Maladaptive Day Dreaming
Maladaptive day dreaming (MD) merupakan suatu kondisi di mana seseorang terbiasa melamun secara intensif. Dalam lamunannya, penderita MD menciptakan banyak karakter sebagai bahan imajinasinya. Penderita MD berbeda dengan penderita psikologis skizofernia. Penderita MD bisa membedakan mana imajinasi dan realita. Saat sedang berimajinasi, MD bisa menghabiskan waktu berjam-jam ataupun berhari-hari dengan imajinasinya. MD mampu menciptakan secara detail setiap tokoh yang ia bangun dalam imajinasinya serta alur cerita. Namun, jalan cerita yang dibangun bisa saja terhenti begitu saja tanpa ending dan bisa berganti imajinasi lain sesuai dengan suasana hatinya.
Dalam suatu penelitian tahun 2002, MD kerap digunakan sebagai mekanisme penanganan oleh anak-anak yang pernah mengalami kekerasan sehingga memiliki rasa trauma. Mereka bisa sengaja berfantasi dengan imajinasi yang dibangunnya untuk mengalihkan ingatan traumatis yang tiba-tiba datang menyerang. Tidak hanya itu, penderita MD bisa berimajinasi dikarenakan penderita merasa tertekan dengan permasalahan hidupnya namun tidak memiliki media untuk menceritakan keluh kesahnya sehingga merasa tidak ada peduli terhadapnya. Pada kondisi ini, perilaku MD dikategorikan ke dalam gangguan disosiasi (dissosiative disorder). Namun tidak semua penderita MD pasti memiliki pengalaman kekerasan yang traumatis. Sebagian besar penderita MD memang bisa terlahir dengan kemampuan berimajinasi yang tinggi.
Penderita MD bisa memunculkan imajinasinya saat ada emosi besar dalam dirinya dan dipacu dengan media-media tertentu, seperti film, musik, bahkan interaksi langsung terhadap orang lain. Apa yang dilihat, didengar, ataupun dirasakan mampu menginspirasi untuk menciptakan dimensi-dimensi kehidupan baru di dalam kepala para penderita MD.
Penderita MD bisa bercerita sendiri dengan teman khayalannya, menangis, hingga bercanda tergantung suasana hatinya saat itu dan media yang menunjangnya. Untuk mencegah penderita MD terus terhanyut dan berlama-lama dengan imajinasinya, penderita MD perlu terus diajak bicara atau sharing agar beban dalam hatinya bisa berkurang tanpa perlu ia melarikan diri dalam fantasi yang mereka bangun sendiri. Walaupun bisa membedakan mana imajinasi khayalan mana kenyataan, kondisi seperti ini tidak bisa dibiarkan berlama-lama begitu saja karena akan mempengaruhi kegiatan sosial penderita MD.














