Hai pembaca yang budiman! Hari ini di daerah saya cuaca sedang sangat panas. Walapun begitu, saya tetap semangat untuk menulis review karena hari ini saya akan mereview komik Indonesia lagi. Wow, akhir – akhir ini komik Indonesia mudah ditemukan di toko buku ya. Komik yang akan saya terbitkan juga sama dengan Wanara : sama – sama diterbitkan oleh Kosmik Publishing. Bagi kalian yang tidak tahu Kosmik Publishing, kosmik adalah penerbit khusus komik lokal yang baru saja berdiri dan produknya yang sudah dapat kalian temukan adalah Majalah Komik Kosmik, Wanara dan yang kali ini akan saya review : Raibarong. Raibarong sebagai sebuah komik, harus melalui beberapa proses terdahulu hingga terbit secara profesional dalam bentuk cetak. Ia sempat terbit secara elektronik, sempat mencoba crowdfunding agar bisa terbit secara independen hingga akhirnya diterbitkan oleh Kosmik. Cerita yang cukup bittersweet menurut saya. Mari kita kesampingkan drama penerbitannya, karena poin yang penting adalah isi dari komik Raibarong itu sendiri. Apakah Raibarong memang pantas untuk waktumu dan uangmu? Mari kita bahas :
Cerita dan Tokoh
Raibarong adalah komik aksi yang berfokus pada battle. Sejauh ini, komik yang satu ini mempunyai premis yang simpel namun efektif. Bahkan saya berani berkata bahwa Raibarong adalah salah satu komik lokal yang mampu membuat saya begitu excited di chapter pertamanya. It’s so good! Sekali lagi, simpel dan efektif. Saya sebagai pembaca dengan mudah dapat memahami plot, motif Raibarong dan karakter lainnya. Cerita di dalam komik satu ini mempunyai pace dan progess yang baik. Secara bertahap kita mengerti kira – kira setting dunia di Raibarong seperti apa. Walaupun masih belum jelas dunia sosial di Raibarong ini seperti apa dan di chapter manapun tidak ada petunjuk apakah plot Raibarong akan menjadi begitu masif. Kejanggalan volume 1 ini terdapat pada chapter 2 dan komedinya. Chapter pada hakikatnya sama persis seperti chapter 1 namun melalui Point Of View karakter yang berbeda. Semakin janggal karena POV berfokus pada karakter yang merupakan dicari oleh Raibarong namun ia tidak muncul di chapter – chapter selanjutnya. Hal ini membuat saya bingung, apakah karakter tersebut merupakan protagonist (sehingga Raibarong memiliki dua protagonist) ataukah justru antagonist. Hal yang mengganjal kedua adalah komedinya. Pada awalnya lucu namun ternyata komedinya garing seiring berkembangnya cerita. Komedi andalan komik ini adalah breaking 4th wall dimension. Kedepannya saya berharap komedinya lebih dikembangkan lagi. Untuk karakternya, sama dengan cerita : simpel dan efektif. Mudah diingat baik sifat mereka ataupun desain mereka. Terutama karakter – karakter utama.
Estetika Gambar
Saya tidak bisa berhenti berpikir di chapter pertamanya bahwa gambar Raibarong sangat mengingatkan saya pada manga Blade Of Immortal. Keduanya mempunya gorensan gambar yang terkesan ‘kasar’. Untungnya gaya gambar mas Zaqi tetap mempunyai ciri khasnya sendiri. Sehingga hal tersebut tidak mengganggu saya lebih lanjut. Gaya gambar mas Zaqi yang kasar membuat atmosfir aksinya semakin terasa dinamis. Yang cukup saya sayangkan adalah tidak adanya spread page. Spread Page sudah biasa ditemui di manga maupun komik Amerika. Dimana panel gambar bisa memakan dua halaman untuk menciptakan keepikan suatu adegan di dalam komik. Komik aksi seperti Raibarong biasanya mengeksplotiasi spread page untuk menambah keepikan adegan aksinya, namun di komik ini tidak ada spread page. Komik ini sepertinya mencoba menutupinya dengan panel – panel yang besar namun dikemas dalam satu halaman. Keputusan yang baik namun sebagai pembaca komik aksi, ada suara di kepala saya yang selalu meminta gambar – gambar epik. Mungkin hal ini terjadi karena keputusan editor atau karena demi keefektifan halaman. Saya tidak tahu. Opini saya mengenai desain karakter di Raibarong campur aduk. Beberapa karakter seperti Raibarong dan Swastika menurut saya didesain dengan baik. Bahkan saya berani bilang cukup ikonik. Jika si Raibarong cuma digambar siluetnya, saya tetap akan tahu itu adalah dia. Karakter penting yang desainnya ‘kurang’ adalah si pria pirang. Desain karaker figuran juga kebanyakan tidak inspiratif. Namun saya paling terganggu dengan konsistensi gambar figuran. Konsistensi paling baik terdapat di chapter 1. Namun semakin kebelakang semakin buruk konsistensinya.
Cover dan Cetakan
Kosmik masih melakukan pekerjaan yang bagus dengan covernya. Hardcover berwarna yang bisa dilepas dan softcover yang hanya didominasi 2 warna mebuat cover komik ini terlihat elegan. Desain hardcovernya menurut opini saya tidak sebagus Wanara. Saya tidak tahu alasannya mengapa, tapi bukankah lebih epik jika hardcover raibarong juga illustrasi besar dan berwarna. Hardcover wanara bisa saya lepas dan bisa saya fungsikan sebagai pajangan. Tapi karena hal ini sangat bersifat subyektif, bukanlah suatu yang cukup mengganggu. Satu lagi yang saya sadari, ternyata hardcover tidak mempunyai ketahanan yang baik. Bagian lipatan cepat menjadi putih dan ujung atas dan bawahnya mudah rusak karena gesekan. Saya harus hatu hati mengambil dari rak buku saya demi menjaga kualitas cover komik ini.
Verdict : Worth It
It’s fun, simple and cool. Bahkan saya cukup yakin jika kedepannya komik ini ditulis dan digambar dengan lebih baik. Terutama jika mas Zaqi bisa menciptakan karakter ikonik lagi, maka ia bisa lebih banyak menarik perhatian pembaca kasual. Terutama mereka yang menyukai komik - komik battle dengan setting pendekar. Bagi kalian yang ingin membaca wanara bisa segera membelinya di toko buku terdekat! Atau jika kalian ingin survey dulu, kalian bisa membacanya di majalah komik Kosmik atau di website Kosmik (sayangnya kalian harus daftar dulu untuk bisa mengakses web-nya).