Hari itu saya cuma bisa banyak-banyak bertahmid. Setelah beberapa drama yang terjadi akibat pandemi akhirnya hajat ini terselenggarakan juga. Segenap rasa haru, lega, dan bahagia bertumpah-ruah hari itu, insyaallah sampai detik ini dan nanti.
Seperti kata orang-orang yang sudah lebih dahulu menikah, menjelang pernikahan itu ada saja ujiannya. Dan giliran kami, ujiannya adalah pandemi. Mau tak mau kami harus mengubah rencana, seperti tempat, waktu, dan daftar undangan yang harus dirampingkan seramping-rampingnya mengikuti protokol kesehatan. Insyaallah di lain waktu saya akan cerita tentang ini secara khusus.
Seorang teman sempat bertanya bagaimana rasanya menikah. Saya tak hendak menjawabnya sekarang, sebab umur pernikahan kami jangankan seumur jagung, seumur toge saja belum. Kami baru saja memulainya, gegabah rasanya jika kami sudah banyak-banyak bertestimoni. Maka doakan saja kami agar dapat belajar dan membuat hal-hal baik dalam pernikahan ini.
Pada kesempatan ini, kami ingin mengucapkan terima kasih kepada semua teman-teman yang sudah mengirimkan doa dan harapan. Meski tak bisa semuanya dibalas satu-satu, kami pun turut berdoa semoga keberkahan, kesehatan, dan petunjuk terus dilimpahkan untuk kita semua.













