The Stranger The Better [#1]: Welcome Speech from Receptionist
It was 4 in the evening.
Aku menunggu lampu merah meredupkan nyalanya di seberang bangunan hijau. “Tik.. tik.. tik...” Bunyi rintik hujan berdendang di payungku. Lima detik ku melangkah, ku tutup payungku, ku geser pintu itu.
“Hello! Please welcome!”
Satu... tiga... lima... Dalam sedetik aku mencuri tatapan orang-orang di depanku. Ku sadari, kehadiranku berhasil mengalihkan dunia mereka.
Dengan segera aku melepas sepatuku, menaruh payung basahku di rak payung tepat di sampingku. Hampir semua yang ada di rak itu sama seperti payungku. Aku membelinya seharga 500 yen di convenience store di Nagoya.
Aku menaikkan kakiku ke anak tangga, lalu ku condongkan badanku ke “jendela” resepsionis hotel. Pemuda berkacamata menyambutku di balik “jendela” itu.
“Booking.comに予約しました [Booking.com ni yoyakushimashita] (I already reserved through Booking.com), the name is Fadlia Pari.” kataku.
Pemuda itu melayaniku sembari sibuk dengan laptopnya. “Oh Fadlia Pari? Wait! Do you know Gustan Pari?”
.......
How come........
“Oh what?!! Yaa! 父!私の父です![Chichi! Watashi no chichi desu!] (Father! He is my father!) How did you know him?”
Begitulah sambutan pertamaku di Jepang....
Aku dan dia bertukar senyum terkejut dengan mata heran.
Satu hari sebelum keberangkatanku ke Jepang, aku memberikan salinan itinerary-ku ke ayah. Lengkap dengan data hotel dan list belanjaku. Ayahku memegang itinerary yang sama dengan itinerary yang aku bawa. Supaya ayah tahu dimana aku tidur, siapa yang akan kutemui, tempat apa yang akan aku kunjungi, kendaraan apa yang akan aku tumpangi, apa yang aku lakukan di pagi hari hingga malam hari. Aku harap dia bisa dengan tenang melepasku pergi jalan-jalan ke Jepang seorang diri. Walaupun dalam hati kecilku aku tahu dia tidak begitu. Setidaknya pada detik ini. Di jam 4 sore ini...
Aku tidak memiliki akses internet selama di Jepang selain Wi-Fi penginapan dan Wi-Fi public place. Aku selalu mengabari kepada ayah ibuku melalui group WhatsApp tentang info terupdateku selagi aku dapat akses internet. Kebetulan destinasi pertamaku adalah Ise, aku butuh waktu lebih dari 6 jam untuk berpindah dari Tokyo, dimana pesawatku landing, ke Ise. Jam 5 pagi aku mengabari bahwa aku hendak pergi ke Ise. Selama di perjalanan aku sama sekali tidak memiliki akses internet. Tertera di dalam itinerary-ku sekitar jam 4 sore aku akan sampai di peginapan. And... Tepat jam 4 sore aku sampai di penginapan! Aku segera menghubungkan WiFi ke handphone-ku. Layar handphoneku penuh dengan notifikasi WhatsApp dan SMS ayah dan SMS dari XL memberitahu kalau pulsaku telah terisi. Aku membuka pesan-pesan dari ayah yang terus menanyakan kabarku. Semua pesan itu dikirimnya ketika aku masih di perjalanan. Isi pesan itu menanyakan kabar dan keberadaanku, lebih dari sekali. Setelah membaca pesan-pesan itu aku yakin kalau ayah lah yang mengisi pulsaku. Usaha ayah untuk mengetahui kondisiku saat itu tidak berhenti sampai di situ. Di siang hari itu juga ketika aku diperjalanan menuju Ise, ayah mengirim e-mail ke penginapan tempatku menginap di hari pertama, Ise Kazami Guest House di Ise. Isi e-mail itu menanyakan tentang kepastian apakah aku sudah sampai di penginapan atau belum. Namun sayang, ayah tidak mendapat informasi apa-apa siang itu. Pihak penginapan tidak membalas e-mail itu karena berhubungan dengan privasi tamu.
Kami bertukar senyum lega.
“Would you please to tell my dad that I already here now?” Aku meminta dengan tawa.
“Of course, I’d love to! 父が心配そうだと思います [Chichi ga sinpaisouda to omoimasu] (Aku pikir ayah kamu sepertinya khawatir), I will reply his email now.”
“And this is our WiFi password, now you can tell your dad too that you are here and still alive.” Balasnya dengan muka dan nada bicara yang ramah dan menenangkan.