Supernova IEP
Akhirnya, 15 tahun setelah bayi pertamanya lahir, Ibu Suri kita, Dee Lestari melahirkan anak terakhir dari seri Supernova yaitu Inteligensi Embun Pagi. Novel yang ditunggu-tunggu oleh semua penggemar seri Supernova ini, termasuk saya hehe, rilis pada bulan Februari kemarin. Kenapa buku ini ditunggu-tunggu? Karena di seri terakhir ini akan di ungkapkan final story dari lima buku yang telah terbit sebelumnya, mulai dari Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh, Akar, Petir, Partikel dan Gelombang. Dan menurut saya pada bagian semua ending kelima seri supernova, Dee selalu menyaijikan akhir yang ‘pas’. Akhir yang belum berakhir dengan genap, karena ada bagian yang memang belum rampung dan sengaja untuk tidak diceritakan terlebih dahulu sehingga menuntut untuk dilanjutkan. Nah, kelanjutannya ini akan dibahas di seri IEP. Supernova IEP ini tebalnya lumayan, isinya 700 halaman lebih. Dan saya melibasnya dalam dua malam beturut-turut. Oke ini adalah penilaian pribadi saya tentang buku IEP yang jelas akan berbeda dengan penilaian orang lain, karena ini dari sudut pandang saya pribadi. Let’s GO!! Pertama, menurut saya novel ini adalah satu-satunya serie dari supernova yang tidak boleh dibaca kalau anda belum membaca kelima serie sebelumnya. Jadi, meskipun ada keterikatan antara kelima buku sebelumnya, masing-masing buku mempunyai inti cerita yang berdiri sendiri, yang alurnya bisa dipahami walaupun belum membaca buku sebelumnya. Tapi karena IEP ini adalah lanjutan ending dari semua buku, maka buku sebelumnya harus dikhatamkan terlebih dahulu biar anda tidak bingung. Kedua, selama saya membaca IEP tidak terhitung berapa kali saya mengucapkan ‘ya ampun!’, ‘oh ternyata..’, ‘hlah? Kok bisa?’, ‘OMG!’ dan sebagainya yang pada intinya saya kaget. Dee menyelipkan banyak kejutan-kejutan yang tidak saya prediksi sama sekali. Sebelumnya, saya mengira jangan-jangan supernova adalah terusan imajinasi Reuben dan Dimas di KPBJ, kan nggak lucu. Tapi ternyata Dee, tidak membiarkan cerita menggelontor dengan sesederhana dan semudah itu. Banyak sekali tokoh dan plot cerita yang hadir di luar dugaan, dan ini bertebaran dari awal sampai akhir. Kejutan-kejutan kecil yang dimunculkan Dee dibagi dengan rata dalam keseluruhan buku ini, sehingga pembaca dituntut untuk terus membuka halaman demi halaman untuk menjawab pertanyaan kejutan apa lagi ya selanjutnya..dan ini menarik. Ketiga, dalam membaca IEP saya harus buka KBBI dan harus buka buku seri sebelumnya. Harus buka KBBI, karena dalam buku ini banyak diksi yang asing di telinga saya entah karena jarang digunakan penulis lain atau karena memang saya yang tidak pernah tahu artinya. Harus buka buku seri sebelumnya, karena supernova adalah novel fiksi imajinasi sehingga banyak istilah yang memiliki artian tertentu yang mana sudah dijelaskan di buku sebelumya seperti, apa itu peretas, infiltran, sarvara, umbra, gugus asko dan sebagainya. Saya juga harus merekonstruksi tokoh-tokoh dan bagaimana perannnya di buku sebelumnya, karena jeda saya membaca antara buku satu dan buku lainnya rentang waktunya sampai 1-2 tahun jadi ada sedikit-banyak part yang saya lupa. Keempat, secara keseluruhan saya puas dengan konsep novel Supernova. Di IEP ini, terbongkar apa itu supernova, apa hubungan antara Ferre, Rana, Diva, Bodhi, Elektra, Zarah, dan Alfa. Awalnya saya pikir tokoh utama dari seri maha karya ini adalah mereka. Tapi ternyata, Dee tidak membiarkan tokoh yang dia ciptakan di novel sebelumnya hanya menjadi pelengkap, menganggur dan tidak memiliki peran penting ataupun figuran. Contohnya, Gio. Di IEP terjelaskan bahwa Gio rupanya memiliki peran penting sebagai seorang peretas. Saya bisa menebak kalau Bodhi, Elektra, Zarah dan Alfa akan mempunyai peran besar karena penggambaran mereka diceritakan dalam masing-masing satu buku. Bodhi dalam Akar, Elektra Petir, Zarah Partikel, Alfa Gelombang. Nah, Gio? Dia hanya di letakkan di awal ataupun akhir dari buku-buku Supernova, itupun dengan porsi singkat. Tetapi di IEP Gio hadir dengan porsi peran yang sama pentingnya dengan peran Bodhi CS. Kemudian tokoh-tokoh lain yang tersebar dari buku pertama sampai buku kelima, seperti Diva, Reuben, Dimas, Kell, Guru Liong, Ishtar, Ibu Sati, Mpret, Bong, Firas, Pak Simon, Dr.Kalden sampai dengan tokoh Pak Kas, fotografer yang punya bilik Kribo Foto di Partikel yang mengajari Zarah memotret pun memiliki peran-peran tersendiri yang tidak dapat diabaikan kehadirannya. Saya tercengang dengan cara Dee membuat hubungan yang mengikat mereka semua dalam satu cerita yang utuh. Dee secara konsisten tetap menjaga simpul yang mengikat cerita dari keseluruhan seri supernova. Inilah yang saya maksud dengan kejutan, hubungan antar tokoh yang tidak pernah disangka-sangka. Alur cerita yang diluar dugaan akal manusia, bahwa di semesta ini ada dimensi lain selain kita. Kelima, saya merasa ada part yang miss yang tidak jelas atau sengaja tidak diceritakan. Seperti, Dimana wujud fisik Diva? Oke lah kalau kasus Firas menghilang tapi ternyata ditemukan dalam bentuk kerangka, itu clear, tapi, menghilangnya Diva menurut saya masih misterius. Rana sebagai Putri tidak diceritakan secara jelas apa perannya dalam gugus. Tetapi over all buku ini termasuk buku hebat. Saya pernah baca kalimat ini entah dimana, lupa, bahwa supernova adalah ledakan. Ledakan tentang permasalahan yang timbul dan bagamaimana menyelesaikan masalah tersebut. Menurut saya, intisari novel IEP adalah pertemuan semua bintang atau tokoh dalam gugus untuk menyelesaikan masalah yang timbul sebelumnya. Setelah masalah selesai, harusnya nih harusnya ada cerita lagi. Kenapa saya berpikiran seperti itu, karena lagi-lagi, Dee mengakhiri IEP dengan ‘pas’, akhir yang tidak muluk-muluk dan (tetap) meninggalkan jejak seolah-olah akan ada sekuel yang setelah Supernova. Kalaupun nantinya ada keberlanjutan saya rasa judulnya bukan Supernova. Karena Supernova sudah selesai. We’ll see :)














