Tidak Pernah Baik-baik Saja
Semua senyum yang dilihat tiap hari itu ternyata sedang menyelimuti luka-luka di dalamnya, ibarat opioid yang menenangkan percikan-percikan listrik di saraf jalur nyeri. Semacam topeng mata yang membungkus lebam di sekeliling kelopaknya. Kamu, lelah? Setelah berpasang-pasang telinga jadi tempat dukamu tumpah, sudah jernih kah? Aku takjub tentang bagaimana riak tawa menyamarkan sedu sedan. Karena luka yang kamu simpan itu bagiku, sungguh, teramat dalam. Mungkin hidup manusia memang tidak akan pernah baik-baik saja. Seperti kamu yang diam-diam merawat bekas luka. Seperti aku yang masih ragu mendefinisikan rasa. Bekasi, 26 Desember 2016











