#MonthlyProject - Sebelum Berdua
“Sukanya sama aku aja. Ngga cape one side mulu?” Kamu tiba-tiba berbicara seperti itu sambil menatap ke lapangan bola tempat tim kalian bermain.
Aku memilih tidak menggubris omong kosongmu itu sambil tetap memperhatikannya bermain. Dia yang saat ini bersinar di lapangan lebih menarik perhatian dibanding kamu yang duduk disebelahku dengan keringat bercucuran dari pelipis.
“Sukanya sama aku, cintanya sama aku, sayangnya sama aku. Ngga bisa ya?” lagi-lagi kamu bertanya retorik dan aku masih saja acuh setengah malas menanggapi pertanyaanmu. Tapi setidaknya aku kini tersenyum kecil dan hanya menonjok pelan pundak bidangmu.
“Rendraa...” namamu tiba-tiba terdengar dari pintu masuk lapangan bola. Terlihat seorang perempuan tinggi semampai melambaikan tangan ke arah kita. Aku balas melambai sambil tersenyum, sedangkan kamu hanya mengangkat tangan setengah.
“Nan... Minum aku” dia-yang sedari tadi aku perhatikan-pun menghampiri sambil menjulurkan tangannya. Tiba-tiba saja, di tempat kita berdua duduk sudah ramai orang-orang yang berisirahat sesuai pertandingan bola.Kita lalu sibuk masing-masing dengan teman obrolan kita yang lain. Aku dengan dirinya, dan kamu dengan perempuan tinggi semampai itu. Percakapan sepihak yang tadi kamu lontarkan pun seakan menguap bersama dengan teriknya matahari siang itu.
Aku dan dia memutuskan untuk pamit lebih dulu. Semua orang lalu melontarkan ejekan bernada menggoda tentang hubungan kami. “Cuma teman sekomplek dari kecil, jangan ribut” ucapannya yang berusaha menepis ejekan teman-temannya setiap kali hubungan kami diungkit selalu berhasil menggaung di kepalaku. Dan aku hanya bisa tersenyum tipis menanggapinya. Kami berdua lalu berjalan menjauhi kerumunan yang masih saja berusaha menggoda. Kami berjalan beriringan, hanya beriringan.
Ketika dia pulang setelah mengantarkanku ke rumah, aku menerima pesan singkat darimu.
‘Aku serius sama pernyataan tadi. Sekarang mungkin kamu ngga bisa, tapi masa depan siapa yang tau’
Pesanmu kubiarkan saja tanpa dibalas. Karena kamu tahu persis, kita yang sekarang tidak akan bisa bersama.
--
“Pesanku yang ini kenapa ngga pernah dibales sih?” Kamu bertanya sambil memperlihatkan pesan satu tahun lalu yang tidak pernah aku balas.
“Kalau dibales sekarang juga udah ngga relevan lah.” Aku menjawab tanpa melihat wajahmu yang cemberut. Kamu lalu mengetik sesuatu dari handphoneku dan tersenyum puas lalu menyimpannya di atas meja.
‘Masa depan memang ngga ada yang tau, tapi sekarang aku sama kamu’
Aku tertawa pelan melihat balasan yang kamu ketik untuk dirimu sendiri. Siapa sangka, yang sekarang duduk bersebelahan dan selalu menggenggam tanganku itu kamu.
Takdir kadang memang selucu itu.
Jakarta, 28 November 2019
14.50
sn
On my short escapism.... I write something sweet but why I feel bitter?











