Ladder of Participation
“Kita tidak bisa memilih terlahir dari keluarga seperti apa, tapi kita selalu bisa memilih untuk melahirkan keluarga seperti apa”
Kayaknya gak jarang kita nemuin kasus orang tua yang beranggapan kalau anak-anak itu masih minim pengetahuan sama minim pengalaman. Ini berefek ke sang anak yang gak dapet kesempatan buat ngambil keputusan yang tepat. Awalnya saya mikir hal yang sama. Namanya juga anak-anak. Kita bantu ambilin keputusan dengan niat kita yang ingin memberikan yang terbaik untuk sang anak.
“Minds are like parachutes, they online function when open”, - Thomas Dewar.
Pemikiran saya mulai berubah pas saya baca satu materi menarik yang judulnya Arnstein’ Ladder of Citizen Participation atau Tangga Partisipasi dari Sherry Arnstein (1996). Tapi sebelum kesana, saya ingin coba share ilustrasi dibawah ini.
Dalam bukunya yang berjudul A New Weave of Power & Politics: The Action Guide for Advocacy and Citizen Participation, Vene Klasen bilang ada empat tipe kuasa:
Power to: Membantu yang lain bersuara;
Power within: Kepercayaan diri, pengetahuan;
Power with: Semangat Bekerjasama;
Power over: Ingin mendominasi, melemahkan pihak lain.
Relasi power over ini seringkali bersifat hierarkis dimana terciptanya kekuasan satu pihak kepada pihak lainnya. Untuk kasus Power Over, contoh digambar ini Seorang suami yang kena masalah di tempat kerja, kemudian melampiaskan amarahnya ke sang istri lalu anak nya menjadi korban, kemudian sang anak meniru sikap orang tuanya. Kita bisa melihat relasi kuasa yang ingin mendominasi dan melemahkan pihak lain seringkali menempatkan anak atau korban di hierarki paling bawah. Konstruksi sosial budaya yang ngebuat mereka memiliki posisi seperti itu. Nah pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana partisipasi dapat mendukung proses kita membentuk dan membagikan kekuasaan yang positif/Power to ?
Kalau teori dari Arnstein berfokus ke partisipasi masyarakat, Dr Roger Hart (Co-Director of The Children’s Environments Research Group) membuat tangga partisipasi yang berfokus ke partisipasi anak. Tangga ini membantu kita memikirkan tentang dimana kita sebenarnya dan dimana kita ingin berada dalam hal partisipasi untuk Anak.
Tangga ini gak menyarankan kalau kita harus menempatkan anak di tangga paling diatas. Bukan, bukan itu maksudnya. Melainkan tangga ini dibuat untuk ngebantu kita biar kita punya tujuan untuk keluar dari anak tangga yang lebih rendah (Tokenism, Dekorasi, apalagi manipulasi). Tapi emang apa sih Tokenism, Dekorasi, dan manipulasi itu?
Manipulasi: Pada tahap ini, anak muda tidak memahami isu yang diangkat dan apa tujuan yang mereka lakukan. Contoh yang paling gampang itu kaya yang ada di Film 3 Idiots dimana Farhan di’takdir’kan menjadi seorang engineer sama orang tuanya, bahkan saat di hari pertama ia Lahir. Disitu ia tidak tau engineer itu apa dan ia tiba-tiba diarahkan untuk masuk ke ICE (Imperial College of Engineering). Padahal ternyata Farhan adalah seorang yang ingin menjadi seorang fotografer di NatGeo.
Dekorasi: Anak muda dilibatkan hanya untuk pemanis dan penggembira untuk kepentingan orang dewasa. Hal ini sering banget kita temuin, Contohnya seorang ibu yang membawa anak kecil ngamen untuk mendapatkan simpati/respon emosional orang lain, contoh lain di beberapa event kita sering melihat anak - anak diberi kaos untuk meramaikan kegiatan atau sekedar memenuhi ‘KPI adanya partisipasi anak muda’ padahal sebenarnya mereka tidak terlibat dalam perencanaan maupun paham akan tujuan kegiatan tersebut.
Tokenism: Anak muda memberikan pendapat, tetapi kenyataannya sedikit atau bahkan tidak ada kesempatan atau pilihan-pilihan sesuai dengan kebutuhan anak muda sebenarnya. Misalkan suatu hari seorang ibu memutuskan untuk membeli jaket baru untuk sang anak. Si anak bilang ke ibunya kalau ia menginginkan jaket yang water repellent, ukuran L, dengan warna yang tidak terlalu mencolok. Tidak lupa ia minta ibunya untuk mengajaknya saat beli jaket tersebut. Ibu nya mendengarkan apa keinginan anaknya. Tokenisme terjadi pas beberapa waktu kemudian, sang ibu tiba-tiba sudah membelikan si anak jaket. Dengan ukuran yang lebih gede (dengan alasan agar bisa digunakan saat besar nanti) dan warnanya pun mencolok karena sebenarnya warna yang dibeli itu warna kesukaan ibunya, bukan warna kesukaan si anak.
Hart bilang kalau kita harus keluar dari tiga anak tangga yang sering disebut MADETO (Manipulasi, Dekorasi, Tokenism) ini dan memikirkan cara untuk benar-benar melibatkan mereka. Karena hingga akhirnya, tidak peduli seberapa berbakat anak kita, mereka tidak akan kemana-mana tanpa adanya kesempatan dari kita, termasuk pelibatan dalam mengambil keputusan.











