Menantang Tuhan, bisa?
Diawali dari suatu percakapan di rumah makan yang sambal pedasnya tidak-kalah-micin dari sambal di eastco. Sebut saja, Ayra dan Ana yang saat itu sama2 sedang merasa futur pada imannya bercerita berbagai hal. Ya. Dari mantannya ana, laporan magang, kesukaan ana pada dp line nya waktu itu, sukacita memenangkan perlombaan ataupun presentasi ilmiah skala internasional, cerita TA, capeknya mengemban amanah ini dan itu, hingga berbagai hipotesis dari kesekian masalah, yg mana kah yg membuat futur.
Masih berkaitan dengan beberapa postingan dibawah ini, tentang cerita si monyet oleh alm. KH. Rahmat Abdullah, kenikmatan biasanya sangat halus dan lembut membawa kita dalam kefuturan atau (naudzubillah) kekufuran.
Sampai terlontar “kayaknya, lebih baik aku ditegur sama Allah dengan nilai jelek satu matkul gitu, atau keceletot pas lg presentasi, biar aku tau aku tuh lagi ditegur sm Allah, kl sekarang aku tuh malah fine2 aja, malah…… (lebih baik ga full) .” yaa pada saat itu (sambil kepedesan) memang agak sulit mengontrol emosi.
Berselang 1 atau 2 bulan dari makan bareng setelah melingkar itu. The truth reveal guys. 1 ujian besar menerpa salah satu dari mereka. Ujian itu adalah nilai salah satu matkul diantara mereka yg mendapat band.
Intinya, setelah melewati fase nangis2, curhat, dan ngedown utk beberapa saat, finally dia teringat dg ucapannya dulu itu. Huft. Ya. It’s happen. Really really happen. What she wants, just made by Him. Welldone.
Berulangkali tilawah sambil baca tarjimnya, akhirnya sampai pada 1 ayat yg ngena banget, “tidaklah bersyukur orang yg berputus asa.. Sesungguhnya dibalik 1 kesulitan, pasti ada 2 atau 3 kemudahan..” dan ayat2 lainnya yang jitu bgt untuk menyadarkan diri untuk super berbenah & untuk bangkit.
Finally, realized how beautiful “Allah loves who turn to Him”
Kalau kata bu dokter siih, “duh, itu dulu namanya kamu nantangin Allah” ((seketika petir dan geledeg menyambar)). Astagfirullah. Jangan lagi2 deh yaa asal ngomong.
Okay, cerita itu akhirnya happy ending ko. Everything’s back on the track. Alhamdulillah ‘ala kulli haal.
.
.
Epilog
Hmm 2016 adalah tahun favorit aku setelah 2009. Banyak suka duka, pengalaman baru, dan hikmah yang luar biasa yg mungkin gaakan bisa terulang.
. . . Sebuah konklusi. Yaudah gitu aja semoga suatu saat bisa jadi pengingat diri sendiri saat mulai kena virus futur ((tp jangan sampai kena lagi)). Aamiin.
Bandung, (sambil nonton madrid) 12 Feb 2017 -IAL











