Mengapa kita takut untuk menjalani sidang Akademik? Takut dihabisi?
Iya. itu ketakutan ku, sebagai mahasiswa biasa yang tak pernah ikut olimpiade akademik apapun di semua jenjang SD SMP SMA.
Tapi poin nya bukan itu, melainkan, "aku takut dibilang bodoh oleh para penguji itu" - ini aku konklusikan setelah proses jurnaling panjang dan diskusi dengan istri. Luka pengasuhan dan luka trauma di pertemanan sosial zaman sekolah dulu membekas hingga terbawa di pendidikan pasca sarjana.
Dihabisi waktu sidang. Hal ini seperti sudah menjadi trend buruk yang dinormalisasi di dunia akademik pendidikan tinggi. Bukan malah dihapus, tapi malah dilestarikan dengan dalih pendidikan mental. Saya tidak sepenuhnya setuju.
Tidak lantas mahasiswa yang dihabisi waktu sidang, kemudian dia dapat merevisi riset dan manuskripnya lalu dapat memenangkan nobel seperti Einstein.
Jika judulnya adalah thesis defense, baik, maka mahasiswa memang harus defense terhadap apa yang telah dikerjakannya dalam konteks ilmiah bukan konteks yang lain.
Seringkali, mahasiwa dibunuh naluri akademiknya dengan dijatuhkan secara mental.
"kan dosen-dosen lama ga peduli mental, mereka maunya kita jadi strong"
Tapi bukan begitu caranya.
Dunia akademisi berbeda dengan dunia militer, dimana mereka menggunakan skema "mengosongkan pikiran dan alam bawah sadar dengan kelelahan fisik dan mental, kemudian memberikan dogma baru untuk setiap prajurit yang dilatih" - Tapi kita ini akademisi. tidak ada skema pelatihan seperti itu.
Akademisi dididik untuk menjadi pemikir handal, dimana biasa tumbuh dalam ruang diskusi yang intens namun membangun, mengkritisi dengan nada positif berdasarkan alasan yang logis sesuai sains.
Mahasiswa doktor menempuh perjalanan sunyi dengan tingkat kerentanan kesehatan mental yang amat tinggi. Kita masih belajar melakukan riset akademik. Kita butuh saran dan masukan yang membangun, bukan menghakimi.
Tidak ada yang sempurna, kami juga manusia biasa. Kami butuh bimbingan, bukan sebagai objek pembantaian.
Bintaro, 14 Februari 2026














