Menjadi Pendaki Gunung yang Bertanggung Jawab
Perilaku pendaki gunung masih menjadi persoalan serius dalam dunia pendakian Indonesia. Regulasi yang tegas bagi para pegiat alam bebas diharapkan dapat menjadi solusi sekaligus peringatan agar gunung tak makin rusak.
Menjadi pendaki gunung yang bertanggung jawab tidak cukup hanya bermodalkan keinginan saja. Ada sejumlah hal yang perlu diketahui dan dipelajari mulai dari aturan mendaki, keselamatan, hingga konservasi. Maraknya permasalahan dalam kegiatan pendakian gunung terletak pada kurangnya pengetahuan, persiapan fisik, dan kepastian regulasi.
Ketika mendaki, seorang pendaki juga perlu mengetahui medan yang dituju, kondisi iklim, ketinggian gunung, dan kredibilitas orang yang diajak mendaki. Meskipun saat ini banyak akses maupun informasi perjalanan tentang gunung yang dituju, namun jika seorang pendaki tidak memiliki pengetahuan, manajemen logistik dan waktu, serta tidak didampingi oleh orang yang berpengalaman dapat menimbulkan risiko.
“Sebelum kita melakukan perjalanan adakalanya kita mengukur kemampuan diri. Jadi ga asal ada ajakan dari teman lalu kita berangkat tanpa ada persiapan,” kata Martin Rimbawan, 7 Summiter Indonesia di Jakarta, (9/3) lalu.
Mengetahui Status Sebuah Kawasan
Tren pendakian gunung yang semakin meningkat setiap tahun berpotensi mengganggu suatu kawasan konservasi apabila tidak dilandasi aturan yang memadai. Pasalnya kawasan yang diperbolehkan untuk kegiatan pendakian adalah Taman Nasional dan Taman Wisata Alam. Sedangkan untuk kawasan Cagar Alam dibatasi dengan aturan yang sangat ketat dan hanya diperbolehkan untuk tujuan penelitian bukan penjelajahan. Setelah mengetahui status sebuah kawasan adakalanya pendaki mencari informasi mengenai jalur resmi pendakian. Maraknya jalur tidak resmi akibat pembukaan jalur baru justru menambah kerusakan alam baru.
“Yang terjadi ketika kita memotong atau membuka jalur baru akan timbul bekas hingga akhirnya merusak suatu kawasan,” ucap Harley B. Sastha, penulis buku “Mountain Climbing For Everybody”
Harley mengatakan pembukaan jalur baru juga berdampak pada keselamatan pendaki lain. Sebab keberadaannya justru menambah faktor penyebab pendaki hilang atau tersesat. Ia menjelaskan bahwa jalur resmi memiliki petunjuk jelas yang ditandai dengan adanya papan informasi.
“Kuncinya sebelum mendaki gunung baca dan riset terlebih dahulu mengenai jalur pendakian baik yang resmi maupun tidak resmi,” katanya.
Manajemen Logistik
Survival terbaik adalah manajemen perjalanan termasuk di dalamnya manajemen logistik. Pendaki perlu memiliki pengetahuan mengenai manajemen logistik ketika berencana mendaki. Manajemen logistik dibutuhkan untuk mengatur perbekalan dan peralatan yang dibawa selama bertahan di alam bebas. Hal ini biasanya disesuaikan dengan rencana operasional perjalanan (ROP), yakni jumlah hari yang akan ditempuh selama pendakian.
“Contohnya ketika mendaki gunung Raung peralatan dan jumlah logistik yang dibawa berbeda saat mendaki gunung Gede. Karena gunung Raung sifatnya lebih teknikal dengan waktu tempuh yang panjang,” ujar Martin.
Semakin berat medan suatu gunung maka semakin besar kebutuhan kalori sehingga perlu diperhitungkan seberapa banyak logistik yang dibutuhkan. Idealnya untuk mendaki selama 2 hari, pendaki sebaiknya membawa logistik untuk 3 hari demi mengantisipasi faktor perubahan cuaca atau keadaan darurat lain.
SNI Pengelolaan Pendakian Gunung
Banyaknya kecelakaan dalam kegiatan pendakian gunung mendorong Federasi Mountaineering Indonesia (FMI), Asosiasi Pendaki Gunung Indonesia (APGI), dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) merancang Standar Nasional Indonesia (SNI) mengenai Pengelolaan Pendakian Gunung. Kecelakaan di gunung bukan hanya melibatkan pegiatnya melainkan juga pembuat kebijakan. Standar tersebut nantinya akan mengatur kemampuan apa saja yang harus dimiliki seorang pendaki hingga regulasi mengenai pemeriksaan kesehatan.
“Jadi nanti pendaki tidak hanya membawa surat keterangan sehat, tetapi juga diperiksa langsung kesehatannya di pos pendaftaran,” kata Fandhi Achmad, International Trail Runner dan APGI.













