Tiga Barang di Pulau Sunyi
✨ Kadang, dalam sepi kita baru tahu siapa diri kita. Dalam kesunyian, kita belajar apa arti memiliki, dan dalam kehilangan kita paham apa yang benar-benar penting.
Jika aku terdampar di sebuah pulau terpencil, tanpa hiruk pikuk kota, tanpa bising notifikasi, hanya ada laut yang luas dan pepohonan yang berbisik, aku akan memilih tiga barang untuk menemaniku.
Yang pertama adalah Al-Qur’an. Bukan sekadar buku, tapi cahaya, penuntun hati di tengah gelapnya kesendirian. Di pulau yang asing, ayat-ayatnya akan jadi teman bicara, jadi penenang jiwa, juga jadi pengingat bahwa meski sendiri, kita tak pernah benar-benar sepi.
Yang kedua adalah buku catatan dan pena. Karena aku ingin menuliskan setiap rasa, setiap hari, setiap detik perjalanan di pulau itu. Barangkali aku tak akan selamanya di sana, dan catatan itu akan jadi saksi bahwa aku pernah diuji, pernah bertahan, pernah berdialog dengan diriku sendiri tanpa distraksi dunia luar. Dan ketika kembali, aku siap menjadi bintang tamu di podcast-podcast, (colek kak isma hehe).
Yang ketiga adalah pisau serbaguna. Sederhana, tapi penting. Untuk bertahan, untuk membuka jalan, untuk memotong, memasak, untuk menjaga diri. Sebuah alat kecil yang bisa jadi penyelamat dalam banyak keadaan.
Mungkin ada yang bertanya, kenapa bukan ponsel atau teknologi canggih? Karena aku ingin belajar arti kehidupan yang paling dasar. Bahwa manusia bisa bertahan bukan karena layar bercahaya, tapi karena iman, akal, dan keberanian menghadapi sunyi. (ea, lagian di pulau sunyi ga ada sinyal :D). Atau kenapa bukan sesuatu untuk menyalakan api ? Karena alam memilikinya, api bisa kita hadirkan dari batu, kayu, atau lainnya.
✨ Dan bila suatu hari benar-benar terdampar, aku tak ingin hanya meninggalkan jejak kaki di tanah. Aku ingin meninggalkan jejak doa di langit, jejak tulisan di bumi, dan jejak keyakinan di dalam hati bahwa bahkan di pulau sunyi, hidup tetap bisa menjadi indah jua bermakna bahkan membawa kita ke Surga.
~Faa














