Truk fuso bermuatan puluhan ton kaca terguling di trotoar Jalintim Inderalaya-Kayuagung, Desa Talang Balai Kecamatan Tanjung Raja Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, Sabtu (10/6) pukul 13.00 Wib. Kecelakaan diduga karena truk menghindari tabrakan dengan kendaraan yang melaju dari arah berlawanan. Sumber: @sriwijayapost #kecelakaan #crash #accident #truk #truck #fuso #jalan #street #road #terbalik #palembang #sumsel #sripo
Ramadhan ala Mahasiswa, Meraup Rupiah dari Bagasi Mobil
RAMADHAN bulan penuh berkah. Jargon ini benar memberikan berkah bagi individu kreatif. Terutama bagi mahasiswa yang terpacu menjadi pedagang 'dadakan' demi meraup pundi-pundi rupiah atau sekadar mengisi waktu luangnya. Tanpa rasa gengsi, mereka menggelar lapak dagangan dari bagasi mobil di beberapa pusat keramaian Kota Palembang.
Seperti pantauan kru Limass Sripo di kawasan TVRI yang ramai dengan penjual, baik sandang maupun pangan. Ternyata banyak dari pedagang tersebut merupakan anak kuliahan. Seperti Enda dan Rendy, yang tecatat sebagai mahasiswa Universitas Sriwijaya. Hadirnya bulan ramdhan bukanlah menjadi satu alasan bagi Enda dan Rendy untuk bermalas-malasan. Dua mahasiswa ini menjual es buah hanya selama bulan Ramadhan berlangsung."Kita baru mulai jualan beberapa hari yang lalu dan memilih berjualan pake mobil karena lebih banyak barang yang bisa dibawa dan juga praktis," tutur keduanya. Enda juga memaparkan bahwa modal awal mereka untuk membuka lapak ini hanya 140ribu dan hasilnya mengntungkan. "Es buahnya dijual lima ribu rupiah, jadi keuntungannya bisa 20 persen," tambahnya.
Walaupun banyak pedagang lain yang menjajakan dagangan yang sama, bagi mereka yang penting bisa mendapatkan pengalaman mencari uang sendiri. “Selain buat ngisi waktu luang selama bulan puasa, kita juga kepengen dapet pengalaman gimana nyari uang sendiri," ujar keduanya. Enda dan Rendy juga tidak pernah merasa tersaingi dengan pedagang lainnya. Karena bagi mereka setiap manusia punya rezekinya masing-masing. Terobosan positif dalam memanfaatkan bulan puasa ini sudah sepatutnya dijadikan panutan oleh rekan mahasiswa lainnya. Keberhasilan dalam memanfaatkan bulan puasa ini bukan hanya dirasakan Enda dan Rendy. Tanpa malu, mereka juga mampu memanfaatkan bulan puasa untuk menambah penghasilan mereka. Berbeda dengan Enda dan Rendy yang menjajakan makanan, Randy Fernando berjualan baju khusus kawula muda. Mahasiswa Politeknik Negeri Sriwijaya ini juga lebih memilih bagasi mobilnya sebagai alternatif berjualan baju.
Sependapat dengan Enda, Randy juga merasa lebih praktis dan irit berjualan menggunakan bagasi mobil pribadinya. “Disini kita cuma bayar uang parkir, jadi kita gak perlu nyewa tempat. Selain itu, pake mobil juga lebih praktis buat dagang," ujar Randy seraya mengatakan keuntungan dari berjualan disini bisa buat nambah uang jajannya. Selain untuk menambah penghasilan, berjualan selama bulan puasa juga buat mengisi waktu luang. “Keuntungan per hari berkisar antara 100-150ribu rupiah. Setiap ada waktu senggang selama bulan puasa, kita manfaatin buat berjualan disini,” ungkap mahasiswa Polsri semester lima ini. Tidak semua alasan membuka lapak hanya untuk mengisi waktu luang dan mencari penghasilan tambahan. Fery, partner wirausaha Randy ini menuturkan bahwa, alasannya berjualan selama bulan puasa ini karena senang bisa berkumpul bersama teman-teman. “Senangnya jualan seperti ini karena banyak temen, jadi bisa sekalian kumpul buat ngabuburit. Inspirasi berjualan selama bulan puasa itu juga dateng dari temen,” ujar mahasiswa Universitas PGRI Palembang ini.
Maraknya perdagangan melalui bagasi mobil memberikan kemudahan bagi konsumen dalam mencari berbagai barang. Randy dan teman-temannya hanya bagian kecil dari banyaknya mahasiswa yang telah berani berwirausaha. Kegiatan positif ini disambut baik oleh konsumen. Salah satunya Ulfi, mahasiswi Politeknik Negeri Sriwijaya ini mengaku dimudahkan dengan adanya bagasi-bagasi mobil yang penuh dengan barang dagangan selama bulan suci ramadhan. “Enak banget ngeliat banyak makanan yang dijual pas bulan puasa gini. Kita jadi gak susah buat nyari ‘bukoan’. Apalagi yang jualan di mobil seperti ini. Kita sebagai pembeli merasa terjamin, karena mereka yang dagang disini bersih, terus teratur. Makanan yang dijual selain terjangkau juga bervariatif,” ujarnya. (adh, art, gbs, cml)
MARAKNYA mahasiswa yang mengambil peluang saat bulan ramadhan dengan berjualan merupakan hal positif dan kreatif ungkap mahasiswi berprestasi satu ini, Siti Fadhillah. Gadis manis ini menungkapkan bahwa kegiatan berjualan saat ramadhan dapat melatih kemandirian agar tidak selalu bergantung pada orang tua. “Kita sebagai mahasiswa harus kreatif dan pintar dalam mencari peluang. Berjualan saat ramadhan dapat melatih kita untuk mandiri, jangan sampai hanya bermalas-malasan di rumah”, imbuhnya.
Gadis hijaber ini mengaku kalau dirinya sering membuka stan bersama teman organisasi koperasinya untuk berjualan. Tidak sedikit pula dari temannya berjualan dengan memanfaatkan mobil mereka. “Ada teman saya yang menggunakan mobil mereka untuk berjualan. Hal ini menurut saya kreatif dan patut diacungi jempol, karena mereka sudah bisa mengalahkan ego mereka sendiri. Bisa dikatakan mereka dari golongan menegah, tetapi mereka tidak malu untuk berjualan”, tutur gadis yang akrab disapa Dilla ini.
Gadis yang hobi membaca ini pun berharap agar mahasiswa tidak hanya berjualan saat ramadhan tetapi kebiasaan ini dapat dikembangkan untuk kedepannya. Menurutnya dalam mejalankan usaha dengan kreatif dan inovatif akan memberikan dampak positif bagi banyak elemen. Hal ini dikarenakan mahasiswa secara tidak langsung dapat mengurangi beban pemerintah dalam upaya meningkatkan wirausaha di Indonesia dan pastinya akan berdampak pada kesejahteraan bangsa Indonesia.(acy/ama)
SEBAGAI bentuk pembekalan bidang konstruksi kepada para calon alumni jurusan teknik sipil Politeknik Negeri Sriwijaya (POLSRI), pada Senin-Selasa (15-16/7) diadakan kegiatan Pembekalan dan Uji Kompetensi Bidang Konstruksi di Aula KPA POLSRI.
Kegiatan yang dilakukan antaralain, pemberian materi mengenai Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dan undang-undang jasa konstruksi oleh para ahli konstruksi yang didatangkan langsung dari Bandung. Selainitu, setelah pemberian materi diadakan pula tes pemahaman materi, kunjungan lapangan, pembuatan laporan, dan kegiatan seminar.
Para mahasiswa mengaku jika kegiatan semacam ini sangat penting untuk diadakan, “Adanya kegiatan K3 ini bisa membantu untuk nantinya dapat bersaing di tingkat nasional. Apalagi mengingat pada 2015 nanti akan dibuat budaya K3,”jelas Anggik Darmayanti, mahasiswi jurusan teknik sipil POLSRI. (ra2/cml)
Produk Branded Palsu, Kualitas Tak Masalah Yang Penting Merek
Setiap tahun dunia fashion selalu menjadi topik hangat untuk diperbincangkan. Fesyen selalu berubah mengikuti tren dunia atau bahkan musim yang sedang berlangsung. Mulai dari fesyen baju sampai gaya rambut. Karena eratnya fesyen dengan penampilan setiap orang sehari-hari, maka wajar saja jika setiap orang memiliki pandangan tersendiri soal gaya. Ada diantara mereka yang suka hunting barang-barang KW (kualitas) merek-merek mendunia sampai mereka yang hobi mengoleksi label kurang ternama.
Pada umumnya kaum hawa yang rela mengeluarkan uang hingga ratusan ribu hanya untuk mengoleksi barang kesukaannya demi melengkapi gaya mereka setiap hari. Tapi sayangnya kebutuhan mendesak ini membuat mereka terkadang mengambil jalan pintas dengan membeli barang replika alias palsu.
Seperti banyak beredar di pasaran, label berkelas asal Paris pun bisa didapat hanya dengan harga ratusan ribu, sedang harga aslinya mencapai jutaan rupiah. "Cuma ada beberapa sih. Kebanyakan tas punya aku gak branded, tapi untuk tas berkelas yang palsu, di pasar kan banyak tuh yang harganya cuma ratusan ribu, jadi aku pernah beli juga," ujar Linda, mahasiswi Universitas PGRI. Terlepas dari rasa malu atau nggak, yang pasti orang sekitar nggak terlalu peduli kalau barang yang dipakai asli atau tidak. "Walaupun aku tahu itu palsu, tapi kan orang yang ngeliat nggak tahu dan nggak peduli itu palsu atau nggak, jadi aku pribadi nyaman-nyaman aja makenya," tambah Linda.
Meski begitu, ada juga dari mereka yang lebih memilih memakai tas tanpa merek. "Dari dulu sih aku emang suka ngoleksi tas, mulai dari tas ransel ampe tas tangan. Kebanyakan dari mereka emang merek yang kurang terkenal", tutur Endang Harliani, mahasiswi IAIN Raden Fatah Palembang. Selain alasan buget yang emang gede, merek yang sudah punya nama emang cukup menguras kantong. Untuk menyiasati hal ini Endang lebih lanjut mengungkapkan, "Bagi aku merek emang penting. Tapi mikir-mikir juga kalo harus beli tas harganya jutaan. Mending make merek biasa aja yang penting modis dan nyambung sama gaya”. Selain masalah gengsi, rasa kesadaran emang terkadang jadi faktor mengapa kebanyakan orang mending memakai merek standar. Menanggapi hal ini lebih lanjut Endang berkomentar, "Yah, selera orang beda-beda. Kalo aku mending make merek standar ketimbang KW. Kasian lah sama yang rela beli ke Official Store dengan harga melambung. Eh, kitanya cuman beli harga ratusan dengan merek yang sama."
Tidak hanya tas branded yang menjadi incaran untuk gaya. Kaos sepak bola (jersey) yang baru-baru ini booming pun menjadi style pilihan. Penggemar salah satu club terkenal asal Spanyol, Ramadhansyah mengutarakan "Kemaren aku beli sama temen K.W super. Kebetulan emang suka sama clubnya. Masalah bahan, emang susah dibedain mana yang original atau KW." Selain memang masalah biaya yang cukup signifikan, mereka percaya kalo official jersey memang hanya untuk pemain sepak bola. Lebih lanjut Ramadhan mengungkapkan, "Kemarin kalo budget ada, nggak masalah beli yang original. Tapi bagi aku jersey asli hanya yang dipakai pemain", tutur mahasiswa Universitas Sriwijaya ini.
Kesempatan semakin berkembangnya dunia fashion ini pun tidak dilewatkan oleh para pedagang untuk meraup keuntungan. Para pengusaha barang branded baik impor maupun lokal mulai mengambil peluang. Harga barang yang ditawarkan pun beraneka ragam mulai dari puluhan ribu hingga jutaan rupiah.
Alfitrah Satriadi, mahasiswa sekaligus entrepreneur muda ini mengatakan bahwa kecenderungan masyarakat dalam membeli dan menggunakan barang original dan bermerek saat ini mulai meningkat. Ini semua tidak terlepas dari kualitas bahan original yang memang bagus. Lebih lanjut Alfitrah mengutarakan, "Contohnya saja jam tangan. Secara kasat mata, jam tangan original tampak lebih detail dan indah, dan biasanya lebih berat. Selain itu, jam asli pada umumnya tahan air dan tidak menimbulkan alergi pada kulit sensitif”, ucap Alfitrah menambahkan.
Dalam akun sosialnya LapakArloji Alfitrah mengaku kalo lapaknya semakin diminati oleh berbagai kalangan. Itu karena dia menyediakan jam-jam bermerk dan original dengan harga yang cukup rendah dibandingkan harga-harga yang ada di toko. Menanggapi masalah harga, lebih lanjut Alfitrah menuturkan, "Saat ini para konsumen, baik itu pegawai maupun mahasiswa sudah lebih pandai memilih barang berkualitas yang tidak membebani kantong mereka. Kisaran harga jam yang diminati pelanggan berkisar antara Rp 300ribu - Rp 700ribu bahkan hingga jutaan rupiah pun masih diminati."
Try Dina, salah satu mahasiswi IAIN Raden Fatah mengaku sangat suka memakai jam tangan hingga rela merogoh uang yang cukup banyak. Baginya jam tangan bukan sekedar fashion, tapi yang terpenting nyaman dipakai dan cukup awet dibandingkan jam biasa lainnya.
Penampilan memang menjadi hal cukup penting dalam menunjang rasa percaya diri. Sedang pilihan berbusana pun menjadi hak permasing-masing individu. Kesadaran akan penghargaan karya cipta seseorang akan selalu dibutuhkan untuk kelestarian fashion taste yang tinggi. Pada akhirnya semua berbalik pada kebijakan si pengguna. (acy/mu2/ra2)
BARANG branded yang original tentu memiliki kualitas yang jauh lebih baik ketimbang duplikasinya. Hal ini diamini oleh mahasiswi berprestasi satu ini, Nurdinawati Kudus, dia mengaku kalau barang branded yang original itu memiliki jaminan kualitas yang baik. “Barang branded itu jaminannya kualitas, kalo sudah branded biasanya kualitasnya juga oke”, ujarnya.
Dara manis yang satu ini mengungkapkan bahwa dirinya bukan termasuk konsumen yang tergila-gila dengan barang bermerek original. “Pertama kali yang aku liat itu modelnya dulu, pas nggak buat aku. Kalau barangnya branded, jutru itu jadi nilai plusnya. Percuma kalo barangnya branded, tapi kita yang make nggak pede”, tutur finalis Gadis Kampus Sumsel 2013 ini.
Walaupun banyak sebagian mahasiswa yang rela mengeluarkan kocek jutaan untuk membeli barang branded, mahasiswi yang akrab disapa Dina ini mengaku tidak mementingkan prestise. Baginya, prestasi tetap nomor satu. Terbukti dengan berbagai pencapaian prestasinya baik di bidang akademik maupun non akademik, terutama dalam bidang bahasa inggris.(adh)
BIODATA
Nama: Nurdinawati Kudus
TTL: 9 Juli 1992
Perguruan Tinggi: Universitas Sriwijaya
Jurusan: FKIP Pendidikan Matematika 2010
Facebook,twitter: Nurdinawati kudus, @dinakudus
Prestasi:
Penerima Djarum Beasiswa Plus 2012/2013
Juara II lomba debat MTQ Bahasa Inggris tingkat Universitas tahun 2013
Juara Harapan II Mahasiswa Berprestasi tingkat Fakultas tahun 2013
Finalis Gadis Kampus Sumatera Selatan tahun 2013
Juara III lomba Debat Bahasa Inggris tingkat Universitas tahun 2013
Panelist adjudicator di Sriwijaya Debating Championship 2012
dulu kita tak saling kenal,,
tak mengetahui tali keagungan,,
belum merajut benang kesetiakawanan,,
belum menemukan arti kebersamaan.
jarum pun mulai menyulam,,
membentuk pola kekeluargaan,,
menorehkan arti kebersamaan,,
hingga tercipta sarang kekompakan.
suka duka terjalin mesra
diantara sebelas kepala berbeda,,
menyatukan sejuta helai cinta,,
melukiskan sebuah alur cerita.
kini waktu tak kuat menopang,,
mematahkan setiap ranting persahabatan,,
tawa canda pun menghilang,,
mengakhiri tiap jalan kebersamaan.
episode terakhir mulai menghantui,,
melenyapkan semua kebahagiaan,,
menggoreskan tinta perpisahan,,
yang tertinggal hanya angin kenangan..
SITUS yang berisi gambar-gambar lucu seperti meme sudah mulai banyak bermunculan. Meme menjadi sangat populer karena penyampaiannya yang ringan dan menghibur. Faktor yang tak kalah penting sebagai penyebab menjamurnya meme di antaranya adalah karena adanya aplikasi pembuat meme yang sangat simple penggunaanya serta situs yang menjadi wadah untuk mengunggah hasil meme atau rage comic.
Setelah Limasscious membuat meme, pastinya mau dong meme itu dilihat orang banyak dan jadi terkenal. Limasscious dapat mengunggah memetersebut pada suatu wadah seperti Fanspage Facebook ataupun website khusus meme.
Yang paling terkenal saat ini adalah 9GAG. Situs 9gag.com berasal dari Hongkong dan pertama kali dirilis pada 2008, namun host website ini berada di Amerika Serikat. Fungsi utama situs ini adalah menampilkan gambar-gambar yang diunggah oleh anggota. Anggota lain yang menyukainya akan mengklik “Like.” Semakin banyak orang yang menyukai maka gambar tersebut akan diangkat ke halaman “Trending Topics” kemudian naik ke halaman “Hot Page.”
Seiring kesuksesan 9GAG, Indonesia sebagai salah satu negara pengguna internet terbanyak di dunia tak mau menyiakan kesempatan. Muncul website meme lokal seperti 1cuk.com, na9a.com serta 9uyon.com dengan humor atau lelucon dengan cita rasa Indonesia. Selain situs, ada pula fanspage Facebook khusus meme yakni Meme Comic Indonesia (MCI). Hal lain yang menyebabkan munculnya situs meme lokal karena terdapat juga faktor etika yang kurang terpenuhi pada situs meme luar negeri. Situs meme luar negeri umumnya menyajikan humor atau jokes barat yang vulgar, bahkan terkadang agama dijadikan objek lelucon dan tidak sesuai dengan budaya timur, khususnya Indonesia.
Nah, semoga Limasscious bisa membuat sendiri komik meme yang menghibur namun tetap menjunjung nilai etika dan kesopanan, serta jangan lupa untuk mengunggahnya di salah satu situs komik meme yang ada, khususnya situs lokal.Good luck Limasscious! (nbl/ limass sripo)