Tentang Ayah
"Ada manusia yang paling ingin aku peluk,
Tapi aku malu,
Tidak juga malu sebenarnya,
Hanya angkuh sebagai lelaki dewasa." Kata Iksan skuter dalam lagu "Ayah" nya.
Ayah, wujud pengorbanan dalam tindakan, Cinta dalam diam, Kasih yang senyap tak terucap
"Laki-laki gaboleh gampang ngeluh" ucapmu dahulu ketika aku masih kecil. Yang dibuktikan dengan dirimu yang selalu ingin tampil gagah didepan anak lelakimu ini.
Ayah; sosok pengagum dalam sunyi.
Darimu aku tahu, ketiadaan ucap tak pernah mewakilkan rasa yang seolah selalu mendekap, sebab kata terlalu miskin untuk mewakilkan rasa.
Saat duniaku dilanda gemuruh, pun engkau seolah terlihat acuh, padahal aku tahu; diam-diam engkaulah yang paling gaduh bertanya "ada apa?" pada ibu.
Ayah, terkadang diam-mu dan egoku untuk mengajakmu berbicara membuat dadaku seolah terasa memar. Aku tahu, engkau rindu aku yang dulu, keadaan yang dulu, akupun. Di dalam diam-mu aku tahu, bahwa engkau telah cukup yakin bahwa anak lelakimu ini telah dewasa, telah mampu menentukan tujuan hidupnya sendiri.
Tapi perlu engkau ketahui, Yah, aku terkadang benci menjadi dewasa; menyadari bahwa di usiamu yang semakin senja, aku masih menjadi pribadi yang biasa-biasa saja.
Yah, perlu engkau ketahui, aku tak pernah benar-benar dewasa, tak pernah. Aku tetaplah anak-anak; yang butuh bahu 'tuk bersandar, tangan yang membimbing, telinga untuk mendengar keluh, yang sering merindu tatkala jauh dari rumah.
Ayah,
Dirimu terhias pengorbanan dan kesabaran, dibalut dengan luka yang sukarela.
Lantunan do'a kusampaikan sebagai pengobat rindu.












