Di negeriku, Dewi Themis tak lagi menutup matanya. Ia ditelanjangi rasa takut. Di negeriku, Dewi Themis pun kini beragama.
“tumbalkan orang baik itu atau kerusuhan” jawabnya.

#dc comics#batman#dc#bruce wayne#dc fanart#dick grayson#tim drake#batfamily#batfam



seen from United Kingdom
seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from United States

seen from United States

seen from Canada
seen from France

seen from Malaysia
seen from Philippines

seen from Malaysia

seen from United Kingdom
seen from France

seen from Russia

seen from United States
seen from United Kingdom

seen from United States
seen from China
seen from Netherlands

seen from United Kingdom
seen from Malaysia
Di negeriku, Dewi Themis tak lagi menutup matanya. Ia ditelanjangi rasa takut. Di negeriku, Dewi Themis pun kini beragama.
“tumbalkan orang baik itu atau kerusuhan” jawabnya.
#RIPJustice https://www.instagram.com/p/CAvPtEQpveK/?igshid=jrdk4dlunktp
Tentang Ayah.
Banyak yang bertanya, siapa Ayah saya. Banyak juga yang sudah tahu, siapa Ayah saya.
Namanya Asep Hilman. Ayah adalah seorang guru PKn di SMA Negeri 14 Bandung. Ketika Ayah sedang kuliah Magister di UPI, Ayah bertemu dengan seseorang dari Dinas Pendidikan Jawa Barat, yang melihat potensi diri Ayah, sehingga Ayah pindah dari guru menjadi staf Dinas Pendidikan Jawa Barat.
Dimulai dari staf, Ayah kemudian naik menjadi Kepala Seksi, lalu Kepala Bidang, hingga akhirnya setelah melalui jalan yang panjang, terpilih sebagai Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat.
Bukan jalan yang mudah bagi seorang Asep Hilman meraih posisi Kadisdik. Banyak yang meragukan, skeptis ketika melihat Ayah hanya memiliki satu tangan. Ya, tangan kanan Ayah diamputasi karena kecelakaan bus, ketika aku kecil. Mereka menganggap sebelah mata akan kondisi fisik Ayah. Namun, sedikit demi sedikit, setelah mengepalai berbagai Seksi dan Bidang di Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, Ayah berhasil meraih kursi panas tersebut. Murni karena kemampuannya.
Sayang, ada beberapa oknum yang benci melihat Ayah terus maju. Sedikit demi sedikit mereka menerjang jalan yang Ayah lalui, membuat Ayah terhambat bahkan mundur.
Entah siapa mereka itu. Mereka yang punya pikiran jahat. Hingga demikian tega menjatuhkan seseorang hanya untuk memuaskan ambisinya. Mereka yang lupa, bahwa setelah hari ini, akan ada hari dimana mereka akan mendapatkan jera. Mereka yang kini sedang tertawa melihat Ayah terjatuh sangat dalam.
#portraitpage #kamitidaktakutterorbom #ripjustice #riphukumindonesia - #후미진 #곳 #너 ➖ #like #picture_to_keep #like4like #amuntai #barabai #alabio 🇱 #yuk #cek #IG #괌 #風景 #자연 - #배재대 #운동복 #덩크슛 • #프로필 #profile #model (at Salam Subuh Buat Semua Kaum Muslim Dan Muslimat)
Ini video kedua, masih tentang ayah
Part 1: Singkat cerita tentang Kasus Aksara Sunda yang menyeret nama Ayah
First chapter...
Pada tanggal 23 Agustus 2017, Dr. H. Asep Hilman telah menyampaikan pledoi terkait tuduhan melakukan korupsi dalam pengadaan buku Aksara Sunda yang dijalankan pada tahun 2010. Kasus ini dilaporkan ketika Asep Hilman tengah menjabat sebagai Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat selama enam bulan pada tahun 2015. Asep Hilman mendapat tanggung jawab sebagai Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat melalui proses Open Biding yang ketat dan transparan. Pada tahun 2010, Asep Hilman merupakan Kepala Bidang Dikmenti di Dinas Pendidikan Jawa Barat. Ketika itu, Asep Hilman menolak pengadaan buku Aksara Sunda dengan nilai tujuh milyar rupiah dalam APBD Murni. Menurutnya, angka 7 milyar terlalu besar kalau hanya untuk siswa siswa SMK, padahal buku Aksara Sunda diperlukan di semua jenjang pendidikan, dari mulai SD, SMP, SMA, dan SMK. Maka, Asep Hilman menyatakan bahwa pengadaan buku tidak tepat jika dijalankan oleh seksi PSMK. Asep Hilman kemudian melayangkan nota dinas kepada Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat yang menjabat saat itu, agar pengadaan buku ini lebih tepat dijalankan oleh Subag Umum Sekertariat Disdik dan diawali dengan Bintek guru-gurunya oleh Balai Pengembangan Bahasa Daerah, Nota Dinas ini tidak mendapatkan jawaban dari pimpinannya. Pada bulan November terjadi proses perubahan APBD untuk pengadaan Buku aksara sunda ini dari semula sebesar 7 Milyar menjadi 4,7 Milyar yang diikuti proses lelang buku tersebut dalam waktu yang bersamaan. Proses perubahan anggaran dan pelaksanaan lelang ini tidak diketahui Asep Hilman karena sejak tgl. 28 September sampai dengan 8 Desember 2010 Asep Hilman ditugaskan oleh Gubernur Jawa Barat untuk mengikut Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan. Dengan ketentuan Asep Hilman dibebastugaskan dari jabatannya sebagai Kepala Bidang Dikmenti Dinas Pendidikan Jawa Barat. Lima tahun setelahnya, pada tahun 2015, Asep Hilman dilaporkan dengan tuduhan korupsi pengadaan buku Aksara Sunda. Terdapat beberapa kejanggalan dalam kasus ini sedari awal, diantaranya yaitu; 1. Waktu yang tertera pada dokumen-dokumen yang dijadikan bukti dalam perkara ini berbarengan dengan kegiatan Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan. Artinya, Asep Hilman sudah tidak mempunyai kewenangan untuk menandatangani dan menyetujui pengadaan buku Aksara Sunda 2. NIP yang berbeda-beda pada tiap dokumen yang dijadikan sebagai bukti. 3. Tanda tangan non-identik yang tertera pada dokumen yang dijadikan sebagai bukti. Tanda tangan ini telah diuji oleh Labkrim Mabes Polri sebagai satu-satunya lembaga yang diakui kapabilitasnya oleh negara. 4. Tidak ada aliran dana ke rekening pribadi Asep Hilman. Hal ini sudah dibuktikan melalui proses hukum sesuai dengan prosedur yang berlaku.
Bersambung ke post berikutnya...
#SaveAsepHilman
Ini tulisan adik aku, for those who doesn't recognice the news...
Sekitar akhir tahun 2015 saya dapat kabar kalau ayah dilaporkan atas penyalahgunaan anggaran buku Aksara Sunda dengan nilai yang gede banget. Tahun itu, ayah baru menjabat posisi sebagai kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat. Sedangkan kasus anggaran buku Aksara Sunda terjadi pada tahun 2010. Saya kaget. Rasanya seumur hidup saya selalu hidup berkecukupan, tidak pernah merasakan cobaan yang berat. Saya kaget. Kalaupun iya, uangnya ke mana? Toh selama rentang waktu lima tahun tidak ada perubahan signifikan yang keluarga kami alami. Kami masih menempati rumah yang telah kami huni selama belasan tahun. Kendaraan yang dibeli oleh orang tua saya jumlahnya tidak bertambah, nilainya juga tidak banyak berubah. Kalaupun berubah, itupun masih dalam batas wajar. Toh kedua orang tua saya bekerja. Jadi, saya pikir, janggal juga kalau ada orang yang menuduh ayah sebagai pelaku korupsi. Oh iya, salah seorang JPU telah melakukan penelusuran terhadap rekening ayah serta kemungkinan2 adanya aliran dana tersebut. Hasilnya nihil. Uang yang ada ya uang yang memang hak ayah saya. Kemudian hidup kami berjalan dengan lancar dan bahagia. Sampai pada hari antikorupsi tanggal 9 Desember 2016, ayah saya dipanggil dan ditetapkan jadi tersangka. Wuih, tiba-tiba berbagai macam wartawan dihadirkan. Kalau boleh saya berburuk sangka, mungkin ayah saya memang sengaja ditampilkan untuk 'menunjukkan' kinerja orang-orang tertentu. Seakan ada pihak yang mau bilang, "Lihat, nih, di hari antikorupsi kami sudah menangkap tersangka korupsi! Kami kerja bener, kok! Kasih kredit, dong. Masukkin berita, gitu. Masukkin koran! Kapan lagi kami bisa jadi pahlawan di momen yang tepat?" Tapi, sayangnya, mereka salah tangkap. Ah, saya nggak punya kapasitas buat kasih lihat bukti segala macem. Saya bukan orang hukum. Lihat aja, cari di google, nama ayah saya. Ikutin beritanya. Gampang, kok, nemuin kejanggalan-kejanggalan mengenai kasus yg menyeret ayah saya ini. Sampai akhirnya, babak baru dimulai. Minggu ini akan ada sidang putusan ayah. Ayah sudah mengimbau kami untuk menerima kemungkinan terburuk. Haha. Saya cuma bisa ketawa getir. Kok bisa, ya, orang yang menghabiskan waktunya untuk mengabdi, mengurangi budaya korupsi di dinas terkait, bekerja sesuai dengan bidang yang udah dijalaninya selama puluhan tahun, pergi subuh pulang gak tentu karena harus pergi ke daerah-daerah di Jawa Barat, dipaksa untuk siap mendapatkan hukuman atas perbuatan yang tidak dilakukannya? Aneh. Gini, lho... Ayah saya mungkin bukan orang terpintar. Tapi kalau saya perlu menunjukkan, siapa sih contoh orang yang bertanggung jawab penuh atas pekerjaanya, ya salah satunya ayah saya. Ayah saya orang baik. Baik banget. Kalaupun pernah berbuat salah, korupsi bukan salah satu hal dari kesalahan ayah. Dunia pendidikan itu bukan batu loncatan buat ayah. Saya tau persis. Dunia pendidikan itu dunianya ayah. Sekarang, sebagian besar dari dunianya direnggut sama orang yang sebel karena mereka jadi susah buat ngelakuin korupsi di dinas terkait sejak ayah jadi kadisdik. Tapi mau gimanapun orang berusaha buat ngerampas itu, ayah akan tetap hidup di dunia pendidikan. Dunia pendidikan bukan hanya dunia yang telah menghidupi ayah secara materi, tapi juga yang membuat ayah menjadi 'hidup' dalam menjalani hidup. Dunia pendidikan nggak pernah membuat ayah menjadi robot untuk menghasilkan uang lebih banyak atau untuk mendapat jabatan yang tidak ada akhirnya. Sulit bagi saya untuk tidak melibatkan perasaan, pengalaman, dan posisi sebagai anak ketika membicarakan Bapak Asep Hilman. Saya tidak selalu mengatakan ini dengan gamblang dan terbuka. Tidak banyak yang dapat saya lakukan untuk membantu ayah saya. Tapi setidaknya saya dapat membantu menyebarkan informasi yang sebenar-benarnya mengenai ayah saya.
1000 lilin untuk Ahok 🔥🔥 #ripindonesiajustice #ripjustice #saveahok (di Monumen Tugu Pahlawan & Museum Surabaya)