Pancaroba . . Aku masih terheran-heran padamu yang selalu tersenyum sepanjang hari sepanjang waktu. Pagi hari saat berpapasan kamu tersenyum, sore pun tersenyum. Saat cuaca panas tersenyum, saat mendung juga hujan pun tersenyum. Apa suasana hatimu selalu baik? Apa orang yang kamu temui selalu menyenangkan? Apa tak ada beban di pikiranmu itu? . Padahal hati itu seperti iklim Pancaroba, bergoyah-gayih, berbolak-balik. Suasananya mudah berubah. Sebentar senang, sebentar sedih. Sedang senang, terpancar di raut wajah yang bahagia. Sedang sedih, terpancar di raut wajah yang nelangsa. Sedang kesal, terpancar di raut wajah yang cemberut. . Hebat sekali kamu menyembunyikan isi hati. Tak seperti musim sekarang ini yang perubahan nya terlihat jelas dan terasa betul. Langitnya biru, hawanya panas sekali. Langitnya gelap, hawanya dingin sekali. . Atau kamu yang telah paham bahwa hati si segumpal daging itu yang menentukan pikiran, tingkah laku, serta ekspresi wajah. Jika senantiasa diatur serta dididik agar selalu baik, seluruhnya baik. Pun sebaliknya. . Atau juga kamu yang paham bahwa bagaimanapun isi hatimu, kamu harus tetap tersenyum, seakan menunjukkan pada dunia bahwa kamu selalu baik-baik saja. Bahwa kamu ingin selalu bersedekah dengan senyumanmu itu. . Untukmu yang mendidik hati tak seperti musim Pancaroba, aku sungguh belajar banyak. . Pesanku, jangan hanya hati yang tersembunyi yang sungguh-sungguh kamu jaga. Yang terlihat pun, seperti fisikmu juga. Ini musim Pancaroba. Jaga diri, jaga hati, jaga kesehatan, jaga pandangan 😁 . #Subangkiwari #30haribercerita












