How do you write?
Pertanyaan ini cukup surprising. Kukira fitur ask di Tumblr sudah tidak populer? Still, it’s nice tho. Jadi bisa mengingat kenangan-kenangan lama di Tumblr, sejak.. 2014.
Well. Selain karena kaget masih ada yang pakai fitur ask Tumblr, aku juga kaget sama pertanyaannya. It kinda make me blush, and ask myself, “is there something special with my writings? xoxo”. Die you narcissist!
Beberapa hari yang lalu ada juga seseorang yang berkata dia menyukai tulisanku. Katanya tulisanku mengalir, kadang bisa menggambarkan dia sampai hal-hal yang dia sembunyikan, bahkan bikin nangis di salah satu tulisan. Hmm, dia sekarang sedang menghindari aku, though. Ngeblock tumblr & WA-ku.
I really want to make things up with her. She’s one of my few precious friend I can talk to.
I really hope you’re her lol. Even the chance is that slim.
First thing first. Aku termasuk tipe orang yang kesulitan mendeskripsikan diriku sendiri, termasuk opiniku, cara ini ituku, dan lain lain. What a lame excuse. Ya, sebelum mengecewakan kan? I’m kinda fragile, you know..
Jujur, aku sedikit kaget dapat pertanyaan semacam ini, sekaget saat temanku yang di atas tadi bilang aku berbakat menulis, dan dia suka tulisanku. Soalnya, penulisnya sendiri, aku, baru suka sama tulisan-tulisanku sejak Maret tahun ini, diawali sama tulisan judulnya Sebuah Opera.
Saat dengar perkataan temanku, aku teringat semua tulisanku, bukan hanya yang akhir-akhir ini. Tulisan-tulisan dari tahun 2014. So random dan out of the blue. Kadang-kadang bahas hal-hal Islami, kayak, bersyukur saat melihat marseyside blind fc, Kenapa Babi Haram, etc. Kadang juga nulis soal sains, kadang soal insight random, kadang ngode cewek, etc.
Post-post random itu, kalau dilihat vibenya serasa ngeliat share-sharean WhatsApp grup keluarga besar. Tapi, ada beberapa tulisan yang aku suka juga sih, setelah baca-baca ulang. It’s kinda cheesy, but makes me smile, Thankyou me!, Bibit depresi yang kuabaikan, cough!
Periode 2014-2015 ini bisa dibilang periode awalku nulis, masih pure, masih nulis semua yang ingin ditulis.
Periode 2016 itu aku kehilangan identitas & kesepian. Kalau ga salah di masa-masa ini aku jarang nulis lagi di Tumblr, kadang cuma posting masalah iseng kalau lagi liburan, kadang juga nulis hal yang sampai sekarang aku masih suka. Hal-hal ketika pulang dari kampung halaman ke Jogja lagi. one of the best is Bisakah aku diabetes karena kebanyakan makan cokelat?.
Tapi, di akhir tahun, sampai 2017 akhir, aku mendapat identitas baru. Ahlussunnah wal jamaah. Kalian biasa menyebutnya salafy, wahaby, ekstrimis, dll. Di periode ini tulisan-tulisanku berubah jadi dakwah. Aku nulis semua insight yang aku dapatkan setelah kajian. I write because I want to spread my belief. Cukup membantu masalah kesepianku waktu itu, karena aku jadi punya circle baru. Circle islami.
Sayangnya, sekarang jadinya beberapa celanaku jadi terpaksa kuberikan orang karena sudah dipotong cingkrang hmm.
Tapi, fase Islami ini berakhir di awal tahun 2018. Awalnya cuma terserang syubhat flat earth (so cute, I know.), waktu itu aku yakin banget bumi bulat, tapi temenku yang Islamist parah maksa buat buktiin bahwa bumi itu flat, dengan argumen “kalau bumi datar, kita jadi bener ngadep sholat ke kabah, tapi kalau bulat jadinya ke luar angkasa”. Fuck me. Argumennya malah backfired, bukan aku jadi percaya flat earth, malah aku jadi menanyakan kredibilitas Islam.
Waktu itu aku masih bisa memaklumi dan memberi banyak apology soal syubhat flat earth (that’s why I hate flat earther so much in my early 2018 writings). Tapi, akhirnya pertahananku runtuh karena omnipotence paradox. Aku jadi agnostik. Aku tetap takut Allah, tapi sedikit tidak beriman. Makanya tulisan-tulisanku waktu itu kebanyakan soal science.
Waktu itu aku lonely lagi, circle islami yang selama ini aku depend kepadanya, hilang karena beda paham. Ini berlangsung sampai April 2018. Saat mulainya babak kedua turbulensi identitas Almas Rausan Fikri. Waktu itu aku sering nulis hal-hal yang precious. Kenangan-kenangan yang gak pengen aku lupakan.
Aku KKN. Aku bertemu dengan seorang gadis, dan menyukainya. Pertama kalinya aku menangis karena cinta, ps, it hurts so much. Aku mulai suka puisi setelah lihat puisi ayah. Dan semenjak itu, aku jadi suka write my feelings sampai sekarang.
Dulu awal menulis 2014, I want people to know what I think. Berkembang jadi I want to know what I feel. Pemicunya adalah, puisi, dan bumbu-bumbu pengalaman hidup yang membuatku jadi labil & fragile.
What I want to say is. Writing is a journey. It takes me 4 full years for me to write something that I love to read.
It kinda sucks sometimes. Rasanya di awal perjalanan kita bisa nulis apapun yang kita mau. Orang masih belum memperhatikan kita, kita masih belum memperhatikan kita. We’re just newbies. Di tengah perjalanan itu, setelah kita mulai sadar akan tulisan kita sendiri, kadang kita merasa malu untuk bahkan menunjukkan apa yang sudah kita tulis. But, trust me itu cuma salah satu bagian dari prosesnya. Kalau kamu sudah sampai bagian ini, jangan berhenti. Sampai di proses ini, artinya kamu sedang berkembang, stick with it! Enjoy the process, write what you love, love what you write.
Dan sebagai bumbu penyempurna. Find yourself. You can write something you love to read, when you know yourself. Even it’s just a little bit closer to the truth.
You can’t really find yourself you know. The process of finding yourself is a journey for a lifetime.
Still, if you know a little bit more about yourself. Slowly but sure, you will come to love your writings. I bet my left kidney on it!
So, for you anon. My last message is, don’t worry. I maybe broke my promise about my left kidney, but, just like your fated someone, your love for writing will surely find the way, just, believe in it.
Thanks for asking!















