Sebuah Apresiasi dan Rangkaian Puisi Kesukaan
“Aku check out-in, ya?” Katamu.
“Duh, gimana ya. Yaudah nanti bilang ya kalau ada barang yang kamu incar juga! Gantian aku kadoin!”
Aaaaaah, pertemanan yang kusukai; saling mengapresiasi. Tanpa pikir panjang, langsung request kado masing-masing, hahaha.
Ini hadiah dari teman pertamaku di bangku kuliah sebagai apresiasi setelah perjuangan empat tahun masa studi.
_________
Setelah ini, apa kita menetap?
Sudah pasti
aku pengembara sementara
kau perjalanan selamanya
kau mengerti aku
tidak dapat kembali
dengan tidak menjadi
aku, kau menjadi
ombak yang tenang
di karang pengasinganku
Kita, samudera yang berenang ke tepian
Kau ingin tahu apa yang semalam aku bicarakan dengan Tuhan?
Mungkin
tidak ada kemungkinan
yang memungkinkan
selain kita
tangan-tangan kita memangkuk
tiap-tiap orang bicara abadi,
kau menjadi amin yang meninggi
di Bumi, langit menjadi rendah,
kau melesat, doa tidak meleset
tuhan mengabulkan kita
menjadi ibadah, yang hidup selamanya
Setiap manusia akan mencari sesuatu yang lebih, lantas bagaimana kau akan merasa cukup?
Aku hanya ingin menjadi serupa yang ragam,
setiap tetap yang tetapi adalah cukup yang berlebihan
dua jam setelah kau tidak pergi
aku benar-benar pergi mencari diriku sendiri,
aku ingin berterima kasih
kepadamu yang tidak melakukan apapun,
karena cukup menjadi sebab berlebihan
aku menjadi sebab hilangnya diriku sendiri,
kau menjadikan aku cukup,
menemukanmu biarlah berlebihan
Kepadamu yang selalu kutanyakan, musim ini akankah menjadi kita?
Musim ini, kita
adalah kabut; menggantungi langit
berjalan pelan hingga menjadi hujan
adalah nyala yang dibentang
adalah nyanyi yang dikenang
adalah nyawa yang direntang
adalah nyali yang dijenjang
kau tetap menjadi
ada yang selalu
kesimpulan yang merekatkan simpul-simpul di kepalaku
Teruntuk seseorang yang tidak lagi kutemui: kau, apa kabar?
Apakah benar kau menjadi rembulan setiap malam?
Apa yang dilihat lebih malam
dari terang yang tenang, selain mereka yang mendiami
masing-masing rencana
langit tidak mematikan lampu
kau tidak kemana-kemana
aku tidak kemana-mana
kita rahasia yang tetap
sepanjang umur gelap
Coba tebak apa isi kepalaku?
Sebuah mihrab
dua orang hamba
serangkaian ibadah
seuntaian doa
sujud panjang
adakah kau temukan keraguan di sana?
Kau mau hadiah apa?
Aku tidak ingin jadi orang
yang terus disiasati dan dikelabui lalu percaya
apa rasanya jadi orang yang selalu tidur lebih awal
tanpa perlu melebur dengan langit-langit dan perasaan mengganjal?
Note: puisi-puisi ini adalah beberapa puisi kesukaanku karya dari randiaputra X suarabiru.
Dan kepadamu: Aku ingin menjadi aku.
Bandung, 14 Juni 2020 | 09.30 | @wedangrondehangat















