Kita
Kita berbicara tentang cinta. Cinta yang sederhana.
Kita sedang merancang hari-hari. Tak peduli harus jatuh bangun, berkali-kali.
Kita tak berhenti bersemoga. Karena percaya akan berujung bahagia.
[foto: koleksi pribadi]

seen from Australia

seen from Australia

seen from Singapore
seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States
seen from Russia
seen from Poland
seen from Luxembourg

seen from United States
seen from Poland
seen from Norway
seen from Italy

seen from United States

seen from Russia
seen from United States
seen from Singapore

seen from United States
seen from Malaysia

seen from Türkiye
Kita
Kita berbicara tentang cinta. Cinta yang sederhana.
Kita sedang merancang hari-hari. Tak peduli harus jatuh bangun, berkali-kali.
Kita tak berhenti bersemoga. Karena percaya akan berujung bahagia.
[foto: koleksi pribadi]
Suatu Hari di Stasiun
Ada banyak hal yang kita harapkan, tapi tidak terkabulkan. Kakiku yang berbalutkan flat shoes hitam, dengan tergesa berderap-derap di atas aspal basah menuju stasiun. Kurekatkan ujung jaket, mengusir dingin. Uap udara meruapkan bau lembab sisa hujan. Dari warung yang terletak tidak seberapa jauh, terdengar suara dangdut. Lautan manusia menyambutku di ujung pintu stasiun. Corong di sudut-sudut bangunan itu tak henti menyebutkan kereta yang datang dan berangkat, berbaur dengan percakapan yang menyerupa dengung. Aku berdiri di tengah ruang luas, menatap ke segala penjuru. Hidungku kembang kempis seiring dengan cepatnya degup jantungku. Sembari melangkah cepat menuju tangga ke arah peron, aku menekan tombol ponselku dan menempelkan benda itu ke telinga. "Halo, Mas. Aku udah di stasiun ya." ***
Ingatkah kamu saat itu, kali terakhir kamu menyebut namaku? Gue menyandarkan punggung di sandaran kursi kereta yang benar-benar nggak empuk. Catat, benar-benar-nggak-empuk. Sambil mendengus masam, gue berusaha membuat diri gue nyaman dengan melihat-lihat ponsel, walaupun nggak nyaman sama cowok yang tidur mendengkur di samping gue ini. Kalau aja gue nggak buru-buru pasti earphone gue nggak ketinggalan. Dan, gue nggak akan tersiksa sama orang macem begini. Heck! Tidak lama, ponsel gue berdering. Aliya, nama yang tertera di layar. "Ya?" Gue menjawab telepon. "Halo, Mas. Aku udah di stasiun ya." "Hmm..." Gue lagi bad mood buat jawab. Apalagi kepala orang di samping gue mulai turun ke bahu gue. "Aku tunggu di Dunkin Donut aja ya, Mas." "Ya, ya." "Eh, di tempat hot dog aja deh ya, Mas. Di lantai satu deket loket itu." Belum sempat gue jawab, kepala orang di samping gue ini jatuh di bahu gue. Shoot! Gue kangen dia.
Tapi nggak sempat mengatakan apa-apa.
***
Lalu seringnya harapan itu terjadi di saat kita sudah tidak mengharapkannya lagi.
Aku berdiri di peron dengan hati berdebar. Sebentar lagi kereta akan tiba. Ya, sebentar lagi. Tidak akan lama lagi.
Orang-orang di sekitarku pun sama tidak sabarnya denganku, sepertinya.
Untuk kesekian kalinya kereta datang, dan kereta itu bukan kereta yang aku tunggu. Jemariku yang resah mengetuk-ngetuk pelan tas di pangkuanku.
Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan dia. Tentunya tak terhitung rindu yang kusimpan dalam-dalam menanti kepulangannya.
Mendengar pengumuman, aku langsung bersemangat. Kereta yang aku tunggu sudah datang. Aku akan bertemu dengannya.
Saat kereta berhenti dan pintu-pintu gerbong terbuka, jantungku semakin berdebar-debar.
Lalu dia keluar dari gerbong membawa sebuah ransel, melangkah ke arahku. Sepasang matanya menatapku dalam, membuat napasku tiba-tiba berat.
"Dania.." panggilnya, pelan.
Aku masih tercekat. Namun terus kupandangi dia. Kedua matanya, yang menguraikan begitu banyak kenangan. Yang menjadi tempatku menyimpan harapan. Yang kini lebih runduk.
Dia lelaki sama yang aku tunggu beberapa tahun lalu. Yang membuatku bertahan tanpa tahu betapa besar jarak yang diciptakan waktu.
"Aku nggak bisa lama-lama," katanya seraya meraih jemariku dan meremas lembut. "Aku cuma mau melihatmu lagi, Dania."
Aku tahu.
Dia menegang janjinya. Janji untuk bertemu denganku lagi. Janji aku menjadi yang pertama, yang ia temui ketika ia kembali.
Ketika terdengar pengumuman kedatangan kereta lagi, dia buru-buru melepaskan genggaman.
"Aku harus pergi. Nanti kita bertemu lagi," ucapnya sembari memberikan kecupan di keningku dan melangkah pergi.
Aku terpaku. Tapi tahu tak bisa meminta lebih banyak lagi.
"Dania!"
Seseorang memanggilku dari balik tubuhku.
Ah ya, suamiku pulang.
***
Dan, sejak saat itu kamu selalu ada dalam ruang kenangku.
Heck, jatuh lagi!
Gue membungkuk, mengambil cincin emas polos yang tergelincir dari jari manis gue. Setelah tertangkap, gue memakainya lagi.Tidak jauh dari tempat gue berdiri, ada dia. Dania, perempuan yang gue cinta. Dia mengenakan terusan putih dengan flat shoes hitam. Perempuan manis dengan bola mata jernih kecokelatan.
"Dania.." Gue memanggilnya, pelan.
Perempuan itu tersenyum. Senyum yang selalu menjadi senyuman yang terbaik buat gue.
Gue mengulurkan tangan, menggenggam jemari Dania sejenak. Ada cincin di sana. Cincin keperakan di salah satu barisan jemarinya. Cincin polos, sama seperti cincin yang gue sematkan di jemari Aliya di hari pernikahan.
"Aku nggak bisa lama-lama. Aku cuma mau melihatmu lagi, Dania," kata gue.
Dania mengangguk.Ketika terdengar pengumuman kedatangan kereta lagi, gue buru-buru melepaskan genggaman. Kereta yang ditunggu Dania tiba di jalur sebelah.
"Aku harus pergi. Nanti kita bertemu lagi," ucap gue seraya memberikan kecupan di kening Dania dan melangkah pergi.
Begitulah hubungan gue dan Dania. Tak ada apa-apa. Tapi kami punya cinta.
"Papaaaa!"
Dua anak kecil laki-laki dan perempuan, berlari ke arah gue. Sontak gue merendahkan tubuh dan merentangkan tangan, membiarkan mereka masuk ke pelukan.Tidak jauh di depan gue, ada Aliya, istri gue yang kasih senyum. Hangat.
Gue laki-laki yang suka berpetualang, tapi gue selalu tahu ke mana gue harus pulang.
***
Stay Positive. Be Creative.
You’re not alone. Hidup merupakan pilihan. Kamu memilih ingin menuju ke depan atau ke belakang. Jika ke depan, kita harus menantang diri (dare to myself) untuk memerangi hal-hal negatif yang menghalangi niat. Bangun pondasi diri yang kuat. Bulatkan tekad. Tujuanmu adalah ingin maju. Be tough. Be strong. Hindari pikiran-pikiran buruk. Takut memulai, pasif, minder, berprasangka buruk, minder, dan sebagainya. Just prepare for the worst. Katakan, “Aku bisa!” Untuk memotivasi dirimu dan membulatkan tekadmu. Be bright. Be Creative. Manfaatkan kesempatan dan belajar sebaik-baiknya. Ambil hal baik dari sekitar dan tanyakan kepada orang yang tepat apabila kita belum tahu. Ini akan menstimulus kita mempunyai pengalaman. Ada kalanya kita cuek menghadapi celaan. Ada juga saatnya menantang rasa malas. Jadi dirimu sendiri. Yakinlah bahwa dirimu spesial.
Gambar dari sini.
Percayalah, setiap cinta punya masing-masing cerita. Simpulnya akan selalu bahagia.
Sefryana Khairil
Mungkin nanti atau tidak sama sekali.
Sefryana Khairil
Berbagi Inspirasi di Ranca Bungur, Bogor
Hidup tidaklah benar-benar hidup ketika kita belum berbagi, meskipun hanya sekadar inspirasi.
Selama kita percaya kepada-Nya, segala kemungkinan tersedia.
Sefryana Khairil
Mungkin bibir kita tak pernah mengucap rasa, namun hati kita tak pernah berhenti saling mengirim doa.
Sefryana Khairil