Timur, Cahaya dan Harapanku
13 Januari, putraku lahir ke dunia. Aku tak mengadzankannya karena hal tersebut tak ada tuntunannya. Selain itu, aku juga mengikuti apa yang sudah menjadi fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah.
Nama anakku kuberi nama Timur Paramayuda. Aku berharap ia menjadi sebuah cahaya yang mencerahkan, untuk keluarga dan orang-orang di sekitarnya. Sebuah nama yang sebetulnya sudah kadung melekat kepadaku ketika menulis dengan nama samaran. Nama itu memang kupersiapkan untuk anakku kelak, agar ia mengetahui ada warisan tulisan yang pernah dibuat baba-nya.
Oiya, aku memilih dipanggil Baba. Kata Baba dalam bahasa Mandarin berartikan ayah. Entah mengapa aku lebih tertarik dengan kebudayaan tionghoa. Mulai dari masakan sampai dengan perkataan.
Sebetulnya dalam kehidupan masyarakat Betawi, serapan kata Mandarin begitu melekat (selain Arab tentunya). Sejak daerah ini bernama Batavia, percampuran etnis begitu terasa. Kawin-mawin antar etnis tak terbendung di Batavia, sehingga menghasilkan etnis baru bernama Betawi.
Oke, kembali ke Timur. Nama itu bukan serta merta aku berikan kepada anakku. Timur Paramayuda merupakan nama pilot Angkatan Udara Indonesia (AURI) yang kini menjadi TNI AU. Dalam buku Wisnu Djajengminardo, Kesaksian: Memoir Seorang Kelana Angkasa (terbitan 1997), dijelaskan bahwa Timur merupakan salah satu pilot pertama AURI yang sekolah di Taloa, Bakersfield, California, pada 1950-1952.
Timur, tulis Wisnu, digambarkan seorang pilot yang cerdas dan tampan. Ya, Paramayuda dalam bahasa Sangsekerta artinya cerdas. Lalu tampan. Timur digambarkan seperti Rock Hudson, superstar Hollywood pada masanya.
Sayangnya, nasib Timur tidakklah bagus. Ia gugur di setelah pesawatnya menabrak Gunung Sanggabuana pada 1953. Timur menjadi angkatan Taloa yang gugur pertama.
Namun, harapanku kepada anakku bukanlah soal gugur. Ada harapan yang kuagungkan kepada Timur Paramayuda anakku. Aku tentu berharapv anakku menjadi anak yang tampan dan juga cerdas. Lebih jauh dari itu, aku berharap Timur menjadi anak yang shalih dan menjalankan agama sesuai dengan tuntunan yang benar, tanpa mengurangi ibadah atau menambah-nambahkan ibadah atau sunnah.
Timur lahir di Rumah Sakit Islam Jakarta (RSIJ), Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Rumah sakit yang sama saat aku dilahirkan pada 7 Januari 1986. Timur lahir berkat berjuangan istriku, Fajriyah. Ia dengan hebat melahirkan Timur pada pukul 22.58 (atau 21.58). Aku menemaninya di kamar bersalin, menenangkan, dan bahkan rela dijambak-jambak agar ia bisa mengurangi rasa sakitnya.
Ketika Timur benar-benar lahir, aku menguncapkan "Sayangku, Timur sudah lahir ke dunia". Aku menahan tangis, meski dalam hati aku senang dan ingin menangis. Aku menjadi Baba malam itu.
Mamaku menemani persalinan. Ia melihat pertama kalinya Timur hadir di Dunia. Mamaku pula yang menemani istriku di kamar usai melahirkan. Sebagai lelaki, aku ingin mamaku bisa merawat istriku dan Timur sejak lahir. Namun Timur akan lebih dahulu diurus Umi-ku, ibu dari istriku.
Setelah sehari menginap di rumah sakit, istriku diperbolehkan pulang. Aku mengurus segala administrasi Timur dan juga mamanya. Aku ingin semua berjalan dengan baik, secara adminstrasi, seperti akta ataupun Kartu Identitas Anak.
Istriku dan Timur pulang ke daerah yang memiliki arti ‘Sungai Landak’ secara harafiah. Aku pulang ke Apartemen Green, rumahku. Aku memilih pulang ke apartemen karena ada pesan dari mamaku, bahwa rumah jangan sampai dikosongkan dalam waktu lama.
Timur rencananya ada di Sungai Landak selama 40 hari. Itu hari yang lama bagiku untuk bisa ikut mengurus Timur sebagai seorang Baba baru. Jauh dalam lubuk hatiku, aku ingin Timur diasuh oleh mamaku. Kenapa? Aku adalah anak tunggal lelaki dan tanggung jawabku masih ada di orang tuaku dan sudah pasti keluarga kecilku.
Aku ingin mengulang masa kecilku dalam diri Timur. Terlihat egois memang, tapi ini juga untuk menyenangkan hati mama yang sudah tua. Tapi, aku juga harus paham, bahwa ini anak pertama dan istriku lebih percaya kepada Umi-nya, dan itu hal yang wajar.
Cerita ini akan berlanjut. Memang tidak ada yang spesial dari cerita ini, akan tetapi ini menjadi sarana diriku untuk mengeluarkan isi hati yang tak bisa dikeluarkan di dunia nyata.
Aku merupakan penulis. Tentu, aku berharap goresan ini bisa abadi dibaca oleh Timur, oleh keturuananku kelak.
Bersambung....












