Kembali ke Eropa!
Hallo kawan-kawan!
Rasanya tangan saya sudah kaku mengetik di-Tumblr. Tapi tiba-tiba saya ingin kembali menuliskan kisah-kisah saya setahun belakangan ini yang penuh dengan drama, jatuh bangun, jungkir balik dan ngesot ngesot sampai akhirnya kembali bangkit. Jujur rasanya masih kaku untuk menyusun rangkaian kata untuk sebuah tulisan setelah sekian lama hanya mengetik laporan kerja :p Apart from any awkwardness, kali ini saya ingin sekali berbagi cerita bagaimana saya akhirnya mendapat kesempatan kembali ke benua Eropa untuk kali kedua setelah kembali dari Erasmus tahun 2013. Yup, tanggal 16 Agustus 2016 saya menginjakkan kaki di Negeri van Oranje untuk melanjutkan pendidikan master di Wageningen Universiteit Belanda. Mungkin banyak yang bertanya, mengapa Belanda? Padahal saya Jerman-mania hahaha
Perjalanan ke Belanda kali ini diawali dengan perjuangan menyelesaikan skripsi pada akhir 2014. Jujur saat itu adalah saat terberat dalam hidup saya. Target lulus Februari 2015, padahal akhir 2014 itu adalah semester terakhir yang cukup menyita waktu. Saya harus pandai-pandai membagi waktu antara skripsi, kuliah, magang, praktikum dan kursus bahasa Jerman. Hampir setiap hari ngelaju dari Bantul ke Seyegan, dari Seyegan ke kampus UGM. Kebut-kebutan di jalan sudah biasa karena dikejar waktu. Kenapa saya ingin sekali lulus Februari? Karena saya ingin segera mendaftar beasiswa LPDP dan mendaftar kuliah di Technische Universität München Jerman yang deadlinenya 31 Mei. Jadi ijasah sudah harus saya dapatkan sebelum tenggat waktu pendaftaran. Sungguh membagi waktu 24 jam sehari dengan kegiatan seperti itu bukan hal yang mudah. Ditambah lagi dengan long distance relationship Indonesia-Jerman yang cukup depresif, hal-hal diluar ekspektasi mudah membuat pikiran kacau. Akhirnya, waktu makan dan istirahat saya korbankan. Akibatnya maag tidak jarang kambuh, flu pun mudah menyerang. Namun saat itu saya tidak berhenti begitu saja. Tulisan yang selalu menempel di dinding kosan, selalu membangkitkan semangat untuk terus berjuang: S2 DI JERMAN TAHUN 2015!
Dan pada akhirnya semua tidak terwujud.
Kenapa? Saya belum siap, lebih tepatnya soal materi. Saat itu saya tidak punya biaya untuk tes IELTS yang merupakan kunci untuk mewujudkan tulisan motivasi saya itu. Saya belum punya punya alasan kenapa harus S2, ke luar negeri pula. Saya belum punya rencana jelas apa yang bisa saya kontribusikan setelah lulus S2 untuk negeri saya.
Akhirnya saya memutuskan untuk bekerja di sebuah Kantor Penelitian Anak dan menunda S2 sampai tahun depan. Disana saya banyak mendapatkan ilmu di bidang penelitian dan yang paling penting saya dapat menemukan kecintaan pada dunia penelitian. Saya bersyukur berada di lingkungan kerja yang penuh dengan motivasi dari rekan-rekan kerja, project manager, principal investigator, Professor serta semua staff kantor. Disini juga saya menemukan alasan kuat kenapa saya harus S2 dan kontribusi seperti apa yang saya akan berikan. Gaji saya kemudian saya sisihkan untuk tes IELTS. Hampir setiap hari selama kurang lebih 2 bulan saya belajar IELTS secara otodidak. Pada akhirnya saya beranikan untuk mengambil tes pada bulan November 2015. Sempat khawatir dengan hasil yang saya dapatkan karena saya tidak mengambil kursus sama sekali. Hanya berbekal latihan soal softfile .pdf Cambride, alhamdulillah saya bisa mendapatkan score yang saya harapkan, bahkan lebih dari cukup untuk mendaftar beasiswa dan universitas.
Akhir Januari 2016, dengan menyebut nama Allah, saya submit pendaftaran online LDPP setelah melengkapi semua berkas persyaratannya (persyaratan bisa dilihat di http://www.lpdp.kemenkeu.go.id/beasiswa/beasiswa-magister-doktor-2/). Kemudian saya mendapatkan email bahwa saya lolos untuk seleksi substantif. Seminggu sebelum seleksi saya baca-baca blog para penerima beasiswa LPDP, bahkan join grup regional untuk persiapan seleksi subtantif yang sangat menentukan lulus tidaknya LPDP. Setelah menunggu, menunggu, dan menunggu, akhirnya pada tanggal 10 Maret 2016, saya medapatkan email yang menyatakan saya lulus LPDP. Namun ternyata perjuangan masih belum berhenti. Saya harus mendapatkan letter of acceptance (LoA) dari universitas idaman saya. Saya mendaftar dua universitas, prioritas saya tentu TU München Jerman. Meskipun begitu, kadang manusia punya rasa insecure dan kecenderungan mencari back-up. Saya pun mendaftar Wagenigen University and Research Center (WUR) Belanda. Hanya dua universitas tersebut yang (sepanjang pengetahuan saya) memiliki reputasi terbaik untuk program studi yang saya inginkan, molecular nutrition. Saya sering menemukan jurnal nutrigenomik dari kedua universitas tersebut. Bahkan mereka sering berkolaborasi dalam penelitian nutrition science. Ternyata seleksi TUM sangat ketat, score wawancara saya kurang dan akhirnya saya tidak berhasil mendapat LoA dari TUM. Rasanya seperti dihantam badai, hati saya hancur ketika impian yang saya perjuangkan selama ini tidak dapat saya wujudkan. Untungnya, aplikasi WUR saya diterima. WUR memiliki world ranking dan ranking by subject yang lebih baik dari TUM. Hal ini memudahkan saya untuk mengajukan perpindahan univeritas ke LPDP, serta sebenarnya, memudahkan saya untuk ikhlas menerima takdir sekolah S2 di Belanda instead of di Jerman. Namun, untuk move-on dari Jerman, sampai sekarang saya masih berusaha. Berkesempatan menjalani pendidikan di Universitas terbaik di Belanda dengan jurusan Nutrition Science nomor satu di Eropa, membuat saya tidak menemukan alasan untuk berkeluh kesah. Saya selalu berusaha untuk syukuri dan ikhlas dengan ketentuan Allah yang Maha Tahu. Pada akhirnya nanti saya akan paham kenapa saya ditempatkan disini. Semoga di tahun kedua saya bisa menemukan tempat untuk internship di Jerman (masih usaha hahaha). Kalau kata orang Jogja sih, lha wis kadung tresno je…
Ya sudah, ke Jerman juga cuma 2 jam ini…
Well, now here I am after those ups and downs! Mendapatkan kesempatan kedua untuk belajar di Eropa adalah hal luar biasa yang sangat saya syukuri. Allah Maha Baik, memberikan semua yang saya minta walaupun saya sadari ibadah saya juga jauh dari sempurna. Saya yakin doa-doa dari orang tua, keluarga, orang-orang tercinta lah yang mengantarkan saya hingga ke tahap ini. Perjuangan ini belum usai. Sekarang saya mencoba beradaptasi lagi dengan budaya, bahasa, gaya hidup yang sangat berbeda dari yang saya pelajari selama ini (karena 3 tahun belakangan saya sangat intens dengan Jerman), menemukan lagi kawan atau mungkin saudara baru di tanah kompeni. Dan yang jelas mencoba menemukan ritme belajar yang jauh berbeda saat saya kuliah S1 di Indonesia. Gosip yang saya dengar dari kakak kelas, masuk WUR itu mudah, hanya seleksi berkas, karena seleksi sesungguhnya adalah ketika kuliah. Kalau tahun pertama tidak lulus 30 ECTS, maka WUR akan siapkan tiket pulang ke Indonesia. Tot ziens! Byee! We shall overcome…
Terima kasih sudah menghabiskan waktu kalian untuk membaca cerita saya. Semoga di lain waktu saya bisa sharing hal-hal yang lebih berguna hehe I wish you good luck with every dream you fight for!
Wageningen, 01.09.2016 23:19 CEST
















