Siapa sih anak pesantren yang nggak kenal kitab Al-Amtsilah At-Tashrifiyyah? Itu lho pelajaran yang biasa dirangkap dengan 'paduan suara'... Ya, buku itu ditulis oleh Syaikh Muhammad Ma'shum bin 'Ali -rahimahullah-. Tapi tahukah Anda, ternyata dalam penyusunan kitab tersebut, ada falsafah yang tersembunyi. Apakah itu? Berikut jawabannya... Misteri Kitab Al Amtsilah At Tashrifiyah.Tahukah anda salah satu misteri yg belum terungkap dari kitab tashrif (Al amsilah Tashrifiyah)? Kitab tashrif sudah umum dan gamblang di gunakan oleh para kalangan santri, terlebih santri yg berbasis akan salaf sebagai salah satu patokan tuk menguasai ilmu gramatika arab, tashrif disebut juga ilmu shorof ( ibunya ) illmu, sedang bapaknya Ilmu itu ( nahwu ). Dmnakah misterinya? Coba kita perhatikan diawal kitab fi'I'll mujarrod. Bab 1 : Nasoro yg berarti ( tolong ), nah, kita sebagai santri atau orang yg dikatakan menuntut ilmu itu sudah ditolong oleh orang tua kita atau saudara-saudara kita yangg membiayai kita tuk bisa merasakan dan mencicipi bangku pendidikan umum dan agama. Lalu coba kita teruskan ke bab 2. Bab 2 : Doroba ( pukul ) dipukul maksudnya kita itu di gembleng, di didik secara baik oleh kita punya guru. Disaat kita salah guru kan membenarkan, disaat kita melanggar kita kan di ta'zir ( dihukum ) dengan sepantasnya. Setelah kita di gembleng lalu kita masuk ke bab 3. Bab 3 : fataha ( buka ) stelah di gembleng di ajari bolak-balik, lalu kita dibuka oleh Allah, apanya yang di buka? Ya pengetahuannya, pengetahuan yang kita dapat dari guru-guru kita. Setelah di buka pengetahuannya lalu kita masuk ketingkatan bab 4. Bab 4 : Alima ( mngrti, tahu ) nah, dsinilah kita mencapai tingkat yang sangat baik setelah melewati bab 1 dan bab 2, yaitu menjadi orang yang serba tahu, alim alamah. Lalu kita masuk ke bab 5. Bab 5 : Hasuna ( bagus, baik ) inilah tingkatan yg sangat baik dimna ilmu yg kita dapat diamalakan, baik itu dari akhlak yang kita dapat dari ilmu-ilmu akhlak yang kita pelajari. Dan ilmu-ilmu lainnya yang bermanfaat. Karena ilmu tanpa akahlak bagaikan sayur tanpa garam. Setelah itu kita kan memasuki tingkatan terakhir yaitu bab 6. Bab 6 : Hasiba ( hitung ) nah, karena kita sudah menjadi orang yg mengerti, alim, baik budi pekertinya maka yang tadinya kita di bab 2 ( pukul ) di gembleng oleh guru-guru kita, di absen kehadiran masuk mengikuti sekolah kita dan mengaji . setelah mencapai bab 6 ini kita kan menghitung jumlah murid atau santri yg kan kita miliki. Karena di sisnilah lahan tuk manebar benih-benih al ilmu nafi ( ilmu yg bermanfaat ). Itulah salah satu misteri di kitab tashrif, makanya para ulama-ulama islam itu kalo buat kitab gak sembarngan banyak tirakatnya, buktinya nih satu misteri sudah terungkap. Coba deh antum buka kitab tashrifnya karangannya Al-Alim Al-Alamah Syekh Mas'sum bin Ali Jawa Tengah...














