Hari ini sebuah kutipan pendek menolongku.
"Cepatlah ikhlas, supaya kamu cepat naik kelas."
Kutipan itu aku baca dari akun instagram (at)rasakebenaran yang merupakan 'akun dakwah' Kristen. Terus gimana ceritanya kutipan itu menolongku?
Beberapa hari lalu, aku bertemu temanku (dia mungkin membaca ini).
"Aku ngerasa harus nangis deh. Ada sesuatu dalam diriku yang harus di-release tapi bahkan aku nggak ada 'pintu' kesedihan untuk mengakses emosi-emosi ini."
Untuk ukuran orang yang perasa sepertiku, nggak nangis di saat seharusnya nangis tuh bikin hatiku ngerasa nggak fungsional. Ada alarm yang harusnya menyala, kan? Kemudian aku pikir, "apa yang bikin alarmnya mati?"
Menurut pengalamanku, diam adalah respons terakhir ketika semuanya gagal, atau ketika kita merasa kegagalan itu akan terjadi. Ini bersesuaian dengan realita yang aku hadapi di depan. Aku tahu aku akan menyerah dan aku sudah mempersiapkan hati untuk kegagalan (atau penundaan) ini. Katanya, otak kita memang memutuskan semua respons diam/freezing ini secara otomatis yang bertujuan untuk melindungi diri dari rasa kewalahan.
Freezing juga dapat didefinisikan "berpura-pura mati". Tapi mengaktifkan mode ini setiap hari, secara konsisten dalam jangka waktu yang lama, membuatku menutup diri, atau "mati di dalam". Hampir mustahil rasanya untuk keluar dari kondisi membeku kecuali/sampai kita merasa aman dalam tubuh kita. Dan akhirnya baru sadar, "lack of support" itulah yang bikin aku ngerasa nggak aman pada siapapun.
Di samping itu, aku juga menghadapi gagal demi gagalku sendirian tanpa punya back up plan selain pasrah. Yang sangat aku butuhkan saat itu adalah seseorang yang ada untuk aku tapi kemudian aku menyadari bahwa cuma aku yang peduli diriku sendiri. Tapi yang kaya gini-gini tuh pasti setiap orang pernah ngerasain (bisa jadi orang lain lebih parah). Cuma belakangan ini, rasanya jadi hampa ketika kehilangan "sense of fight" itu. Mungkin pada dasarnya manusia memang diciptakan untuk berjuang dan bersusah payah, makanya saat aku nggak tau lagi apa yang mau aku perjuangkan, rasanya hampa.
Kayanya aku jadi sadar. Sadar bahwa berkorban itu bukan hanya berjuang mengerahkan sesuatu melainkan ada jenis berkorban dalam konteks berhenti memperjuangkan sesuatu (menyerah berserah).
Benar bahwa sebelum ini aku sudah janji, kalau aku gagal aku nggak akan marah ke Allah. Tapi kayanya sepekan ke belakang, aku jadi marah ke diri sendiri karena nggak bisa berbuat apa-apa ketika semuanya berjalan nggak sesuai rencana. Aku marah ke diri sendiri dan berandai-andai jika saja aku seperti orang lain yang punya sumber daya tertentu untuk menghamba lebih gacor.
Tapi aku salah. Penghambaan terbaik haruslah dimulai dari keridhaan kita terhadap takdir. Jadi baik berhasil atau gagal, selama aku ridha Allah Maha Bijaksana atas setiap percepatan dan penundaannya, itu sudah cukup.
Jadi sekarang nggak mau di mode freezing lama-lama. Aku mau (dan bisa kok) cepat ikhlas, soalnya aku mau naik kelas. Hanya tinggal menunggu waktu untuk aku bisa mencair kembali sepenuhnya dan menyesuaikan bentukku dengan "wadah" yang menampungku (re: Islam), begitu kan sifat benda cair?
Akhir kata, aku menemukan satu doa yang bagus sekali. Rasulullah mengajarkan kita ada baiknya membaca doa berikut ini yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar.
“Dengan nama Allah yang menguasai diri, harta, dan dinku. Tuhanku, ridhakan aku (kondisikan aku untuk ridha) terhadap ketentuan-Mu (qadha). Berkahilah aku (tambahkan kebaikan) pada semua yang ditakdirkan (qadar) untukku sehingga aku enggan menyegerakan apa yang Kau tunda dan enggan menunda apa yang Kau segerakan.”
— Giza, mudah-mudahan semakin dewasa dalam menyikapi qadha dan qadar Allah dan menerima diperjalankan di sabil apapun selama itu lillah.












