minyak berubah jadi hitam, karena kena asap sisa pembakaran. Mereka saling menertawakan satu sama lain. Saat itu aku belajar ternyata Bapak mengubah kemalangannya menjadi komedi dan tak ada cerita beliau yang ber-ending sedih.
Bagiku lampu itu bisa mengingatkanku tentang masa lalu, terang berarti senang, redup berarti sedih. Tak ada alasan, karena aku pernah tinggal di lampu yang terang dan redup.
Setelah dewasa aku tak ingin anak-anakku merasakan redupnya hidup, akan ku usahakan lampu di rumah selalu terang. Paling tidak mereka merasa aman dan nyaman di rumah. Walaupun tak ada sosok "Bapak" yang mengganti lampu yang mulai redup. Ada "Ibu" yang menggantikan "Bapak". Tenang nak jangan takut ya..










