Azizah & Yusuf
Azizah masih setia menanti imam yang sebenarnya, yang mau menemani perjalanannya menuju kampung akhirat nan bahagia. Ia seringkali kesepian dalam ikhtiarnya, meski lambat laun terbiasa juga dengan keadaannya.
Di suatu masa, Allah mempertemukan Azizah dengan Yusuf, pemuda yang mengaku sedang memulai perjalanan menuntut ilmu, menuju Allah. Azizah dan Yusuf menjadi dekat, nyaris setiap hari bertukar ilmu, berbincang tentang banyak hal, dan saling memperhatikan. Yusuf sering berkata bahwa Azizah bagaikan guru baginya. Yusuf tidak tahu, bahwa sesungguhnya Azizah justru belajar banyak dari Yusuf. Waktu berlalu, kebersamaan dan kebaikan Yusuf, membuat Azizah jatuh hati padanya. Pada cara Yusuf melihat dunia, yang telah semakin mendekatkan Azizah kepada Allah ta’ala.
Sebenarnya Azizah yakin, bahwa sikap Yusuf bisa jadi sama terhadap wanita-wanita lainnya, karena Yusuf memang lelaki yang baik. Namun tetap saja, Azizah ingin terus menikmati perhatian Yusuf, yang baginya adalah sebuah keistimewaan, yang belum pernah ia rasakan selama hidupnya.
Azizah tahu, bahwa Yusuf hanya menganggapnya sebagai sahabat dalam menuntut ilmu, sebagai seseorang yang mau menemani dan mendukungnya dalam berbagai keadaan. Azizah tak pernah ragu untuk menolong Yusuf, semampunya. Karena meski mereka tak punya ikatan istimewa, Azizah ingin melihat Yusuf berhasil. Mungkin, bagaikan Khadijah yang senantiasa mendukung Al Amiin.
Azizah tetap mengucapkan kebaikan-kebaikan selayaknya doa untuk Yusuf, walaupun hatinya pedih jika membayangkan doanya akan terkabulkan. Pedih karena kebahagiaan yang sama yang ia doakan untuk Yusuf, tak kunjung tiba menghampirinya… Dan atas kehendakNya, cukup banyak ucapan Azizah yang menjadi nyata.
Azizah tahu, betapa pun ia mencintai Yusuf, mereka takkan bisa bersatu, karena ada hal-hal yang menghalanginya. Azizah sadar, masanya bersama Yusuf cepat atau lambat akan berakhir. Karena Yusuf yang menjauh, meninggalkannya, atau melupakannya. Azizah pun paham, ia tak mungkin berharap berjumpa lagi dengan Yusuf. Serindu apapun Azizah pada Yusuf, ia tak ingin merendahkan dirinya dengan meminta perjumpaan. Azizah juga tak ingin mengganggu kekhusyukan Yusuf dalam menimba ilmu, dan dalam tugas-tugasnya.
Hingga ketika momen yang ditakutkan akhirnya datang, hati Azizah pun runtuh sedalam-dalamnya. Azizah memendam harapan,”Apakah hati Yusuf menggenggam cinta yang sama untukku? Seandainya ya, cukup lah sekedar ku tahu, lalu aku kan pergi menghadap sang Khaliq dengan tersenyum. Seandainya tidak, cukup sudah, aku takkan lagi mengganggunya, dan membuangnya jauh-jauh dari ingatan, karena ini semua memang sia-sia bagiku.”
Namun Azizah kemudian terhempas oleh teguran nuraninya,”Untuk apa kamu mengharap-harap dari orang yang belum tentu mengharapkanmu sebagaimana kamu mengharapkannya? Ketika sakaratul maut nanti, toh yang akan kamu harap hanya ampunan dari Tuhanmu. Lupakan saja harapan bodoh untuk mendapatkan jawaban itu!”
Azizah tersadar, bahwa tak pernah ada cinta yang lebih layak untuk direngkuh, kecuali cintaNYA. Bahwa ia tak ingin ada yang lain merajai hatinya, kecuali Ar Rahiim. Azizah hanya mampu terisak tangis dan melanjutkan doanya, di atas keyakinan bahwa Allah akan mendatangkan kebahagiaan untuknya, entah kapan, entah apa bentuknya. Seyakin Ratu Asiyah yang meminta rumah di dekat Allah.













