Gugus Mimpi
Senyap malam tadi membuatku tertidur lelap, mengantarku masuk ke dalam berlipat-lipat mimpi.
Ada empat mimpi, yang dua cukup lazim dan yang lainnya sedikit ganjil.
Tentang Pembangkang
Secara tiba-tiba aku berada di suatu ruangan yang rasanya sangat kukenal, sedikit ragu tapi yang jelas ruangan itu cukup luas, berbentuk persegi dengan panjang dan lebar yang persis sama seperti kamar ibuku. Temboknya sama putih dengan atap yang sama tinggi. Perbedaan hanya kutemukan pada isi ruangan. Dalam mimpiku ruangan itu kosong melompong, hanya ada aku dan ibu.
Kami berdiri di tengah ruangan, saling pandang dengan tatapan yang sama-sama menantang. Ibu marah, sepertinya aku berbuat salah, entah. Seperti biasa, aku membantah dengan gagah karena merasa tak bersalah. Suara kami sama keras, kata-kata mengalir deras dan menjelma menjadi gema yang membahana, tak memberikan sedikitpun ruang untuk tenang boleh bertandang. Sepanjang mimpi hanya berisi tuduhan dan bantahan yang terus mengarus tak berpenghulu, tanpa penjuru, tanpa tuju.
Lenyap dalam Gelagap
Kali ini aku berada di tengah keramaian, sepertinya sedang ada sebuah pesta perayaan yang terletak di suatu taman yang cukup lapang. Banyak sekali orang berlalu lalang, beberapa dari mereka menikmati makanan yang terhidang, dan yang lainnya bercanda tawa dengan riang. Sejauh mata memandang, hanya ada beberapa orang yang kukenal.
Aku duduk di sebuah kursi kayu panjang dengan meja yang lumayan besar di pinggir taman. Yang mengherankan, setiap orang yang berjalan melintasiku pasti menyodorkan amplop berisi uang. Tanpa tanya ataupun curiga, kubuka satu per satu dan kukumpulkan menjadi satu. Jadi sekarang, aku hanya memiliki sebuah amplop yang kemudian kumasukkan ke dalam saku bajuku.
Aku berjalan berkeliling taman dan tiba-tiba aku merasa ada sesuatu yang hilang. Kurogoh sakuku, dan sesuai dengan dugaanku, amplopku raib secara gaib. Aku panik dan kemudian berbalik, tak terhitung banyaknya orang yang berdiri di hadapanku saat itu. Setiap dari mereka berusaha untuk menenangkan, mencoba meredakan kebingungan.
Diburu Sang Pemburu
Seketika aku berada di tengah jalan beraspal. Aku duduk berlutut dalam keadaan kelut dikuasai rasa takut. Aku merasa ada sesuatu yang mengikuti, tapi berpura-pura tak peduli. Tak mau berasumsi, kuputuskan untuk menegakkan kaki dan berdiri.
Dipenuhi keyakinan aku berjalan perlahan, namun baru beberapa langkah, aku dijajah oleh rasa penasaran yang tak tertahankan. Dengan degup jantung yang amat kencang, perlahan-lahan aku menoleh ke belakang. Aku tersentak tetapi kakiku tak dapat bergerak. Ada seekor ular kobra besar yang sedang memperhatikanku dengan tatapan kaku. Segala usaha kulakukan, seluruh tenaga kukerahkan. Kukumpulkan kepingan asa yang berserakan, berharap tubuhku bisa bergerak, beranjak untuk menghilangkan jejak. Kupercepat derap langkahku sambil sesekali menengok ke belakang, dia terus mengikutiku dengan tenang, tanpa bimbang.
Seteru Beralih Syahdu
Ini hari kedua kau menyelinap masuk ke dalam mimpiku. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini terasa lebih mesra. Aku duduk di belakangmu, dan kau bersandar ke tubuhku. Posisi kepalamu kini berada tepat di bawah daguku. Aku memelukmu kuat seraya berkata “Maaf ya, jangan marah. Memang aku begini” Kau mengarahkan wajahmu ke atas dan memandangku sembari tersenyum “Yaudah nggak marah, tapi jangan gitu lagi ya.” Kemudian kita sama-sama diam, tenggelam dalam jutaan rasa yang tak terlukiskan.














