seen from China
seen from United Kingdom

seen from Belgium
seen from China
seen from Spain
seen from United Kingdom

seen from Indonesia
seen from China
seen from Russia
seen from United States
seen from Belgium
seen from China

seen from Spain

seen from Netherlands
seen from China

seen from Germany

seen from France
seen from Singapore
seen from United States
seen from China
L’égo, ce concept mystérieux, souvent méconnu m’interroge. Lorsque sur le mur FaceBook de Daliborka Milovanovic je vois la converture du livre de Valerie Vayer, je l’achète immédiatement. . A moi ! Lorsque l’ego paraît. . Je le lis des reception, je suis très interloquée. Je découvre un nouveau concept auquel je n’avais jamais pensé. Quelque chose d’inédit. « Il n’y a pas d’égo sans amour ». C’est l’amour qui rend « possible la magie de l’égo : pouvoir se donner à lui-même, et donner à son tour, même ce qui lui a été refusé par d’autres - souvent à leur insu. ». . Le lien d’amour, ce cordon imperceptible qui nous lie à l’enfant, en continuité dès sa conception. . Au fil des pages je prends conscience d’un évidence, quelque chose qu’il faut absolument que j’illustre. Je suis bouleversée par tant d’incohérences dans notre modèle social. . Pourquoi faisons-nous des enfants pour en être séparés dès la naissance ou sinon dès qu’il est en âge d’aller à l’ecole ? Travailler pour faire garder ses enfants... Vouloir s’épanouir loin d’eux... . Ce non sens total de s’éloigner de nos enfants pour récupérer de l’énergie, qui sera finalement épuisée pour se reconnecter à eux. . L’enfant doit grandir seul, loin des ses parents la majeure partie de son enfance, auprès d’adultes avec qui il n’a aucun véritable lien d’amour. . Où sont nos tribus ? . « Les théories Séparatistes reposent sur le déni des souffrances endurées par ceux qui les défendent. » « Arrêtons de nous croire incompétents ou interchangeables. » . « La construction de l’égo est un processus continue ». Il nécessite un lien d’amour intacte pour une évolution saine. Cela nécessite d’accepter et comprendre que c’est de nous dont ont besoins nos enfants.... . « Une illumination d’une fraction de seconde suffit pour que plus rien ne soit comme avant ». C’est exactement ce que j’ai ressenti à la lecture de ce livre révolutionnaire et bouleversant. . Je dois accepter de casser les codes, de réorganiser ma vie, de reconstruire ma tribu, pour rester en lien avec mes enfants, et ne plus vivre séparés. • 9/9 • . #separatisme #dominationadulte #adultisme #societecapitaliste #continuum #canevas #amphigary https://www.instagram.com/p/BxK_y-0FxSl/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=mtdinhjkns4r
Kemenangan Milorad Dodik Ancam Perdamaian di Bosnia & Herzegovina
Inanews - Bosnia dan Herzegovina baru saja menggelar pemilu pada Minggu (7/10). Negara pecahan Republik Federal Sosialis Yugoslavia itu punya tiga presiden baru yang semuanya menang secara sah. Sistem pemerintahan Bosnia dan Herzegovina mungkin adalah yang paling rumit di dunia. Mereka menganut azas tripartit di mana tiga presiden berganti-gantian bertugas sebagai kepala negara. Belum lagi, negara di kawasan Semenanjung Balkan itu dibagi menjadi dua entitas etnis memiliki otonomi politik sendiri, Republik Serbia (Srpska) dan Federasi Bosnia Herzegovina atau kadang disebut Federasi Muslim-Kroasia. Di Republika Srpska, yang dipilih adalah anggota parlemen, presiden, dan wakil presiden. Di Federasi Muslim-Kroasia, pemilih mencoblos anggota parlemen dua kamar (bikameral), dua presiden, dan wakilnya. Selain itu, pemilih juga memberikan suaranya untuk majelis yang menjalankan 10 kanton (negara bagian) di Federasi Bosnia Herzegovina. Ketiga presiden yang terpilih mewakili orang Serbia, Kroasia, dan komunitas muslim Bosnia. Mereka adalah Milorad Dodik mewakili Serbia, Zelijko Komsic dari Kroasia, dan Sefik Dzaferovic merepresentasikan muslim Bosnia. Dari ketiganya, nama yang paling mendapat sorotan media adalah Milorad Dodik, politisi berusai 59 tahun ini dikenal sebagai politisi nasionalis garis keras Republik Srpska. Pada pemilu 2018 ini, Dodik menang mutlak dengan 55 persen suara. Sebelum memenangkan kursi presiden mewakili Serbia, ia dua kali duduk di kursi Perdana Menteri Republik Srpska, yakni pada 1998-2001 dan 2006-2010. Dilansir dari situs berita Rusia Sputnik News, dalam pidato kemenangannya yang disiarkan radio lokal pada Senin (8/10) pagi, Dodik berjanji untuk melindungi kepentingan dan martabat bangsa Serbia. Pada 2016 lalu Dodik pernah mendesak diselenggarakannya referendum yang bakal menentukan pengesahan libur nasional tiap 9 Januari untuk menandai berdirinya Republik Srpska, wilayah Serbia di Bosnia yang luasnya setara dengan provinsi Jawa Tengah. Ia pernah menyerukan kepada semua politisi Serbia yang bertugas di lembaga-lembaga negara Bosnia untuk pulang ke Banja Luka, ibukota Republik Srpska. Siapapun yang menolak, demikian ucap Dodik, adalah pengkhianat. Republik Srpska di bawah pimpinan Dodik juga mengontrol media dan mempraktikkan kebijakan diskriminatif dengan memberikan kemudahan dan hak-hak istimewa kepada bisnis-bisnis milik orang Serbia. Mantan pemain basket itu juga sesumbar bahwa Serbia sudah lebih dahulu menjadi korban ekstremisme Islam jauh sebelum munculnya jejaring Al Qaeda dan ISIS. Pernyataan Dodik tersebut merujuk pada komunitas muslim Bosnia. Sikap politik Dodik tersebut berlawanan ketika Bosnia dan Herzegovina baru terbentuk. Saat itu, tak lama setelah Perang Bosnia (1992-1995) selesai, Amerika Serikat dan Eropa Barat yang berperan dalam proses perdamaian pernah menganggap Dodik sebagai "moderat" lantaran tidak pernah lagi mengangkat isu nasionalisme Serbia. Pada Maret 2016, asrama mahasiswa di kota Pale secara resmi dinamai Radovan Karadzic, tokoh Serbia yang bertanggungjawab atas pembantaian Muslim Bosnia saat perang. Acara penamaan asrama tersebut digelar hanya beberapa hari sebelum Karadzic dijatuhi hukuman 40 tahun penjara oleh Pengadilan Kejahatan Internasional di Den Haag, Belanda, atas dakwaan kejahatan perang. Read the full article
Tantangan Jurnalisme di Papua : Ketidakadilan Ekonomi dan Separatisme yang Sexy
Tantangan Jurnalisme di Papua : Ketidakadilan Ekonomi dan Separatisme yang Sexy
Keluarga besar tabloidjubi.com / Koran Jubi bersama mantan duta besar RI di Columbia, Dr. Michael Manufandu, dalam kegiatan team building Jubi, Selasa (08/03/2016) – Jubi/Abeth
Jayapura, Jubi – Mantan Duta Besar Indonesia untuk Kolombia, Michael Manufandu menyatakan, seorang wartawan yang memilih bergabung dengan Jubi, harus berani menanggung segala konsekuwensi yang mungkin akan ia terima.…
View On WordPress